Follow detikFinance
Kamis, 14 Des 2017 18:10 WIB

Tahan Suku Bunga Acuan di 4,25%, Begini Penjelasan BI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) tetap menahan suku bunga acuan meskipun Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25-1,5%. Sekarang BI 7 Days Reverse Repo Rate tetap di level 4,25%.

Apa alasannya?

"Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik," ungkap Asisten Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Kantor Pusat BI, Kamis (14/12/2017).

Posisi 4,25% kata Dody juga masih mampu untuk mendorong pemulihan ekonomi domestik di tengah stabilitas makroekonomi yang semakin baik. Dalam kurun waktu setahun terakhir, BI telah berulang kali menurunkan suku bunga acuan.

BI juga tetap mewaspadai risiko, baik yang bersumber dari global terkait normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan risiko geopolitik, maupun dari dalam negeri terutama terkait konsolidasi korporasi yang terus berlanjut dan intermediasi perbankan yang belum kuat.

"Bank Indonesia akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung," jelasnya.

Koordinasi dengan pemerintah, menurut Dody akan terus diperkuat untuk menciptakan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

"Bank Indonesia memandang bahwa di tengah berlangsungnya perbaikan ekonomi global dan terjaganya stabilitas perekonomian domestik terbuka peluang untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih kuat dan berkelanjutan melalui penguatan pelaksanaan reformasi struktural," terang Dody.

Terkait dengan kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 25 bps, Dody mengaku sudah sesuai dengan proyeksi BI. Sehingga perkiraan BI terhadap kondisi perekonomian ke depan tidak ada perubahan.

"Ke depan, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan tetap tinggi disertai dengan harga komoditas dan volume perdagangan yang tetap kuat. Namun demikian, sejumlah risiko terhadap perekonomian global tetap perlu diwaspadai, antara lain normalisasi kebijakan moneter di beberapa negara maju dan faktor geopolitik," pungkasnya. (mkj/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed