Follow detikFinance
Kamis, 12 Jul 2018 17:36 WIB

Dolar AS Mengamuk Lagi, Bos BCA: Karena Pengaruh Global

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah Foto: Selfie Miftahul Jannah
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menunjukkan keperkasaannya. Pagi ini, mata uang negeri Paman Sam itu kembali menguat ke level Rp 14.435.

Pengusatan dolar kali ini adalah yang tertinggi tahun ini. Apa penyebabnya?

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menjelaskan tekanan terhadap nilai tukar terjadi karena faktor eksternal.


"Kalau hari ini (penguatan dolar) karena pengaruh global. Karena Yen juga melemah," kata Jahja saat dihubungi, Kamis (12/7/2018).

Saat ini kondisi global memang dipengaruhi oleh ekspetasi pasar atas kenaikan bunga The Federal Reserve (The Fed) dan normalisasi kebijakan.

Menurut Jahja setiap kenaikan Fed Fund Rate 0,25% jika diimbangi bunga acuan BI 0,25% tidak akan cocok. BI harus menaikkan lebih tinggi dari bank sentral AS.


"Jadi kalau Amerika menaikkan FFR lagi 25 bps di September, terus Desember 25 bps lagi kalau Indonesia tidak naik (bunga) ya susah," ujarnya.

Kenaikan bunga juga dilakukan untuk menenangkan kurs rupiah dan menjaga keseimbangan. Menurut dia, kenaikan bunga acuan adalah pilihan. Jika bunga tak naik maka kurs akan tertekan, kalau bunga kan tidak semua orang memiliki kredit.

Dia menambahkan, jika kurs yang terganggu maka akan mempengaruhi harga minyak, ongkos produksi, bahan baku dan dampaknya merata. "Dampaknya ini lebih bahaya daripada hanya naik bunga. Memang konsekuensinya kalau bunga naik, permintaan pasti turun," jelas dia. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed