Follow detikFinance
Sabtu 19 Aug 2017, 09:00 WIB

Wanita Ini Bisnis Camilan dari Daging Lele Beromzet Rp 70 Juta/Bulan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Wanita Ini Bisnis Camilan dari Daging Lele Beromzet Rp 70 Juta/Bulan Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Es dawet biasanya berbahan dadar dari tepung beras yang dicampur pewarna, gula dan santan. Tapi di tangan Eka, perempuan asal Boyolali, daging ikan lele diracik menjadi es dawet hingga aneka camilan gurih.

Eka memilih ikan sebagai bahan baku membuat camilan karena ingin menyadarkan masyarakat pentingnya mengonsums ikan, terutama di daerah asalnya, Boyolali, Jawa Tengah.

"Konsumsi ikan rendah, lagipula orang Indonesia itu pilihannya ikan digoreng, bakar atau kukus. Saya mau coba untuk buat dengan cara lain ya dijadikan es dawet ini. Jadi orang tidak terasa kalau dia sudah makan ikan karena dicampur dalam dawet," kata Eka saat berbincang dengan detikFinance di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), Cilacap, Jawa Tengah Senin (14/8/2017).

Es dawet dari daging leleEs dawet dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Dia mengatakan, selain bisa melepas dahaga. Es dawet lele ini juga memiliki kandungan protein dan omega yang tinggi. "Kalau dibandingkan dengan dawet bahan biasa yang tepung beras saja, ya hanya karbohidrat tidak ada tambahan proteinnya," tambah dia.

Sehari Eka mengaku bisa menjual 200 gelas es dawet lele. Satu gelas, dijual dengan harga Rp 5.000. Jadi setiap harinya, Eka bisa mengantongi omzet sebesar Rp 1 juta.

Dia mengatakan, dalam satu kilogram tepung beras, dibutuhkan 300 gram daging ikan lele. Eka memiliki trik khusus agar lele ini tidak berbau amis.

Caranya, lele dipisahkan dari tulang dan kepala. Kemudian daging yang sudah difillet direndam dalam air jeruk nipis selama satu jam. Lalu, bersihkan dan diaduk dengan adonan dawet menggunakan tangan.

"Saya nggak pakai blender, sengaja pakai tangan agar pas dimakan masih ada tekstur ikan lelenya," ujar dia.

Pada awal 2010 usahanya tak lancar, banyak orang yang meragukan karena ia nekat menjajal bahan makanan amis menjadi makanan manis.

"Orang dulu pada bergidik. Mereka jijik lho kok lele dijadikan es dawet pasti bau amis, tidak enak dan imej lele kan buruk dari dulu, padahal sekarang lele dibudidaya makanannya tidak sembarangan," tambah dia.

Namun, Eka tak patah arang. Dia bersama kelompoknya terus menginformasikan ke masyarakat jika es dawetnya menyegarkan dan penuh gizi dari daging lele tersebut.

Camilan berbahan lele

Selain es dawet lele, Eka juga membuat abon, dendeng, kerupuk, bakso, sosis, otak-otak, kaki naga, tahu bakso, galantin, lele crunchy, lestari atau lele segar tanpa duri, kerupuk kulit lele hingga nugget berbahan dasar daging ikan lele.

Produk ini dijual mulai dari harga Rp 10.000 sampai Rp 35.000. Abon lele adalah salah satu produk yang paling laris. Bahkan produknya ini pernah dibawa oleh Kementerian Perdagangan ke Moskow.

"Iya dibawa Kemendag 200 pak, alhamdulillah habis semua. Mudah-mudahan bisa untuk buka jalan ekspor," tutur.

Camilan dari daging leleCamilan dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Eka menceritakan, dia sempat diminta oleh sebuah perusahaan di Singapura untuk memenuhi pesanan keripik kulit lele. Namun ia tolak karena permintaan yang terlalu banyak.

"Mereka mintanya satu countainer, saya mana bisa sediakan sebanyak itu. Kalau 100kg-200kg saya masih bisa penuhi, kulit lele itukan susah, ya mudah-mudahan ada jalan lain untuk ekspor," ujarnya.

Dari usahanya menjual es dawet dan makanan ringan berbahan dasar daging lele. Eka mengaku setiap bulan bisa mengantongi omzet Rp 60 juta-Rp 70 juta.

Dalam sebulan, ia bisa mengantongi margin sebesar 25% dari omzet. "Itu sudah termasuk semua untuk tenaga kerja, bahan baku listrik sampai air," ujar dia.

Camilan dari daging leleCamilan dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Dalam satu kelompok kerjanya ada 15 orang ibu rumah tangga yang diberdayakan untuk mengolah lele menjadi makanan ini.

"Awalnya pada 2010 hanya ingin berdayakan ibu rumah tangga yang menganggur, ayo mari kita hasilkan sesuatu, alhamdulillah terus lanjut sampai sekarang," jelas dia.

Dia mengatakan, produk abon lele sudah memiliki standar nasional Indonesia (SNI) ia telah mendaftarkan sejak 2015.

Camilan dari daging leleCamilan dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Hal ini dilakukan demi keberlangsungan usahanya. Eka percaya, dengan produk yang terjamin maka bisa membuka jalan yang lebih luas untuk pemasaran.

"Banyak teman usaha saya yang malas untuk mengurus standar seperti itu, karena mereka berpikiran lebih baik uangnya dijadikan modal. Padahal dengan standar yang baik maka bisa menghasilkan yang lebih baik pula," jelas Eka. (hns/hns)
Usaha Anda ingin kami iklankan, silahkan klik disini untuk bergabung dengan Adsmart!
Kunjungi adsmart.detik.com sekarang juga, untuk mempromosikan bisnis usaha Anda
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed