Follow detikFinance
Kamis, 03 Mei 2018 13:53 WIB

Sudah 3,5 Juta Kartu Debit BRI Pakai Chip untuk Cegah Skimming

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Masih ingat beberapa bulan lalu sejumlah nasabah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menjadi korban pembobolan rekening? Kasus ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia salah satunya di Kediri.

Direktur Utama BRI Suprajarto menjelaskan kasus skimming yang terjadi di BRI juga terjadi pada bank lain.

"Awalnya muncul di Kediri, kebetulan pegawai banknya tidak siap menghadapi media. Sehingga yang disampaikan agak kurang pas, makanya jadi viral," kata Suprajarto dalam konferensi pers di Gedung BRI, Jakarta, Kamis (3/5/2018).

Dia mengungkapkan, kasus tersebut terjadi karena jumlah nasabah BRI sangat besar. Kemudian jumlah mesin ATM yang tersebar sangat banyak. Sehingga potensi terkena skimming juga lebih besar, karena mesin tersebut berada di wilayah yang remote dan jauh dari pengawasan.

"Sesungguhnya skimming tidak hanya terjadi di BRI, tapi bank juga mengalami hal serupa. ATM dan jumlah nasabah kita kan banyak, jadi kita memang berpotensi kena hit yang lebih besar. Kita sekarang upayakan peningkatan pengawasan," ujar Suprajarto.

Dia menjelaskan, kasus skimming yang terjadi di Indonesia tak lepas dari peran sindikat skimming internasional. Ada kelompok-kelompok yang bekerja sesuai fungsinya. Untuk WNI biasanya bergerak untuk memasukan alat skimming ke mesin ATM sedangkan WNA bertugas untuk melakukan penarikan dana menggunakan teknologi.

BRI ganti kartu debit jadi pakai chip

Suprajarto menjelaskan, untuk meningkatkan keamanan transaksi nasabah. Perseroan berupaya untuk melakukan migrasi kartu debit berteknologi magnetic stripe ke kartu debit berteknologi chip.

Saat ini jumlah kartu debit BRI tercatat 70 juta keping dan yang sudah migrasi ke chip sebesar 5% atau sekitar 3,5 juta kartu.

"Nah kalau dibandingkan dengan bank lain memang pemasangan chip tidak secepat mereka, kartu kami jumlahnya banyak. Tapi kami akan lakukan dengan segera," imbuh dia.

Dia menjelaskan, untuk pembuatan chip juga bersamaan dengan bank lain yang memesan chip. Hampir seluruh bank melakukan pemesanan. Namun, pihak pembuat chip tidak bisa menaikan kapasitas produksi, sehingga dbutuhkan tahapan untuk proses penggantian ini.

Direktur BRI Indra Utoyo menjelaskan BRI saat ini melakukan langkah preventif untuk pengamanan sistem bank dengan pemasangan anti skimming. Tahun ini BRI menargetkan bisa mengganti 30% kartu debit ke chip dengan sisa waktu 8 bulan diharapkan target bisa tercapai.

Kemudian Indra juga menjelaskan BRI meningkatkan sistem anti fraud dengan big data yang bisa mencegah kejadian lebih awal. Selain itu BRI juga bekerja sama dengan bank lain, penegak hukum, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed