499 Tahun Jakarta: Geliat Arisan Mampangan, Bank Mikro Ala Emak-emak Betawi

Kolom

499 Tahun Jakarta: Geliat Arisan Mampangan, Bank Mikro Ala Emak-emak Betawi

Desti Fitriani - detikFinance
Rabu, 24 Jun 2026 09:51 WIB
Desti Fitriyani
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Jakarta akan memasuki usia lima abad. Kota metropolitan ini makin maju, gedung pencakar langit bertambah, layanan digital dan transaksi keuangan semakin canggih. Namun di balik wajah modern itu, masih hidup berbagai praktik ekonomi berbasis komunitas yang telah bertahan lintas generasi.

Siapa yang pernah mendengar nama Arisan Mampangan? Bagi sebagian masyarakat Betawi dan warga pinggiran Jakarta, termasuk di Depok, Arisan Mampangan bukan sekadar tradisi menjelang Hari Raya. Ia adalah instrumen keuangan mikro yang membantu keluarga mengelola pengeluaran, menabung secara disiplin, sekaligus menjaga solidaritas sosial di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.

Keberadaan Arisan Mampangan menjadi menarik karena tetap bertahan ketika masyarakat telah memiliki berbagai pilihan layanan keuangan formal, mulai dari tabungan perbankan hingga dompet digital. Di tengah berbagai inovasi tersebut, banyak keluarga masih mempercayakan sebagian pengelolaan keuangannya kepada mekanisme kolektif berbasis gotong royong yang dijalankan oleh sesama warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak selalu lahir dari institusi formal. Dalam banyak kasus, masyarakat justru menciptakan solusi keuangannya sendiri yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan konteks sosial mereka. Arisan Mampangan adalah salah satu contoh bagaimana kearifan lokal terus memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.

ADVERTISEMENT

Warisan yang Tak Lekang Zaman

Arisan merupakan budaya kolektif yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menjadi sarana mengelola keuangan, arisan juga berfungsi sebagai ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga melalui pertemuan dan interaksi rutin.

Nama "Mampang" sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Menurut budayawan Rachmat Ruchiat dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Mampang merujuk pada nama sungai yang berhulu di kawasan Ragunan dan bermuara ke Kali Krukut, yang pada masa kolonial menjadi salah satu penanda batas wilayah kekuasaan tuan tanah Belanda. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui berbagai kawasan bernama Mampang, baik di Jakarta maupun Depok.

Tidak mengherankan jika tradisi Arisan Mampangan juga berkembang dan bertahan di kedua wilayah tersebut. Di tengah berbagai perubahan sosial dan ekonomi, praktik ini tetap menemukan relevansinya dari generasi ke generasi.



Menabung untuk Lebaran

Yang membuat Arisan Mampangan menarik bukan hanya karena usianya yang panjang, melainkan karena prinsip-prinsip pengelolaannya yang sederhana, fleksibel, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Saat mendaftar, peserta diminta memilih paket yang ingin diterima menjelang Hari Raya Idul Fitri. Paket tersebut dapat berupa sembako, daging, kue kering, maupun kebutuhan Lebaran lainnya.

Nilai iurannya pun relatif ringan. Paket termurah setara dengan sekitar Rp 1.000 per hari, sementara paket yang lebih besar dapat mencapai Rp 10.000 per hari.

"Nilai paket arisan ini memang dirancang untuk meringankan ibu-ibu. Istilahnya memanfaatkan sisa-sisa uang receh di rumah daripada habis untuk jajan saja," ujar Inna, salah satu koordinator lapangan Arisan Mampangan di Depok.

Peserta bebas melakukan pembayaran harian, mingguan, atau bulanan sesuai kemampuan masing-masing. Mereka cukup berkomitmen mengikuti program minimal enam bulan. Menjelang Hari Raya, paket yang telah dipilih akan diserahkan kepada anggota sesuai dengan nilai tabungan yang telah dikumpulkan.

Fleksibilitas menjadi salah satu keunggulan utama sistem ini. Apabila peserta mengalami kesulitan keuangan di tengah jalan, mereka dapat menyesuaikan paket yang dipilih sesuai dana yang telah terkumpul tanpa dibebani kewajiban tambahan di kemudian hari.

Prinsip keadilan juga menjadi bagian penting dari mekanisme yang diterapkan. Jika harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran mengalami kenaikan di luar perkiraan, anggota hanya diminta menambah kekurangan sesuai harga aktual. Sebaliknya, apabila harga pasar lebih rendah dari estimasi awal, kelebihan dana akan dikembalikan dalam bentuk tambahan sembako atau bonus barang lainnya.

Mekanisme sederhana ini memungkinkan anggota memperoleh kepastian atas kebutuhan Lebaran mereka tanpa harus khawatir terhadap fluktuasi harga yang sering terjadi menjelang hari raya.

Inklusi Keuangan dari Akar Rumput

Dari perspektif inklusi keuangan, Arisan Mampangan menawarkan pelajaran yang menarik. Berbagai program perluasan akses keuangan selama ini umumnya diukur dari jumlah rekening bank, penggunaan layanan digital, atau akses terhadap kredit formal.

Namun bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah dan tidak tetap, tantangan utama bukan sekadar membuka rekening, melainkan membangun disiplin menabung dan memastikan dana yang terkumpul tidak habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, Arisan Mampangan menjalankan fungsi yang mirip dengan lembaga keuangan mikro. Ia menyediakan mekanisme tabungan berbasis komitmen (commitment saving), membantu rumah tangga merencanakan pengeluaran masa depan, serta memberikan rasa aman ketika menghadapi kebutuhan besar yang datang secara musiman.

Keunggulan utama Arisan Mampangan justru terletak pada kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak ada formulir yang rumit, persyaratan administrasi yang berbelit, ataupun batasan setoran minimum yang sulit dipenuhi. Yang menjadi fondasi utama adalah kepercayaan, kedekatan sosial, dan semangat gotong royong.

Ketika Kepercayaan Menjadi Modal

Meski demikian, sistem berbasis kepercayaan tentu bukan tanpa risiko. Inna mengisahkan pernah terjadi kasus ketika seorang koordinator lapangan menggunakan dana anggota untuk membiayai usaha peternakan bebek miliknya.

Ia berharap keuntungan usaha tersebut dapat menutupi kewajiban kepada anggota. Namun usaha tersebut justru mengalami kerugian sehingga dana arisan tidak dapat dikembalikan tepat waktu.

"Pernah ada yang menggunakan dana arisan untuk bisnis ternak bebek. Ternyata usahanya gagal dan akhirnya dia harus menjual mobil serta rumahnya untuk mengembalikan uang anggota," kenangnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akuntabilitas dan integritas merupakan fondasi utama dalam pengelolaan arisan. Karena itu setiap anggota dibekali buku catatan pembayaran yang dapat digunakan untuk memantau setoran secara berkala.

Para koordinator lapangan juga memperoleh insentif berupa fee administrasi sekitar lima hingga sepuluh persen dari dana yang dikelola. Jumlah dana yang dikelola pun tidak kecil. Dalam beberapa kelompok, nilainya dapat mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun.

Bagi para koordinator, aktivitas ini membuka peluang ekonomi tambahan. Sementara bagi anggota, manfaat yang dirasakan jauh lebih nyata: kepastian bahwa kebutuhan Lebaran dapat dipenuhi tanpa harus berutang atau mengganggu pengeluaran rutin keluarga.

"Ya saya ikut Arisan Mampangan supaya tidak pusing memikirkan harga daging saat Lebaran nanti. Kalau pun ada tambahan biaya tidak terlalu besar. Lumayan daripada uang receh-receh itu habis untuk hal yang kurang penting. Jadi nanti keluarga bisa menikmati rendang saat Lebaran," ujar salah seorang anggota.

Jakarta dan Pelajaran dari Arisan Mampangan

Di tengah perayaan ulang tahun ke-499 Jakarta, Arisan Mampangan mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan transformasi digital. Di balik statistik pertumbuhan ekonomi, terdapat berbagai praktik ekonomi warga yang bekerja secara senyap menjaga ketahanan keluarga dan komunitas.

Arisan Mampangan mungkin tidak tercatat sebagai inovasi keuangan modern. Namun kemampuannya membantu keluarga menabung, merencanakan pengeluaran, dan memperkuat solidaritas sosial menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam ekosistem inklusi keuangan Indonesia.

Ketika banyak kebijakan berupaya membawa masyarakat masuk ke sistem keuangan formal, pengalaman Arisan Mampangan justru mengajarkan bahwa keberhasilan inklusi keuangan tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap lembaga keuangan, tetapi juga oleh kemampuan memahami dan menghargai praktik-praktik keuangan yang telah lama hidup, tumbuh, dan dipercaya oleh masyarakat.

Di usia Jakarta yang semakin matang, kisah Arisan Mampangan menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi tidak selalu saling menggantikan. Keduanya justru dapat berjalan berdampingan, menghadirkan solusi yang sederhana namun bermakna bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Desti Fitriani, Ph.D.
Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI)
Ketua Kelompok Riset Klaster Akuntansi untuk Transformasi dan Inklusi Sosial (KATALIS) FEB UI

Halaman 2 dari 4


Simak Video "Menko Airlangga: Persentase Inklusi Keuangan 2023 Lampaui Target"
[Gambas:Video 20detik] (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads