Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 15 Nov 2018 17:44 WIB

'Aset' Bank Sentral Jepang Rp 75.000 T Bisa Jadi Bumerang

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: REUTERS/Toru Hanai/File Photo Foto: REUTERS/Toru Hanai/File Photo
Jakarta - Langkah bank sentral Jepang (Bank of Japan) membeli obligasi dalam jumlah fantastis membuat asetnya naik mengalahkan produk domestik bruto (PDB) negaranya.

Data yang dirilis oleh Bank of Japan pada hari Selasa menunjukkan bahwa total kepemilikannya menjadi 553,6 triliun yen ($ 4,9 triliun atau sekitar Rp 75.000 triliun) setelah bertahun-tahun mencetak uang yang bertujuan mendongkrak ekonomi di negara itu. Angka tersebut lebih besar dari produk domestik bruto (PDB) tahunan Jepang pada akhir kuartal II-2018 dan lebih dari lima kali nilai pasar Apple (APPL).

Stimulus yang diberikan bank sentral Jepang telah melemahkan pasar keuangan dan meninggalkan bank sentral dengan opsi-opsi menyusut ke pertumbuhan ekonomi jika krisis baru terjadi.


Bank sentral Jepang telah mengumpulkan aset yang sangat besar sejak gubernurnya, Haruhiko Kuroda, memulai rencana yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2013 untuk membeli sejumlah besar obligasi pemerintah. Tujuannya adalah menekan suku bunga, mendorong konsumen dan bisnis untuk menghabiskan lebih banyak uang.

Langkah itu mirip dengan program pelonggaran moneter luar biasa yang diluncurkan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa setelah krisis keuangan global. Tetapi skala Jepang jauh lebih besar dalam kaitannya dengan ukuran ekonominya.

Total aset bank sentral AS sekitar seperlima dari ukuran PDB AS, dan bank sentral Eropa sekitar 40% dari ekonomi Eropa.

The Fed mengumumkan penghentian pembelian obligasi pada 2014 dan sekarang menaikkan suku bunga, dan bank sentral Eropa akan menghentikan ini bulan depan. Tetapi bank sentral Jepang belum menuju ke arah sana.

Jepang terlena dalam pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi. Ekonomi jepang secara tahunan tumbuh 1,2% pada kuartal ketiga.

Meskipun bank sentral aktif menambah aset dan kebijakan tidak biasa lainnya seperti suku bunga negatif, inflasi masih tetap di bawah target sebesar 2%. Kuroda mengatakan bank tidak mempertimbangkan mengakhiri stimulus sampai tujuan itu tercapai.


Strategi Berisiko

Akan tetapi itu mungkin tugas yang mustahil, dan melanjutkan stimulus tanpa batas membawa risiko yang signifikan.

"Ada batasan untuk berapa banyak aset bank sentral Jepang dapat membeli," kata Marcel Thieliant, Ekonom Jepang di Capital Economics dikutip dari CNN Business, Kamis (15/11/2018).

Pembelian aset belakangan ini sudah melambat. Itu bukan karena rencananya berhasil, katanya, tetapi karena pejabat bank sentral khawatir kebijakannya membuat terlalu sulit bagi bank komersial untuk mendapatkan keuntungan.

Suku bunga negatif telah menekan margin mereka, dan pembelian aset besar telah secara efektif membunuh perdagangan reguler di pasar obligasi yang dulu menguntungkan.


Tonton juga 'Sah! Indonesia Resmi Caplok 51% Saham Freeport':

[Gambas:Video 20detik]

(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed