Aroma kayu manis bercampur lavender menyeruak lembut saat memasuki rumah produksi Jakarta Candle di Desa Waringin Jaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor. Yulianah (47), sang pemilik, dengan ramah menyambut meski terik matahari pukul 13.00 siang menusuk kulit.
Sesekali ia menunjuk garasi rumahnya yang jadi area produksi, ada tungku pemanas dan material pencetak bahan lilin. Sementara, teras rumahnya dimanfaatkan sebagai tempat memoles lilin yang selesai dicetak dan didinginkan.
Ruang tamunya dipenuhi lemari berisi aneka lilin hias yang siap dikirim ke konsumen. Mulai dari taper candle, pillar candle, glass candle, custom candle hingga beeswax dengan berbagai ukuran, wewangian, dan motif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada detikcom, Yulianah menceritakan bagaimana usahanya berdiri hingga bertahan lebih dari satu dekade. Hal ini tak lepas dari dukungan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Seperti apa kisahnya?
Modal Awal Rp 5 Juta
Yulianah memulai usaha ini pada tahun 2011 di Ciledug sebelum akhirnya pindah ke Bojonggede pada 2013. Hal ini berawal dari sang suami Dhanu Trapsilo (46) yang sempat tinggal di Bali dan melihat tingginya minat masyarakat serta wisatawan terhadap lilin hias.
Berbekal rasa ingin tahu yang besar, suaminya mulai mengulik teknik pembuatan lilin sendiri. Pengalamannya yang pernah bekerja di pabrik ekstrak milik orang Prancis turut memberikan fondasi awal.
"Modal awal kita dulu sekitar Rp 5 juta untuk beli bahan baku dan mesin dowel. Awalnya aku masih kerja di perusahaan konsultan (marketing), sementara suami produksi sendiri di rumah," kenang Yulianah.
Produk pertamanya adalah lilin kayu manis. Yulianah kemudian langsung mengenalkan ke teman-temanya di tempat kerja hingga ke berbagai instansi pemerintah.
"Aku bawa ke Kementerian Koperasi. Terus ke Kementerian Perindustrian. Bawa ke temen-temen. Responnya bagus banget sih. Mereka apresiasi kita sebagai produsen," jelasnya.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Mengandalkan Media Sosial
Perjalanan awal usahanya dari 2011 hingga 2015 diakui bukanlah hal yang mudah. Tanpa adanya media sosial, pemasarannya hanya bergantung pada informasi mulut ke mulut dan mengandalkan pameran.
"Dalam setahun itu orderan (masuk) cuma 5-10 kali gitu. Jadi suami juga beli bahan bakunya (masih eceran) 1 sak, kadang kurang, ke toko kimia," ungkapnya.
Titik baliknya terjadi pada medio 2015-2016 seiring dengan populernya media sosial Instagram dan e-commerce. Ia mendapat orderan besar dari sebuah departmen store ternama sebanyak 11.000 lilin.
"Itu dulu suami yang ngerjain sendiri. Belum ada karyawan. Aku juga masih kerja... yaudah dari situ mulai. Booming-nya pas COVID," tuturnya.
Ketika pandemi COVID-19 melanda dan banyak bisnis gulung tikar, usahanya justru mengalami lonjakan permintaan. Ia pun semakin gencar melakukan promosi di media sosialnya @jakartacandle.
Bahan Baku Ramah Lingkungan
Salah satu keunggulan Jakarta Candle yang membuatnya bertahan hingga kini adalah prosesnya yang dilakukan secara handmade. Selain itu, bahan baku yang digunakan juga ramah lingkungan.
Awalnya ia menggunakan Parafin Premium yang diperoleh dari hasil penyulingan minyak bumi. Namun, kini ia lebih banyak memanfaatkan Palm Wax dari kelapa sawit yang merupakan limbah minyak goreng.
Selain itu, ia juga menggunakan Beeswax yang diolah dari limbah sarang madu. Yulianah bekerja sama dengan petani madu di berbagai daerah seperti Riau, Ujung Kulon, dan Bogor untuk mendapatkan bahan bakunya.
Karena kualitasnya yang premium dan murni organik, harga lilin beeswax ini bisa mencapai 3-4 kali lipat dari lilin biasa. Namun, pasar menengah ke atas disebutnya tak pernah ragu merogoh kocek lebih dalam demi produk tersebut.
"Karena bener-bener organik dan itu bikin orang banyak yang nyari," ungkapnya.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Tembus Pasar Nasional dan Luar Negeri
Perlahan tapi pasti, Jakarta Candle rutin produksi setiap hari untuk menjaga ketersediaan stok. Produk yang ditawarkan beragam mulai dari lilin pilar, lilin gekas, lilin batik, lilin kayu manis, lilin gerabah, lilin beeswax hingga lilin kustom. Harganya bermacam-macam mulai dari Rp 25.000-Rp 385.000.
Pengiriman terjauh mereka bahkan sudah mencakup wilayah Bali, Bandung, Surabaya, hingga Sulawesi. Khusus untuk Bali, pesanan untuk keperluan dekorasi pernikahan bisa mencapai puluhan hingga ratusan pieces setiap minggunya.
Selain itu, Jakarta Candle juga sudah punya pembeli tetap dari Malaysia, Singapura, dan Australia. Lilin-lilin mereka disukai pelaku usaha florist, usaha dekorasi pernikahan termasuk pernikahan di luar negeri dan kelas-kelas meditasi.
"Kita juga sedang penjajakan prospek ekspor ke Belanda untuk produk lilin outdoor," ungkapnya.
Namun, ia mengakui saat ini penjualannya sedang menurun. Tapi jika pesanan ramai dalam satu bulannya Jakarta Candle mampu menerima order hingga ribuan batang lilin. Tak jarang Yulianah dan suaminya turut mengajak tetangga untuk membantunya bekerja pada bagian tahap akhir.
Pendampingan dari BRI
Di balik kesuksesan Jakarta Candle ini, ternyata ada proses pembinaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Yulianah adalah seorang nasabah BRI yang mengandalkan kemudahan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada 2015 dari BRI Unit Bojonggede.
Hal itu Yulianah lakukan untuk mengembangkan usahanya, seperti membeli bahan baku dalam skala besar. Permodalan itu diperlukannya untuk membuat usahanya naik kelas. Yulianah mengaku mendapatkan KUR total Rp 50 juta dari BRI Unit Bojonggede.
"Aku pakai KUR itu 2015 atau 2016 gitu. Itu aku masih pakai. Awalnya itu cuman Rp 10, 15 sampai 25 juta kayak gitu kan. Alhamdulillah usahaku mulai stabil jadi nggak diterusin lagi," ungkapnya.
"Tapi sempat ditawarin juga 'Bu mau nggak top up Rp 50 juta. Karena pembayarannya bagus, nggak pernah nunda gitu kan', terakhir aja di nawarin Rp 100 juta gitu ya," imbuhnya.
Tak hanya KUR, Yulianah juga turut tampil dalam pameran BRI UMKM EXPO(RT) yang digelar di ICE BSD, Tangerang pada 30 Januari-2 Februari 2025 lalu. Ia merupakan satu dari 1.000 UMKM yang berkesempatan ikut pameran dan masuk dalam 200 UMKM yang mendapatkan pendampingan usaha setelah pameran.
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
UMKM Pilar Ekonomi
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk) (BRI) terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berperan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.
Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran kredit yang menunjukkan akselerasi yang solid.
Hingga kuartal I-2026, total kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan fokus BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan.
"Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun" jelas Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantot Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).
"Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah," imbuhnya.
Sebagai informasi, BRI terus komitmen menjalankan berbagai program pemberdayaan untuk pelaku UMKM. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.
Simak juga Video 'Wanti-wanti Ulama soal Tradisi Tiup Lilin saat Ulang Tahun':
(akd/ega)












































Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom