Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Jul 2017 14:12 WIB

Benarkah Rupiah Baru Sulit Ditukar di Luar Negeri?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Maikel Jefriando Foto: Maikel Jefriando
Jakarta - Kabar lainnya yang beredar di masyarakat soal rupiah baru adalah mengenai sulitnya uang tersebut untuk ditukar di luar negeri. Berbagai spekulasi kemudian muncul, mulai dari karena adanya bubuhan tanda tangan pemerintah dalam fisik uang NKRI dan sebagainya.

Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara menjelaskan, sulitnya uang rupiah untuk ditukarkan di luar negeri bisa saja terjadi, mengingat Bank Indonesia (BI) tidak memiliki wewenang untuk mengatur mengenai penggunaan rupiah di luar wilayah NKRI.

"Tidak perlu heran. Uang rupiah adalah uang yang berlaku di RI," katanya saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Indonesia sebagai negara berkembang yang penggunaan mata uangnya hanya bisa berlaku di dalam negeri saja pun bukan berarti menimbulkan kecurigaan dari adanya ketidakpercayaan dari negara lain.

Hal tersebut murni tergantung dari kebutuhan negara di mana tempat uang tersebut ditukar terhadap mata uang yang ditukar.

"Sama saja kalau kita datang ke money changer di Jakarta, bawa uang Peru atau Argentina, bisa enggak diterima? Ya enggak. Karena mereka tidak merasa membutuhkan. Jadi tergantung kebutuhan. Jadi kalau ada orang menukar uang di money changer di suatu negara kemudian tidak diterima, itu bukan suatu keanehan," jelas Mirza.

"Bahkan untuk non tunai, kita ada aturan non internasionalisasi rupiah. Artinya kita tidak ingin uang kita dispekulasikan di luar negeri. Jadi bukan sesuatu yang aneh, dan kemudian jadi malu," sambungnya.
Di dalam UU tentang mata uang, sebagai salah satu simbol kedaulatan negara, Rupiah memang wajib digunakan dalam setiap transaksi di dalam wilayah NKRI. Namun demikian, BI akan terus berkoordinasi dengan lembaga-lembaga terkait dalam sosialisasi uang Rupiah Tahun Emisi 2016 hingga ke luar wilayah NKRI.

"Jadi sebelum copy paste, ayo kita berpikir dulu. Jangan menyebar isu yang tidak benar. Kan ini negara kita sendiri. Makanya masyarakat sebelum copy paste tanya ke ahlinya dan berpikir jernih," tukas Mirza. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed