RI Dapat Peringkat Layak Investasi dari R&I

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 17 Mar 2020 20:52 WIB
Logo Bank Indonesia
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta -

Lembaga pemeringkat rating dan investment information, Inc (R&I) menaikkan peringkat Sovereign Credit Rating Indonesia.

Awalnya rating berada di posisi BBB/outlook stabil menjadi BBB+outlook stabil atau investment grade.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan naiknya rating Indonesia masih menunjukkan adanya keyakinan stakeholder internasional yang masih terjaga terhadap kinerja perekonomian Indonesia.

"Ke depan BI akan tetap waspada dan terus memonitor perkembangan ekonomi global dan domestik, termasuk dampak Covid-19 dengan tetap memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi dengan pemerintah," kata Perry dalam siaran pers, Selasa (17/3/2020).

Peningkatan rating ini didorong oleh sejumlah faktor antara lain implementasi kebijakan yang kuat untuk meningkatkan potensi perekonomian. Perekonomian Indonesia diprediksi bisa tumbuh stabil dalam jangka menengah.

R&I juga menilai defisit fiskal yang terjaga, rasio utang yang rendah, cadangan devisa yang memadai membuat resiliensi ekonomi Indonesia terhadap guncangan eksternal tetap terjaga seiring dengan stance kebijakan yang menekankan pada stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal.

Lembaga pemeringkat ini menyebut wabah Covid-19 ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun pemerintah dan bank sentral telah mengambil langkah tegas untuk menopang perekonomian dan menjaga stabilitas makroekonomi.

Mempertimbangkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap terjaga dan lingkungan politik yang stabil, R&I memperkirakan perekonomian akan kembali membaik apabila dampak novel coronavirus dapat dikendalikan.

Kemudian, target pemerintah untuk pengesahan Omnibus Law disebut mampu meningkatkan iklim investasi dan menciptakan lapangan kerja. Hal ini akan mendukung penguatan fundamental ekonomi serta mendorong pertumbuhan jangka menengah-panjang.

Selanjutnya, dari sisi neraca transaksi berjalan masih mengalami defisit yang rendah diprediksi 2-3% pada 2020. Cadangan devisa masih mampu membiayai 7,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Risiko nilai tukar di sektor swasta telah menurun sebagai dampak dari penerapan kebijakan bank sentral untuk mengendalikan risiko, termasuk penerapan peraturan terkait kewajiban untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas utang dalam mata uang asing.

Pada sisi fiskal, Pemerintah menjaga komitmen untuk memastikan disiplin fiskal. Pada 2020, Pemerintah memproyeksikan defisit fiskal sebesar 1,76% dari PDB. Pemerintah meningkatkan alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur, mempertahankan rasio anggaran pendidikan dan kesehatan terhadap total pengeluaran, dan mengurangi alokasi anggaran untuk subsidi energi.

R&I memandang positif upaya Pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengeluaran dalam rangka memajukan prioritas kebijakan untuk peningkatan sumber daya manusia dan penguatan daya saing. Menurut R&I, stance kebijakan yang fokus pada stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal, serta komitmen kuat untuk reformasi struktural, menjadi aspek yang penting untuk terus dilaksanakan.



Simak Video "Penyederhanaan Nilai Rupiah alias Redenominasi Nongol Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)