Follow detikFinance
Kamis 16 Nov 2017, 18:58 WIB

Di Bawah Target, BI Proyeksi Ekonomi RI 2017 Tumbuh 5,1%

- detikFinance
Di Bawah Target, BI Proyeksi Ekonomi RI 2017 Tumbuh 5,1% Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1% di 2017. Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dari asumsi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar 5,2%.

"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 2017 sekitar 5,1% dan akan meningkat lebih tinggi pada kisaran 5,1%-5,5% pada 2018," ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo, Kamis (16/11/2017).

Hal ini mengacu pada realisasi kuartal III-2017, yang tumbuh 5,06% atau meningkat dibandingkan dua kuartal sebelumnya yang masing-masing sebesar 5,01% (yoy). Agus menjelaskan, membaiknya pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2017 tersebut diikuti dengan struktur yang lebih berimbang seiring dengan meningkatnya kinerja ekspor dan investasi, baik pemerintah maupun swasta.

Perbaikan kinerja ekspor terutama dipengaruhi oleh membaiknya harga komoditas seperti minyak sawit dan batubara, serta meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

Investasi tumbuh meningkat mencapai level tertinggi sejak kuartal II-2013 didukung oleh investasi bangunan dan non bangunan. Di sisi lain, kinerja konsumsi pemerintah membaik sejalan dengan meningkatnya pengeluaran pemerintah, sementara konsumsi rumah tangga masih tertahan.

"Kita menyambut baik investasi, ekspor dan impor. Impor juga meningkat menunjukkan propspek ekonomi Indonesia sudah semakin baik dan kita yakini konsumsi perlu lebih baik karena isu ini adalah area yang perlu lebih baik ke depan," paparnya.

Dilihat secara sektoral, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh industri pengolahan dan perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) yang memiliki kontribusi besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi di Sumatera, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi meningkat terutama didorong oleh akselerasi sektor konstruksi dan industri pengolahan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Papua melambat disebabkan, antara lain, produksi pertambangan yang masih terbatas. (Sylke Febrina Laucereno/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed