Titik Awal Pembangunan Tanggul Raksasa Pantura: Teluk Jakarta dan Semarang

Titik Awal Pembangunan Tanggul Raksasa Pantura: Teluk Jakarta dan Semarang

Retno Ayuningrum - detikFinance
Senin, 09 Feb 2026 13:24 WIB
Titik Awal Pembangunan Tanggul Raksasa Pantura: Teluk Jakarta dan Semarang
Ilustrasi/Sejumlah pekerja mengerjakan proyek Tanggul Laut Tahap 5 di kawasan Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pemerintah telah melakukan studi untuk pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GWS) di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara (Pantura) Jawa Didit Herdiawan Ashaf mengatakan dua titik awal pembangunan tanggul laut raksasa.

Didit menyebut dua titik yang dipilih, yakni Teluk Jakarta dan Semarang dan sekitarnya. Pemilihan ini dilakukan secara simultan mengingat kondisi kedua wilayah tersebut yang sudah mengkhawatirkan akibat kenaikan permukaan air laut.

"Untuk tahap awal, sebagai informasi, untuk tahap awal, kami sudah melakukan studi di Teluk Jakarta dan Jawa Tengah, khususnya yang tadi Pekalongan, daerah Pekalongan, Kendal, Brebes, Semarang, Tergal, Sayung, sampai ke Jawa Tengah, ke daerah Grobogan," ujar Didit dalam acara Penguatan Penataan Ruang Wilayah, di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Didit mengatakan, Semarang telah terendam akibat banjir rob, akibatnya genangan tersebut mengancam operasional fasilitas vital, seperti bandara. Tak hanya Semarang, ia juga menyoroti kondisi di wilayah lain seperti Pekalongan yang menurutnya sudah mulai tenggelam.

ADVERTISEMENT

"Nah, dengan kondisi seperti itu, maka yang dijadikan percontohan untuk pembangunan awal adalah Teluk Jakarta dan daerah Semarang dan sekitarnya. Itu Pekalongan sudah tenggelam, dan betul lagi, Semarang hari ini sudah rob juga, 7 cm sampai 9 cm kalau ada hujan, sehingga lapangan terbang Semarang itu kalau tidak dipompa, tidak bisa berfungsi dengan baik," imbuh Didit.

Didit menegaskan perintah Presiden Prabowo Subianto bukan hanya sekadar membangun dinding beton atau sea wall di tengah laut. Proyek ini merupakan misi besar untuk menyelamatkan peradaban di Pulau Jawa.

"Bahwa kebijakan Bapak Prabowo adalah melindungi Pantura Jawa, bukan hanya membangun konkret atau beton di tengah laut atau wall di tengah laut, bukan, tapi melindungi peradaban yang sudah ada di Pulau Jawa mulai abad pertama sampai hari ini. Dengan kondisi seperti ini, maka program ini bisa dipastikan dapat dijalankan," tutur Didit.

Ia mengibaratkan proyek ini sebagai sebuah heritage atau warisan bangsa yang harus bertahan hingga ratusan tahun ke depan. Didit meyakini Indonesia bisa mengatasi masalah ini dengan belajar dari negara yang berhasil dengan kondisi serupa, seperti Belanda.

"Karena kita lihat sendiri kondisi di Belanda, di bawah garis laut, tapi mereka bisa hidup tenang dan bahkan menghasilkan sayur mayur sampai hari ini," tambah ia.

Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL melaksanakan survei Hidro-Oseanografi di Teluk Jakarta dan perairan Semarang. Survei ini penting karena untuk mendukung perencanaan desain pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall Pantai Utara Jawa.

Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kartika Listriana menyebutkan hasil survei Hidro-Oseanografi di Teluk Jakarta dan Perairan Semarang menjadi bagian penting dalam mendukung perencanaan desain pembangunan tanggul laut Pantai Utara Jawa.

Survei tersebut akan digunakan oleh Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa. Tak hanya itu, KKP juga akan memanfaatkan hasil survei tersebut untuk penataan serta pengembangan kawasan pesisir dan kota-kota pesisir di pantura.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads