Seluruh Bangunan di Bukit Algoritma Berteknologi Tahan Gempa Ala Jepang

Syahdan Alamsyah - detikFinance
Minggu, 18 Apr 2021 21:01 WIB
Sukabumi -

Rencana Indonesia untuk memiliki 'Silicon Valley' Bukit Algoritma kian dekat, setelah tiga pihak melakukan penandatangan untuk pembangunan mega proyek tersebut. Salah satunya BUMN PT Amarta Karya (AMKA), mereka yang akan mengerjakan proyek bernilai Rp 18 triliun tersebut.

Nikolas Agung, Direktur Utama BUMN PT AMKA hari ini terlihat hadir di kawasan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat bersama Budiman Sudjatmiko, Ketua Pelaksana KSO Kiniku Bintang Raya KSO dan pemilik lahan Dhanny Handoko yang juga Direktur Utama PT Bintang Raya Lokalestari (PT BRL).

"Ini mega proyek pertama, kami akan melaksanakan di tempat iini terutama untuk mendukung visi-misi mas Budiman (Budiman Sudjatmiko) untuk membantu negara kita menjadi negara yang kuat," kata Nikolas kepada awak media, Minggu (18/4/2021).

Untuk rencana yang akan dibangun dengan nilai kontrak senilai Rp 18 triliun itu adalah infrastruktur, akses jalan mulai dari tol Sesi 2 Cibadak yang direncanakan akan selesai pada bulan Agustus mendatang.

"Rencana yang akan dibangun nilai kontrak kurang lebih Rp 18 triliun adalah infrastruktur, akses jalan dari pintu tol Cibadak yang Agustus nanti bisa selesai kemudian jalan akses, jalan kawasan nanti ada penerangan, landscaping, listrik dan nanti ada gedung yang memang menjadi visi misi mas budiman, science, tekhnologi dan fasilitas umum," beber Nikolas.

Nikolas juga mengaku akan melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada pertengahan Mei mendatang. Itu akan menandakan dimulainya pengerjaan fase pertama proyek Bukit Algoritma.

"Nanti setelah Lebaran, kira-kira pertengahan Mei kita akan lakukan groundbreaking di sini. Selanjutnya kita akan masuk ke pembangunan infrastruktur jalan akses,"ungkapnya.

Soal pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG yang menyebut kawasan Cikidang dan Cibadak merupakan wilayah rawan gempa karena diapit Sesar Citarik dan Sesar Cimandiri. Nikolas memastikan pihaknya akan mengadopsi teknologi dari perusahaan Jepang.

"Kontrak yang kami tandatangani masih kontrak panjang, desain, tempat ini memang ada potensi gempa, kita akan adopsi teknologi perusahaan jepang, mereka expert membuat gedung tahan gempa. Itu prioritas," pungkasnya.

(sya/dna)