Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 07 Okt 2010 08:30 WIB

Updated

Lulus Ujian di BI di 2003, Mochtar Riady Diizinkan Punya Bank Lagi

- detikFinance
Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah mengizinkan pemilik Grup Lippo Mochtar Riady untuk kembali memiliki bank yaitu Bank Nationalnobu atau Bank Nobu. BI mengakui Mochtar lulus bersyarat dari uji kepatutan dan kelayakan yang diadakan BI untuk seluruh bankir pada tahun 2003.

Demikian disampaikan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah kepada detikFinance, Rabu (6/10/2010).

"Mochtar Riady termasuk bankir yang lulus bersyarat ketika BI mengadakan fit and proper test kepada seluruh bankir di tahun 2003," ujarnya.

Namun Difi menekankan, Mochtar Riady tidak pernah masuk dalam Daftar Orang Tercela (DOT) yang pernah dibuat BI di era krisis tahun 1997/1998. Klarifikasi ini diberikan menanggapi berita sebelumnya yang menuliskan Mochtar pernah masuk dalam DOT.


Difi menceritakan, DOT merupakan istilah yang digunakan BI saat terjadi krisis pada 1997/1998 untuk membuat daftar hitam (blacklist) bankir-bankir nakal. Pada saat krisis itulah ada sekitar 400 bankir yang ternyata masuk ke dalam DOT tersebut. Ini dilakukan karena penyelamatan perbankan saat itu menelan biaya triliunan rupiah.

DOT ini dibuat sesuai Surat Keputusan (SK) Direksi Bank Indonesia (BI) No. 7/118/KEP/DIR tanggal 25 Januari 1995. Bankir-bankir tadi masuk ke dalam DOT karena praktik penyelewenangan perbankan dan terlibat BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).

"Ke depannya BI ingin mengisi perbankan dengan bankir-bankir yang bertanggung jawab, jadi BI selektif memilih bankir-bankir, jangan sampai orang-orang lama masuk," jelasnya.

Lalu pada tahun 2003, BI mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 5/25/PBI/2003 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test). "Jadi seluruh bankir di Indonesia itu harus melakukan fit and proper test, jika dia lulus maka dia tak masuk DOT lagi. Dalam fit and proper test ada 3 hasilnya yaitu lulus, lulus bersyarat, dan tidak lulus," jelas Difi.

Namun hampir semua yang masuk DOT ini tak mungkin lulus fit and proper test. Karena predikat DOT itu akan disandang para bankir nakal ini selama 20 tahun. "Dalam ketentuan BI tersebut di pasal 59 disebutkan semua yang masuk DOT tidak akan lulus fit and proper test dalam jangka waktu 20 tahun. Karena itu bankir-bankir ini tak akan masuk ke perbankan lagi karena sudah termakan usia," jelasnya.

Nah, lanjut Difi, salah satu bankir yang masuk DOT adalah Mochtar Riady. Namun dalam fit and proper test dia dinyatakan lulus bersyarat. BI memberikan waktu 4 tahun agar Mochtar tak berkecimpung di dunia perbankan. Setelah 4 tahun dia bebas, demikian juga dengan Sinarmas.

Karena itu, saat ini Mochtar Riady diizinkan oleh BI untuk membeli Bank Nobu. Sehingga Mochtar bisa kembali bermain di dunia industri perbankan dalam negeri.

Sebagai informasi, pada tahun 1999, Mochtar Riady yang memiliki Bank Lippo terpaksa harus melepaskan kepemilikan saham mayoritas di tersebut kepada pemerintah terkait dengan rekapitulasi aset bank bermasalah.

Pemerintah harus menggelontorkan dana Rp 6 triliun untuk menyehatkan bank itu sehingga selanjutnya menguasai 59% saham bank tersebut. BPPN selanjutnya melakukan divestasi yang dimenangkan konsorsium Swissasia Global dengan nilai Rp 1,25 triliun. Namun selanjutnya Swissasia melepas kepemilikannya di Bank Lippo kepada Khazanah Berhard, Malaysia senilai US$ 350 juta.

Namun seiring kebijakan kepemilikan tunggal (Single Presence Policy), Khazanah yang juga memiliki Bank Niaga akhirnya melebur kedua bank tersebut menjadi Bank CIMB Niaga.

Sementara Sinarmas dulunya pernah memiliki Bank Internasional Indonesia (BII). Kini Sinarmas diberikan lagi izin oleh BI untuk mengelola Bank Shinta yang menjelma menjadi Bank Sinarmas.

(dnl/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed