Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 20 Okt 2016 21:20 WIB

BI: Waspada! Ada Penipuan Berkedok Bantuan Penyelesaian Kredit Macet

Arbi Anugrah - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Purwokerto - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto, Randan Denny Prakoso, meminta masyarakat waspada dan berhati-hati terhadap penipuan berupa janji penyelesaian kredit macet dan ajakan untuk tidak membayar utang ke bank, perusahaan pembiayaan maupun lembaga jasa keuangan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Kami mendapat informasi bahwa di Sumpiuh pada awal Oktober sudah mulai ada modus penipuan atas nama BI, sebenarnya modus ini sudah terjadi di beberapa daerah di Indonesia seperti di Palu, Cirebon, Lampung, Samarinda. Saat ini kita terus mengamati bagaimana perkembangannya di Banyumas," katanya kepada wartawan, Kamis (20/10/2016).

Menurut dia, perusahaan atau lembaga tersebut biasa mencari korban yang terlibat kredit macet dan menjanjikan akan menyelesaikan masalah utangnya.

"Jadi rupanya mereka sudah survei, di daerah mana saja yang banyak terkena kredit macet," jelasnya.

Pelunasan utang tersebut dilakukan dengan jaminan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau surat berharga lainnya yang salah satunya dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

"Sejak tahun 2000 itu BI menyimpan SBI ke dalam catatan elektronik BI. Lalu, SBI itu berlakunya hanya 1 tahun. Jadi kalau zaman sekarang ada orang bilang punya SBI itu kebohongannya dua, pertama SBI tidak lagi diterbitkan dalam bentuk kertas. Kedua, tahunnya maksimal satu tahun," ujarnya.

Agar utangnya dapat dilunasi, perusahaan tersebut biasanya meminta korban untuk membayarkan sejumlah uang pendaftaran untuk menjadi anggota kelompok atau badan hukum tertentu.

"Uang pendaftaran tergantung besarnya kredit macet mereka. Biasanya kalau kredit macetnya kecil ya sekitar Rp 500.000. Kalau kredit macetnya besar, uang pendaftarannya bisa sampai Rp 5.000.000," ujarnya.

Dan biasanya untuk melancarkan aksinya, mereka mengaku jika utang rakyat Indonesia sudah dilunasi melalui pembayaran non tunai kepada Bank Indonesia.

"Bagaimana caranya (melunasi utang rakyat Indonesia), nah makanya kami mengimbau bahwa hal tersebut tidak benar dan merupakan penyalahgunan nama BI oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk keuntungan dan kepentingan pribadi," tuturnya.

"Karena kalau sudah bicara ada uang pendaftaran, ini harus dicurigai, uang pendaftaran dibayar apakah nanti hutang dilunasi. Belum tentu dan rasanya tidak," ujarnya.

Kemudian terkait SBI yang diduga dikeluarkan oleh BI, semua surat tersebut adalah palsu. Maka dari itu BI tidak bertanggung jawab terhadap pihak-pihak yang dirugikan berkaitan dengan hal tersebut.

"Walaupun tidak bertanggung jawab, tapi kita punya kewajiban untuk mengingatkan," katanya.

Maka, untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan, apabila ada pihak-pihak yang mendapatkan tersebut agar dapat mengkonfirmasi ke Kantor Perwakilan BI Purwokerto (arb/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com