ADVERTISEMENT

Apa Dampak Kenaikan Bunga Acuan BI ke 5,25%? Ini Jawabannya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 17 Nov 2022 18:15 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Apa Dampak Kenaikan Bunga Acuan BI ke 5,25%? Ini Jawabannya/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan bunga acuan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 50 basis points (bps). BI rate naik menjadi 5,25%.

Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira menyatakan efek kenaikan suku bunga ini akan sangat terasa di sektor perekonomian riil. Bila suku bunga naik, maka sektor usaha akan cukup berat mencari pendanaan.

Dari sisi perbankan, bank akan lebih selektif untuk memberikan pendanaan. Sementara di sisi bisnis, pelaku usaha akan menahan diri untuk ekspansi melihat biaya pinjaman yang makin mahal karena suku bunga naik.

"Pertama ini akan berpengaruh ke permintaan kredit dan kesiapan pelaku usaha. Problem-nya tidak semua pengusaha dalam situasi yang siap menghadapi biaya bahan baku meningkat, biaya operasional meningkat, efek inflasi ke daya beli masyarakat menurun," ungkap Bhima kepada detikcom, Kamis (17/11/2022).

"Mungkin mereka akan memilih untuk menunda ekspansi dibandingkan bayar pinjaman dengan bunga lebih mahal," lanjutnya.

Dari sisi konsumsi kemungkinan juga kredit macam KPR dan kendaraan akan berkurang. Karena konsumen menahan diri untuk mengambil kredit yang biayanya mahal.

"Kredit konsumsi kayak KPR dan kendaraan proyeksinya akan mengalami perlambatan pertumbuhan," ujar Bhima.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad juga mengatakan kenaikan suku bunga akan sangat berpengaruh bagi pelaku usaha. Yang paling cepat dirasakan adalah utang pelaku usaha akan membengkak dalam beberapa waktu ke depan karena biaya bunga meningkat.

"Bagi pelaku usaha yang punya utang sekarang ini utangnya akan lebih tinggi biayanya, utangnya bisa membengkak," ungkap Tauhid kepada detikcom.

Beberapa sektor usaha pun akan mengalami perlambatan pertumbuhan karena bank akan lebih selektif dalam memberikan pinjaman. Hanya sektor bisnis yang menguntungkan saja yang akan mendapatkan pinjaman.

Di sisi lain, beberapa sektor juga akan melambat karena efek berkurangnya konsumsi masyarakat di tengah kenaikan suku bunga, misalnya sektor otomotif dan properti. Dua sektor ini kemungkinan akan melambat karena berkurangnya minat masyarakat untuk melakukan pembelian rumah ataupun kendaraan secara kredit mengingat biaya kredit akan makin tinggi karena suku bunga mengalami kenaikan.

"Kalau bunga naik mereka akan mengurangi belanja, misalnya mau beli rumah atau kendaraan terhambat sektor properti dan industri otomotif jadi terhambat karena penjualan tertahan," ungkap Tauhid.

Lihat juga Video: Kagetnya Gubsu Edy, Masih Ada Bank Salurkan KUR Bunga 6% ke UMKM

[Gambas:Video 20detik]




(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT