Follow detikFinance
Jumat, 22 Des 2017 07:22 WIB

Show Me The Money!

Mohamad Taufiq Ismail – AAM & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Anda pernah mendengar istilah di atas? Mungkin yang mengatakan kalimat tersebut adalah atasan Anda atau bahkan pemilik perusahaan langsung.

Kata-kata itu biasanya terlontar setelah mereka membaca laporan keuangan perusahaan yang mengatakan bahwa perusahaan mendapatkan keuntungan yang lumayan tahun ini.

Tapi begitu melihat laporan arus kas serta posisi kas di neraca ternyata mengecewakan. Jumlah kas tergerus oleh aktivitas operasi perusahaan.

Sebenarnya wajar apabila kita menggunakan kas untuk membayar aktivitas operasi, memangnya kita mau membayar pakai daun? Namun jika pada satu periode kita mengeluarkan kas lebih banyak dibandingkan pemasukan, maka kita harus melakukan analisa lebih dalam untuk mengetahui penyebabnya.

Apabila posisi kas perusahaan menurun artinya kemampuan likuiditas juga menurun. Mendapatkan laba itu memang sudah menjadi kewajiban, tapi yang lebih penting lagi uangnya mana?

Jika tidak ada uangnya, masih terbenam di piutang tentu perlu diperhatikan lagi kewajarannya. Bagaimana kemampuan likuditas dapat tetap terjaga sementara aset kita bentuknya masih banyak di piutang. Bukankah dalam piutang pun ada risiko gagal bayar?

Nah, apa hubungan atau persamaan antara cerita di atas dengan perencanaan keuangan keluarga? Salah satu persamaannya adalah di kemampuan likuiditas.

Sebuah keluarga juga perlu memiliki kemampuan likuiditas yang baik layaknya sebuah perusahaan. Kemampuan likuiditas sebuah keluarga akan menentukan apakah keluarga tersebut dapat membayar cicilan utang yang dimiliki, kemudian juga mampu memenuhi kebutuhan keluarga dalam jangka pendek, baik untuk kebutuhan rutin maupun non rutin.

Kemampuan likuiditas juga diperlukan untuk membayar keperluan yang sifatnya mendadak atau darurat, serta untuk dapat bertahan hidup apabila sewaktu-waktu keluarga tidak memiliki penghasilan karena berbagai sebab.

Likuiditas sebuah keluarga dapat dilihat antara lain dari beberapa hal. Pertama dari saldo tabungannya. Apakah ada isinya atau tidak.

Apabila tidak memiliki tabungan maka dapat dilihat lagi apakah keluarga tersebut memiliki perhiasan atau logam mulia. Aset perhiasan ini bisa dianggap likuid karena diterima di seluruh dunia serta untuk merubah bentuknya menjadi uang tunai tidak membutuhkan waktu yang lama.

Cukup mencari toko perhiasan sudah pasti akan diterima, hanya tinggal melakukan nego untuk harganya. Aset reksa dana juga masih bisa dianggap likuid karena waktu pencairan hingga masuk ke dalam rekening tabungan hanya membutuhkan waktu sekitar 3-4 hari kerja.

Sebuah keluarga bisa melakukan mixing atas aset-aset likuidnya untuk mendapatkan hasil yang paling optimal sesuai kebutuhannya.

Nah, sebenarnya berapakah standar kemampuan likuiditas yang harus dimiliki sebuah keluarga? Kita anggap saja instrumen yang digunakan adalah tabungan. Maka berapa saldo tabungan yang ideal yang harus tersedia untuk sebuah kelaurga? Apakah Rp 10 juta? Rp 50 juta?

Jumlah saldo ini akan tergantung pada jumlah pengeluaran bulanan masing-masing keluarga dan berapa tanggungan yang dimiliki. Usahakan saldo tabungan minimal sebesar 6–12 kali pengeluaran bulanan.

Mengapa harus menggunakan standar pengeluaran? Karena diasumsikan yang paling buruk adalah keluarga tiba-tiba tidak mendapatkan penghasilan.

Apabila itu terjadi, maka bukan hanya cicilan utang saja yang harus mampu tetap dibayar, namun juga biaya hidup sehari-hari. Sedangkan 12 bulan dianggap sebagai waktu yang cukup untuk pencari nafkah utama mendapatkan sumber penghasilan baru.

Apakah seluruhnya harus dalam bentuk tabungan? Seperti sudah dibahas sedikit di atas, Anda bisa melakukan mix untuk instrumen penyimpanannya, bisa di tabungan bank, logam mulia, atau reksa dana pasar uang.

Silakan atur sesuai kebutuhan dan preferensi risiko Anda masing-masing. Sementara itu untuk memutuskan memilih produk keuangan yang benar dibutuhkan juga keterampilan dan ilmu yang benar.

Nah, anda bisa mempelajari hal itu di workshop atau kelas yang dilakukan baik oleh AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB maupun IARFC Indonesia http://ow.ly/NbPy30gC3Dy. Info workshop Kaya Raya Dengan Reksadana January 2018 buka di sini http://bit.ly/WRD0118.

Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info di sini http://bit.ly/PMM0118. Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan ikutan workshop Basic Financial Planning info lihat di sini http://bit.ly/BFP0118.

Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik di sini t.me/seputarkeuangan. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed