Follow detikFinance
Selasa 30 May 2017, 19:35 WIB

Perajin Peci Bantul Bidik Pasar Asia Tenggara

Usman Hadi - detikFinance
Perajin Peci Bantul Bidik Pasar Asia Tenggara Foto: Usman Hadi
Bantul - Perajin peci di Dusun Bedukan, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul, saat ini membidik pasar Asia Tenggara seperti Thailand. Untuk pemasaran dalam negeri, peci buatan perajin Bantul ini dijual ke Ternate, Jawa Timur, Jawa Barat, Jambi, sampai Nanggroe Aceh Darussalam.

Pengalihan pasar yang dilakukan perajin ini karena pasar di Timur Tengah belum stabil. Terlebih setelah peperangan berkepanjangan terjadi di negara-negara Arab.

"Saat ini saya sedang menyelesaikan pesanan dari Thailand," ujar salah satu perajin, Turadi, Selasa (30/5/2017).

Turadi merupakan salah satu perajin peci cukup lama di Bantul. Tercatat sejak 1994 dia sudah mulai membuat peci atau kopiah. Untuk pemasaran dia sering menjual produknya sampai ke Timur Tengah. Dia bercerita sampai tahun 2002, peci buatannya jaya-jayanya di Timur Tengah.

Salah satu negara Timur Tengah yang kerap pesan peci seperti Arab Saudi. Tapi setelah adanya kekacauan di Timur Tengah, seperti munculnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) permintaan peci menurun drastis.

"Dulu pesanan dari negara Arab Saudi cukup banyak," paparnya.

Perajin peci di Bantul sedang merajut peci,Perajin peci di Bantul sedang merajut peci, Foto: Usman Hadi

Terkait kondisi itu Turadi tak bisa berbuat banyak. Ketimbang mengeluh dengan keadaan, dia lebih memilih berusaha mencari pangsa pasar lain, bidikannya jatuh di Asia Tenggara. Usahanya ini cukup membuahkan hasil, sekarang pesanan mulai datang dari Thailand.

Memang di Thailand banyak penduduk muslim, terutama di provinsi Pattani, Yala, dan Narathiwat yang berada di Thailand Selatan. "La kalau ngirim barang ke Timur Tengah bagaimana? Wong sedang perang, rakyatnya banyak mengungsi. Ya sasaran saya alihkan ke Asia Tenggara," ungkapnya.

Alasan Turadi memilih pasar Asia Tenggara, karena di kawasan ini penduduknya banyak muslim. Selain itu kawasan Asia Tenggara diklaim lebih stabil kondisinya, sehingga permintaan barang diperkirakan jauh lebih stabil.

"Kami tetap harus produksi, makanya kami mencari pasar baru," akunya.

Dalam sebulan Turadi mengaku bisa memproduksi sampai 2000 peci per bulan. Jumlah ini untuk mencukupi pesanan dari Asia Tenggara, dan pesanan domestik yang datang dari sejumlah daerah. "Kalau peci taliban kami sudah tidak memproduksi, tidak laku di pasar lokal," lugasnya.

Untuk memproduksi ribuan peci itu, Turadi dibantu Ibu-ibu rumah tangga setempat. Berkat usahanya ini, Turadi mengaku bisa mencukupi kebutuhan keluarga, sampai sanggup membiayai 3 anaknya di pesantren. "Peci kami jual Rp 25-40 ribu, tergantung motif dan kerumitan," tutupnya. (mkj/mkj)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed