Ekonom Soroti Strategi Bank RI Jaga Likuiditas di Tengah Tekanan Makro

Ekonom Soroti Strategi Bank RI Jaga Likuiditas di Tengah Tekanan Makro

Aan Abdau Rizal - detikFinance
Rabu, 29 Apr 2026 09:07 WIB
Ilustrasi
Foto: Istimewa
Jakarta -

Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan risiko fiskal domestik, kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan yang solid. Kode saham BBCA ini dinilai mampu bertahan berkat strategi adaptif dalam merespons perubahan perilaku nasabah serta dinamika makro yang semakin kompleks.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai kekuatan utama BCA terletak pada fundamental bisnisnya, khususnya dominasi dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Dalam industri perbankan, CASA menjadi indikator penting karena mencerminkan stabilitas likuiditas sekaligus efisiensi biaya dana.

Selain itu, Yanuar menyoroti langkah BCA dalam menghadirkan fitur 'poket valas' atau konversi tabungan rupiah ke valuta asing. Menurutnya, strategi ini bukan sekadar inovasi produk, melainkan respons terhadap perubahan preferensi nasabah di tengah kondisi pasar yang dinamis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kemampuan BCA mempertahankan likuiditas DPK (Dana Pihak Ketiga) dengan memberi ruang nasabah tetap menahan dananya di BCA melalui penyediaan poket valas merupakan strategi yang kuat," kata Yanuar, dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan dengan menyediakan kanal lindung nilai dalam ekosistemnya, BCA dinilai mampu menahan potensi arus keluar dana (capital outflow) di level mikro. Nasabah tidak perlu memindahkan dana ke luar sistem untuk membeli dolar atau emas, karena bisa tetap menyimpan dana dalam bentuk valuta asing di dalam bank.

"Bahkan, pelemahan rupiah secara tidak langsung turut meningkatkan nilai CASA dalam denominasi rupiah, memberikan efek tambahan bagi neraca bank," ujarnya.

Yanuar menjelaskan bahwa fenomena tersebut menunjukkan peran bank yang semakin berkembang, tidak hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga sebagai platform manajemen risiko bagi nasabah.

"Di sisi lain, keunggulan BCA juga diperkuat oleh dominasi dalam sistem pembayaran yang terintegrasi. Infrastruktur payment gateway yang kuat menciptakan hubungan "back-to-back" antara penghimpunan dana (saving) dan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi. Model ini memungkinkan BCA menjaga kualitas aset sekaligus memoderasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL)," ungkapnya.

Dari sisi investasi, saham BCA masih dinilai memiliki daya tarik. Namun, Yanuar melihatnya bukan sebagai safe haven, melainkan lebih cocok untuk strategi akumulasi jangka panjang, terutama saat terjadi koreksi harga dan volatilitas mulai mereda.

Sementara itu, dinamika perilaku nasabah juga menunjukkan tren menarik. Data dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat deposan kecil cenderung mengurangi tabungan, sedangkan deposan besar justru meningkat. Hal ini mencerminkan perubahan sikap di mana pemilik dana besar memilih menahan likuiditas di tengah ketidakpastian.

Dalam konteks tersebut, segmen nasabah Prioritas dan Solitaire dinilai semakin relevan. BCA tidak hanya menawarkan layanan eksklusif, tetapi juga memposisikan diri sebagai tempat yang relatif aman bagi dana besar, terutama untuk kebutuhan lindung nilai.

"Nasabah prioritas dan solitaire memang bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap merasa bank menjadi tempat untuk menjaga lindung nilai," pungkasnya.




(akn/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads