Follow detikFinance
Jumat 24 Mar 2017, 14:17 WIB

Bisnis Produk Rajutan, Wanita Ini Raup Omzet Puluhan Juta

Erliana Riady - detikFinance
Bisnis Produk Rajutan, Wanita Ini Raup Omzet Puluhan Juta Foto: Erliana Riady
Blitar -

Memanfaatkan waktu luang bisa menghasilkan omzet jutaan. Seperti yang dilakukan Sunarsih (57) warga Pakunden Jl Maninjau D4/ 18 Sukorejo Kota Blitar ini.

Sunarsih yang merasa tidak punya kemampuan bekerja kantoran, belajar autodidak berbagai keterampilan. Di antaranya menjahit dan merajut.

"Waktu itu gaji PNS masih sedikit, saya sebenarnya terpaksa belajar jahit sama rajut ini. Mau kerja apa? Wong jadi pegawai kantor enggak bisa," katanya saat ditemui detikFinance di rumahnya, Jumat (24/3/2017).

Tak Bisa Kerja Kantoran, Wanita Ini Sukses Bisnis Rajutan Beromzet Puluhan JutaFoto: Erliana Riady

Mulai tahun 1990, Ibu seorang putra ini tekun belajar, hingga hasil karyanya diminati tetangga yang lalu membelinya. Meningkat, ada sebuah toko perlengkapan wanita di Kota Blitar yang mau barter rajutan karyanya dengan benang.

"Sejak dipajang di toko itu akhirnya banyak pesanan. Mereka datang ke rumah kontrakan saya, suruh buatkan ini itu sambil dikasi lihat bentuk rajutannya. Dari situlah saya belajar makin banyak motif rajutan dan bahanya juga macam-macam ," jelas ibu yang akrab dipanggil Cicik itu.

Sekarang hasil karya rajutan Cicik tidak hanya syal atau sweater, namun ada sandal, sepatu, tas, topi, jaket dan berbagai asesoris untuk bayi.

"Benangnya juga beragam seperti siet, katun, poly. Kalau untuk sepatu benangnya yang tahan air seperti nilon talikur dipadu tali kulit," ungkapnya.

Kemajuan usahanya membuat keluarga kecil itu mampu membeli rumah sendiri di tengah Kota Blitar. Untuk bermacam karya rajutnya, seperti alas kaki perempuan, Cicik memasang banderol Rp 10 ribu sampai Rp 150 ribu. Untuk sepatu rajut pria harga mulai Rp 250 ribu sampai Rp 400 ribu. Sedangkan untuk tas paling murah Rp 90 ribu sampai Rp 500 ribu.

"Sekarang pesanan paling banyak itu dari Malang dan Bali. Mereka pesan sepatu bayi dan sandal tiklek (kombinasi kayu) rajut nilon," kata Cicik. Pesanan juga mengalir datang dari Surabaya, Bandung dan Bogor.
Tak Bisa Kerja Kantoran, Wanita Ini Sukses Bisnis Rajutan Beromzet Puluhan JutaFoto: Erliana Riady

Sayangnya, karena terbatasnya tenaga yang terampil merajut motif-motif tertentu, Cicik seringkali menolak pesanan bahkan yang datang dari luar negeri.

"Anak saya itu , kadang kalau saya bikin bentuknya bagus difoto terus dipajang di instagramnya. Ada pengusaha Malaysia suruh saya bikin ribuan mau dikasi labelnya dia, saya tolak. Selain enggak ada tenaga yang mengerjakan, saya berkarya sambil menikmati hidup saja sekarang," katanya sambil tertawa.

Beberapa wisatawan mancanegara yang terlanjur kesengsem dengan karya rajut Cicikpun , pernah memperpanjang waktu tinggal mereka di Kota Blitar, menunggu pesanan sepatunya selesai.

Untuk menambah tenaga yang terampil merajut, Cicikpun lalu membuka kelas rajut di rumah mungilnya. Kelas dibuka hari Senin,Selasa dan Rabu mulai pukul 09.00 sampai 13.00 WIB.

"Sengaja saya suruh bayar Rp 25 ribu tiap hadir, biar mereka belajar serius. Soalnya kalau serius, tiga kali hadir saja sudah pinter macam-macam rajutan lho," jelasnya.

Tak Bisa Kerja Kantoran, Wanita Ini Sukses Bisnis Rajutan Beromzet Puluhan JutaFoto: Erliana Riady

Rupa peminat kelas rajut justru banyak dari kalangan remaja wanita. Menurut Cicik , ketrampilan ini bisa dikerjakan dimana saja dan kapan saja. Faktor itulah yang membuat banyak remaja putri tertarik mempelajarinya.

"Mereka juga tahu hasilnya seperti apa. Usaha sendiri, dikerjakan dengan senang hati sambil ngurus keluarga, enggak usah repot cari kerja, tapi hasilnya lumayan juga," ungkapnya.

Ketekunan dan kesenangan Cicik memang menghasilkan pundi-pundi rupiah yang lumayan besar untuk penghasilan di kota sekecil Blitar. Dalam sehari, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 1 juta per hari atau Rp 30 juta per bulan.

"Sehari saya bisa dapat omzet Rp 700 ribu sampai satu juta. Coba hitung kalau saya punya banyak tenaga dan mau menerima semua pesanan dari dalam dan luar negeri. Enggak usah jadi TKI, di dalam rumah lho kita bisa menciptakan usaha sendiri," jelasnya memotivasi. (dna/dna)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed