Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 03 Okt 2018 18:07 WIB

Sri Mulyani Berharap Bencana Alam Tak Pengaruhi Ekonomi RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Kementerian Keuangan mengharapkkan bencana alam yang terjadi beberapa waktu ini tidak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, bencana alam yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak akan mempengaruhi proyeksi pemerintah terhadap perekonomian sebesar 5,2% hingga akhir tahun ini. Hal ini karena kontribusi kedua wilayah tersebut kecil ke perekonomian.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama kuartal II 2018 distribusi pertumbuhan ekonomi Sulawesi ke perekonomian nasional hanya 6,2% secara tahunan, sementara kontribusi ekonomi Bali dan Nusa Tenggara ke perekonomian nasional hanya 3,06%. Angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan Jawa yang berkontribusi ke perekonomian nasional sebesar 58,61% dan Sumatera 21,54%.

"Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, kami harapkan tidak akan terlalu banyak mempengaruhi. Tentu karena kami lihat dari sisi kontribusinya terhadap keseluruhan GDP (gross domestic product) kita, kebetulan untuk Sulawesi Tengah dan NTB itu tidak sangat signifikan," ujar Sri Mulyani di komisi XI DPR, Jakarta (3/10/2018).



Sri Mulyani mengharapkan pemulihan di daerah yang terkena bencana tersebut bisa kembali normal agar perekonomian bisa tumbuh.

"Kami tentu juga berharap proses dalam rehabilitasi dan rekonstruksinya bisa menimbulkan dan mengembalikan tingkat aktivitas ekonomi di kedua daerah tersebut, juga akan positif terhadap ekonomi kita," tambahnya.

Untuk memulihkan perekonomian di wilayah tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya meminta industri perbankan bisa memberikan keringanan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana alam tersebut. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan kredit saha rakyat (KUR) bagi pelaku usaha ultra mikro untuk membantu perekonomian.

"Kalau measure kembalikan ekonomi, sama seperti yang sebelumnya. Semua kredit-kredit perbankan bisa dihapuskan, sehingga tidak timbulkan beban. Kami juga akan tambah apakah ultra miro KUR ke sana. Kalau konstruksi, kami lihat siapa kontraktornya sehingga bisa timbulkan kegiatan ekonomi," jelasnya.


(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com