Follow detikFinance
Senin 06 Mar 2017, 10:04 WIB

Resign Setelah Kerja 2 Tahun, Faizal Sukses Bisnis IT Berpenghasilan Ratusan Juta

Dana Aditiasari - detikFinance
Resign Setelah Kerja 2 Tahun, Faizal Sukses Bisnis IT Berpenghasilan Ratusan Juta Foto: Dana Aditiasari-detikFinance
Jakarta - Sebagian besar orang kesulitan dalam menentukan jenis usaha atau bisnis yang akan dilakoninya. Hal tersebut tak menurutnkan semangat Faizal Hermiansyah untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi informasi yang dirintisnya dengan nama Eightcode.

Ditemua detikFinance di bilangan Senayan, Jakarta Selatan belum lama ini, pria 24 tahun yang bias disapa Ical ini menceritakan awal dirinya mengembangkan bisnis.

"Awalnya justru bisnis yang sayang jalani itu bisnis clothing (pakaian). Jauh dari bisnis yang sekarang saya jalani. Tapi dari situ saya banyak belajar," tutur dia memulai ceritanya.

Bermula ketika berusia 16 tahun, bisnis clothing ia jalani dengan modal seadanya, ia bersama sejumlah temannya memberanikan diri memulai usaha ini. Tak sekedar berjalan, bisnis yang dilakoninya juga berkembang cukup baik.

"Kalau ditanya modal waktu itu, nyaris enggak ada modal ya. Karena kan bisnis kaos itu, kita tunggu order. Kita dapat bayaran, kadang uang muka, itu buat biaya produksi. Sisanya pas pelunasan, itu jadi pendapatan bersih kita. Dari situ pendapatannya lumayan," urai pria kelahiran 8 Februari 1993 ini.

Namun bukan berarti usaha pakaiannya berjalan lancar. Berjalan sekitar 5 tahun, usahanya terpaksa kandas karena penurunan penjualan dan sejumlah masalah lain.

Seusai kuliah, Ical sempat merasakan bekerja sebagai karyawan di perusahaan bidang teknologi informasi selama kurang lebih 2 tahun, dengan gaji yang tergolong tinggi dibandingkan teman-teman seangkatan yang lulus berbarengan dirinya kala itu.

Namun, gaji besar ternyata tak menjadi jaminan kepuasan karirnya. Perjalanan karirnya sebagai karyawan pun harus disudahi lantaran ia merasa tak banyak mendapat pengembangan diri.

"Waktu jadi karyawan itu, saya merasa banyak waktu terbuang. Pertama dari perjalanan rumah tempat kerja saja. Itu sudah makan waktu 2 jam. Belum lagi sampai kantor. Di kantor enggak mungkin langsung kerja kan? Nanti jam makan siang juga, banyak waktu terbuang," tutur dia.

Jiwa kreatif yang dirasakannya kala merintis bisnis kecilnya semasa sekolah dan kuliah, tak diperolehnya kala menjadi karyawan sehingga ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

"Belum lagi kita juga kalau bekerja untuk orang kan kreatifitas kita kadang enggak maksimal. Kita ingin begini, kadang enggak sesuai dengan maunya atasan. Jadi saya putuskan saja utuk berhenti," sambung dia.

Pengalamannya merintis usaha di masa lalu, bekal pendidikan ditambah pengalaman menjadi di perusahaan bidang teknologi informasi, dijadikannya modal untuk kembali merintis usaha. Kali ini yang dipilihnya adalah bisnis teknologi informasi.

Ia punya alasan kuat mengapa merintis bisnis di sektor ini. Pengalamannya gagal menjalankan bisnis pakaian adalah alasan utama mengapa bisnis teknologi informasi yang dipilihnya saat ini.

Kala itu, sebut dia, bisnis pakaiannya kandas lantaran penjualannya mengalami penurunan. "Kesimpulan saya waktu itu adalah di sisi pemasaran kita ada masalah," sebut dia.

Masalah pemasaran yang ia maksud lebih pada sarana pemasaran. Kala itu penjualan masih mengandalkan saluran konvesional yakni penjualan langsung di toko.

"Kalau pun via online, masih sebatas media sosial atau chatting (aplikasi obrolan). Belum yang benar-benar online seperti sekarang ada market place dan macam-macam. Kalau ada order, harus dicatat satu-satu. Belum kalau nanti tertukar catat pesanannya karena saking banyaknya pesanan." sebut dia.

"Kemudian, kelemahan kalau pakai aplikasi chat, kalau kita lama respons, ya sudah, pelanggan itu kabur. Makanya jadi enggak efisien," tambah dia.

Masalah itu dihadapi hampir semua pengusaha pemula yang memproduksi barangnya sendiri.

"Dari situ saya berfikir, ternyata kalau mau usaha berhasil, pemasarannya harus difikirkan. Nah solusinya adalah teknologi informasi ini," sebut dia.

Dengan teknologi informasi, kata dia, bisa dibuat sistem untuk menerima pemesanan dari pelanggan secara otomatis. Semua tercatat, sehingga kemungkinan kesalahan catat pesanan dan gagal pemesanan bisa diminimalisir. "Karena yang melayani itu sistem," sebut dia.

Itulah alasan ia mendirikan Eightcode, perusahaan teknologi informasi yang hingga kini terus dikembangkannya.

Eightcode memiliki beberapa unit bisnis, salah satu diantaranya adalah SIMI (Sistem Informasi Manufacture Indonesia). "Kami juga melayani konsultasi, pembuatan website sampai pembuatan aplikasi di telpon pintar yang cara kerjanya disesuaikan dengan kebutuhan client kami," sebut dia.

Hingga saat ini, Eightcode telah memiliki banyak client dari berbagai kalangan dari mulai kalangan pemerintah seperti kementerian dan lembaga, hingga perusahaan swasta nasional berskala besar.

"Ada dari satu Kementerian, mereka butuh sistem untuk mengintegrasikan data yang kemiskinan dengan data yang mereka miliki. Ada juga perusahaan di Bandung, di butuh sistem untuk catat semua dari mulai barang keluar masuk, sampai data penjualan," sebut dia.

Dari bisnisnya ini, ia bisa mendapatkan penghasilan yang cukup besar hingga bisa mempekerjakan 5 tenaga kerja langsung dan 15 tenaga kerja lepas.

"Total kami kerja bareng ada 20 orang," sebut dia.

Ia bercerita, bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 800 juta untuk satu proyek pembuatan sistem. "Itu dari klien kami yang perusahaan swasta itu, kalau saya mau leha-leha, itu cukup untuk operasional dan gaji karyawan setahun. Tapi enggak mungkinkan kita bisnis cuma begitu saja kan? Jadi kita perluas jaringan terus," canda dia.

Ia mengaku masih belum puas dengan capaiannya saat ini. Harapannya ia ingin usahanya berkembang lebih besar lagi.

"Saya ingin seperti Stive Jobs. Dia bikin produk yang sebisa mungkin memudahkan orang menggunakan teknologi. Saya juga ingin teknologi informasi yang kami buat, bisa mempermudah client kami menjalankan bisnisnya," sebut dia.

"Yang tadinya jualan sulit, dengan teknologi informasi bisa lebih mudah. Yang tadinya susun catatan keuangan sulit, dengan teknologi informasi jadi mudah. Dan seterusnya. Kita ingin semua bisnis bisa dikembangkan dengan lebih baik," tandas dia. (dna/dna)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed