Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asnawi, mengungkapkan bahwa daging impor sulit dijual ke pasar-pasar tradisional. Selain kualitasnya yang lebih rendah, daging beku selama ini juga hampir tak pernah dijumpai di pedagang pasar becek karena tak banyak peminat.
"Kalau pengalaman pedagang, selama ini daging impor juga nggak merembes ke pasar becek. Kemudian dari sisi kualitas, daging impor juga dianggap daging sisa," jelas Asnawi ditemui di acara diskusi Rasionalitas Harga Daging Sapi, Cikini, Jakarta, Jumat (3/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pelaku penjualan daging di pasar, menurut Asnawi, dirinya pernah menjual daging sapi beku, namun rupanya tak banyak peminatnya.
"Saya dulu pernah jualan. Daging kalau dikeluarkan dari freezer itu daging langsung berubah warna sangat cepat, jadi hijau. Jadi kesimpulannya masyarakat kita tetap mengejar daging fresh," jelas Asnawi.
Dia mencontohkan, lewat banyak operasi pasar, Bulog yang selama ini rajin menjual daging secondary cut juga mengalami kesulitan menjual daging beku langsung kepada masyarakat.
"Bulog saja kan gagal. Memang daging impor ini untuk peruntukan industri, atau Horeka (hotel, restoran, dan katering)," tutupnya. (feb/feb)











































