Bank di Myanmar Kehabisan Duit, Eh... 'Bank Ilegal' Bermunculan

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 13 Apr 2021 21:15 WIB
YANGON, MYANMAR - MARCH 28: Anti-coup protesters use slingshots and pelt stones towards approaching security forces on March 28, 2021 in Yangon, Myanmar. Myanmars military Junta continued a brutal crackdown on a nationwide civil disobedience movement in which thousands of people have turned out in continued defiance of live ammunition. Local media and monitoring organizations estimate that over 400 people have been killed since the coup began, including dozens of children and minors. (Photo by Stringer/Getty Images)
Foto: Getty Images/Getty Images

Untuk diketahui, sistem perbankan di Myanmar saat ini sedang lumpuh terimbas kudeta militer. Pegawai bank ikut serta turun ke jalanan mendukung pro-demokrasi sebagai protes atas kudeta militer tersebut.

Sejak pertengahan Februari lalu, bisnis-bisnis di Myanmar pun mengalami kekurangan uang tunai karena banyak kantor cabang bank yang tutup, kecuali untuk mobile banking dan layanan ATM yang terbatas.

Di tengah hal itu, masyarakat langsung berbondong-bondong menarik uang tunai sebanyak mungkin karena sempat beredar desas-desus bahwa sistem bank di sana bakal runtuh total.

Bank sentral yang ditunjuk rezim pun menerapkan aturan baru yang membatasi penarikan tunai. Setiap orang hanya boleh menarik 500.000 Kyat/hari dari ATM atau bank. Akan tetapi sejak pertengahan Maret, nasabah di bank swasta hanya diperbolehkan menarik 200.000-300.000 Kyat per hari di ATM, sementara bank hanya membagikan 20-30 token per hari untuk penarikan langsung.


(zlf/zlf)