Pemerintah berencana menggarap proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall (GSW). Proyek ini akan membentang sekitar 500 kilometer (km) sepanjang pesisir pantai utara (pantura) Jawa, tepatnya dari Tangerang sampai Gresik.
Hal ini diungkapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam acara International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Proyek Giant Sea Wall diperkirakan menelan biaya mencapai US$ 80 miliar. Jika memakai kurs saat ini Rp 16.904/US$, proyek Giant Sea Wall menelan biaya sekitar Rp 1.352 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proyek ini menyangkut jarak yang tidak pendek. Kalau tidak salah sekitar 500 km dari Banten sampai ke Jawa Timur, ke Gresik. Panjang 500 km dan perkiraan biaya yang dibutuhkan US$ 80 miliar," ujar Prabowo.
Dengan nilai proyek yang begitu besar, dari mana sumber dana pembangunan Giant Sea Wall tersebut?
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjelaskan saat ini pemerintah melalui Badan Otorita Perlindungan Pantura Jawa tengah mematangkan rancangan teknis proyek Giant Sea Wall bersamaan dengan pematangan konsep pembiayaannya.
"Sudah ada sejumlah rancangan yang terus disempurnakan, ditambah juga dengan kurang lebih konsep pembiayaannya seperti apa," katanya usai bertemu dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
AHY pun menjelaskan sumber biaya proyek Giant Sea Wall. Pertama, dari APBN dan APBD
"Secara umum tentu ada yang merupakan ataupun sumber penganggaran APBN atau pemerintah ya, pemerintah tentu APBN dan APBD. Karena nanti akan melibatkan sejumlah provinsi dan juga kabupaten kota," katanya.
Kedua, investasi swasta, yaitu Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership (PPP).
"Tentunya khusus terkait dengan investasi, yaitu kita ingin mendatangkan sebanyak-banyak investasi untuk bisa melengkapi dan memperkuat pembiayaan," terang AHY.
Dalam pembangunannya nanti, AHY menjelaskan bahwa proyek Giant Sea Wall tidak sebatas membangun tembok saja. Ia mengatakan proyek ini akan terintegrasi dengan pengembangan konektivitas antarwilayah, serta pemanfaatan kawasan melalui konsep land value capture.
"Kemudian kita gunakan untuk kepentingan ekonomi, bisnis, komersial dan lain sebagainya. Jadi kita pastikan ini menjaga lingkungan tapi dengan secara-secara sekaligus kita juga berupaya untuk meningkatkan nilai ekonomi pantura," ujar AHY.
Lihat juga Video 'Pidato di Sidang PBB, Prabowo Ungkap Rencana Bangun Giant Sea Wall':
(hrp/hns)










































