Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 11 Okt 2018 16:25 WIB

Bicara soal Fintech, Jokowi: Kita Sikapi dengan Aturan yang Ringan

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Dok. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal/wsj/2018 Foto: Dok. ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal/wsj/2018
Nusa Dua - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta dunia agar membuat regulasi mengenai internet dengan hati-hati dan memperhatikan kepentingan konsumen.

Hal itu diungkapkan saat menjadi pembicara kunci di acara Bali Fintech Agenda IMF-WB 2018 di Bali, Kamis (11/10/2018).

"Kita tidak boleh terburu-buru meregulasi ini tapi biarkan inovasi ini tumbuh terlebih dahulu. Kita harus menyikapi gelombang inovasi dengan aturan yang ringan dan save harbour," kata Jokowi.

Dalam kesempatan itu, hadir pula Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, dan Gubernur Bank Sentral Inggris.


Jokowi menyebutkan pengaturan internet paling ramah dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton, karena aturan tersebut mencegah intervensi pemerintah yang berlebihan. Peraturan itu memberikan kepercayaan diri para inovator di bidang internet tanpa harus takut apabila eksperimen gagal. Hasilnya adalah inovasi tidak hanya menciptakan kesejahteraan tapi juga landasan modern internet saat ini.

Oleh karena itu, Jokowi juga melihat apabila regulasi terlalu ketat dan menciptakan sistem yang tertutup, akan menyebabkan kegiatan ekonomi menjauh dari ekonomi siber.

"Kita harus mendorong terciptanya standar dan keterbukaan global," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perkembangan pesat di sektor teknologi keuangan tidak menciptakan disrupsi yang mengganggu ekonomi dan tatanan sosial.

"Bali Fintech Agenda akan membantu negara di dunia membuat kerangka kebijakan agar teknologi keuangan dapat melindungi konsumen dan tidak mengancam stabilitas keuangan," kata Sri Mulyani.


Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan, ada 12 elemen dalam Bali Fintech Agenda yang bisa membantu negara menciptakan dampak positif pada perekonomian dunia dengan panduan yang dikeluarkan IMF bersama-sama Bank Dunia itu.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan bahwa Bali Fintech Agenda akan membuat kebijakan yang akan dijadikan panduan dan dipastikan akan melibatkan seluruh institusi keuangan di dunia serta tidak mengganggu stabilitas keuangan dunia.

Bali Fintech Agenda yang diluncurkan oleh IMF bersama dengan Bank Dunia berisi 12 elemen, antara lain:
1. Mendukung perkembangan fintech
2. Memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan pelayanan jasa keuangan
3. Mendorong kompetisi serta berkomitmen kepada pasar yang terbuka, bebas dan teruji
4. Perlunya inklusi keuangan untuk semua orang dan mengembangkan pasar keuangan
5. Memantau perkembangan perubahan di sistem finansial
6. Menyesuaikan kerangka kebijakan dan praktek pengawasan terhadap perkembangan teknologi dan stabilitas sistem keuangan
7. Melindungi integritas sistem keuangan
8. Menyesuaikan kerangka hukum agar sesuai dengan perkembangan terkini
9. Memastikan stabilitas moneter dan sistem keuangan domestik
10. Mengembangkan sistem infrastruktur finansial dan data yang kuat guna memperoleh manfaat yang berkelanjutan dari fintech
11. Mendorong kerjasama informasi internasional
12. Meningkatkan pengawasan bersama oleh sistem moneter dan keuangan internasional (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed