Follow detikFinance
Kamis 23 Nov 2017, 20:30 WIB

Oktober 2017, Penyaluran Kredit Naik Jadi 8,18%

Puti Aini Yasmin, Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Oktober 2017, Penyaluran Kredit Naik Jadi 8,18% Pertumbuhan Kredit (Foto: Zaki Alfarabi)
Jakarta - Pertumbuhan kredit perbankan nasional periode Oktober 2017 meningkat dibandingkan periode bulan sebelumnya. Tercatat pada bulan Oktober naik menjadi 8,18% dari sebelumnya 7,8%.

"Pertumbuhan sekitar 8,18% (yoy)," kata ketua Dewan Otoritas Jasa Keungan (OJK), Wimboh Santoso di Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Lebih lanjut, Wimboh menjelaskan kenaikan tersebut terjadi berkat dukungan seluruh faktor khususnya sektor infrastuktur.

"Sebenarnya merata tapi masih lebih banyak karena kredit infrastuktutur," jelas Wimboh.

Untuk proyeksi akhir tahun ia berharap pertumbuhan kredit bisa naik mendekati rencana bisnis bank, yaitu 11,8%. Walaupun sebelumnya sempat menargetkan hanya tumbuh di angka 9%.

"Kalau saya sih optimistis ya mendekati rencana bisnis sebesar 11,8 persen. Mudah-mudahan. Kemarin kan September masih pesimis, ternyata di Oktober melonjak dari 7 ke 8,18 persen. Siapa tahu nanti di data November mendekati 10 persenan," ucapnya.

Ia juga mengatakan pertumbuhan dari 8,18% hingga mencapai proyeksi 11,8% mungkin tidak terlalu signifikan. Namun ia yakin bahwa akan ada pertumbuhan hingga akhir Desember.

Wimboh pun membandingkan dengan data kredit bulan September dan Oktober yang mengalami peningkatan. Sehingga ia berharap adanya peningkatan berulang hingga akhir tahun.

"Mudah-mudahan nanti di akhir Desember nanti (ada pertumbuhan). Ya mungkin tidak terlalu signifikan tapi ada pertumbuhannya sampai akhir Desember. Tapi kalau dilihat Oktober ini, dibandingkan September kan jauh juga kan. September masih 7 persenan, kalau sekarang sudah 8,18%. Kami harapkan masih bisa mendekati rencana bisnis. Ini kan masih data Oktober, belum yang November. Masih ada dua bulan lah," jelasnya.

Lantas, terkait dengan proyeksi Bank Indonesia mengenai kredit yang turun, Wimboh mengatakan bahwa perkiraanya menggunakan antara. Artinya proyeksi berada di antara 8% sampai 11%.

"Kalau pakai antara, ya saya juga bisa bilang antara 8% -11%. Tapi kan sekarang sudah 8%, jadi kalau 9% sih ya lewat lah, pasti. Kan masih ada November- Desember, datanya kita belum tahu," tuturnya.

Pertumbuhan kredit 2018

Di tahun depan, ia mengharapkan penyaluran kredit tahun depan akan lebih baik. Diproyeksi bisa tumbuh 12%.

"Kampanye Pilkada tahun depan diharapkan bisa mendorong pertumbuhan kredit, dan ekonomi mudah-mudahan bisa membaik. Pertumbuhan kreditnya sekitar 12% lah," kata Wimboh.

Wimboh mengungkapkan, faktor pilkada tersebut diproyeksi bisa mendorong aktifitas masyarakat dan korporasi sehingga bisa mendorong pertumbuhan yang lebih baik.

Menurut Wimboh, OJK juga akan mendorong bank agar bisa menurunkan bunga kredit.

"Ya suku bunga kredit akan kita dorong agar terus turun, karena kan bunga acuan BI 7 days repo rate nya sudah turun dan berada di bawah 6%," imbuh dia.

Dia mengatakan, penurunan bunga kredit memang akan terjadi secara bertahap. Pasalnya dalam perhitungan bunga ada mekanisme khusus yang tidak bisa dibarengi dengan penurunan suku bunga dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan di perbankan.

Dari data uang beredar Bank Indonesia (BI) suku bunga kredit secara rata-rata per September tercatat 2017 masih double digit yakni 11,6%. Menurun 3 basis poin (bps) dibandingkan periode bulan sebelumnya 11,69%. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed