1.900 Km Tol Era Jokowi, Ini Potensi Ekonomi dan Pariwisata Ruas Binjai-Stabat

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 19 Apr 2022 18:57 WIB
Ruas Tol Binjai-Stabat 11,8 kilometer yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Ruas Tol Binjai-Stabat 11,8 kilometer yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Foto: Dok. PT Hutama Karya (Persero)

Potensi Pariwisata

Tokoh muda NU dari wilayah Sumatera Utara ini juga menguraikan dampak positif pembangunan tol Trans Sumatera terhadap potensi pariwisata di sekitar kawasan tersebut antara lain Kampung Basilam di wilayah Langkat Sumatera Utara. Kampung ini ramai dikunjungi ribuan wisatawan baik lokal maupun mancanegara tiap tahunnya, karena adanya makam Syekh Abdul Wahab Rokan al-Khalidi an-Naqryabandi atau disebut juga sebagai Tuan Guru Babussalam. Beliau merupakan guru dari tarekat Naqsyabandiyah yang banyak memiliki pengikut, mulai dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam hingga Arab Saudi.

"Akses yang semakin mudah lewat jalan tol Binjai - Stabat akan meningkatkan minat wisatawan religi berkunjung ke Langkat," ungkapnya.

Di luar wisata rohani, ada juga wisata alam potensial seperti Bukit Lawang yang terletak di pinggiran Taman Nasional Gunung Leuser dan kawasan Tangkahan yang menjanjikan pengalaman baru berinteraksi dengan gajah-gajah yang sudah dikonservasi. Dengan akses via jalan tol yang semakin mudah, Pemda masing-masing kawasan memiliki dua jalur utama yakni jalan lintas Provinsi yang kelak bisa diakses dengan mudah lewat integrasi BRT dan jalan tol yang bisa diakses rombongan wisata skala besar.

Investasi Infrastruktur

Secara keseluruhan, lanjut Arif, fokus pemerintahan Jokowi di bidang infrastruktur berkaca pada pembangunan di berbagai negara yang telah teruji. Arif lalu mengutip ekonom Inggris Maynard Keynes yang menyebutkan bahwa investasi yang paling penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi adalah investasi di bidang infrastruktur. Karena bukan saja menciptakan lapangan pekerjaan baru dan berputarnya roda bisnis bagi para supplier material jalan, pembangunan infrastruktur juga menciptakan kelancaran arus hilir mudik logistik antarwilayah.

"Ditekannya ongkos logistik tentu akan berpengaruh ke harga komoditi, yang pada akhirnya meningkatkan roda perekonomian warga," ujarnya.

Sebagai contoh, lanjut dia, salah satu negara yang ambisius dalam investasi infrastruktur adalah Tiongkok. Di tahun 2019 saja sudah ada 200.000 km jalan tol tersambung di negeri tirai bambu ini. Pembangunan tersebut terbukti mampu melancarkan keran pertumbuhan ekonomi salah satu negara adidaya tersebut. Indonesia sendiri baru memiliki 2.345 km jalan tol di tahun 2020.

"Karena itu langkah Presiden menggenjot pembangunan tol Trans Sumatera merupakan bagian dari upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa," terangnya.


(ang/hns)