Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 21 Jan 2020 09:46 WIB

Subhash Chandra, Penguasa Media India yang Tak Lulus SMA

Soraya Novika - detikFinance
Foto: Dok. Forbes/Subhash Chandra
Jakarta - Subhash Chandra merupakan pendiri salah satu perusahaan terbesar di dunia bernilai US$ 4 miliar atau Rp 56 triliun (kurs Rp 14.000), Essel Group. Di India, ia dikenal dengan sebutan penguasa media karena menjadi pelopor stasiun televisi satelit swasta pertama, Zee TV.

Zee TV kini merupakan saluran televisi berlangganan terbesar dan paling populer di India, mengalahkan Sony Entertainment Television dan Star Plus. Zee TV juga memiliki beberapa stasiun televisi lokal dalam beberapa bahasa daerah yang sampai saat ini memiliki 32 juta pelanggan di India.

Tak hanya Zee TV, Chandra juga merajai banyak saluran televisi lainnya di bawah Zee Network. Bila ditotal, Zee Network sampai saat ini tercatat memiliki jumlah pelanggan setia hingga lebih dari 500 juta orang di 167 negara.

Namun, siapa sangka, salah satu konglomerat dunia ini tak lulus dari bangku SMA. Keterbatasan pendidikan ini justru membuatnya bangkit untuk menemukan jenis bisnis apa yang tepat baginya hingga akhirnya sukses.

Kini, berdasarkan catatan Forbes di 2019, Chandra menempati urutan ke 916 orang terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai US$ 2,6 miliar atau setara Rp 36,4 triliun (kurs Rp 14.000).


Perjalanan Chandra membangun kerajaan media di India tidak hanya dalam sekejap mata. Ia masuk ke industri itu pertama kalinya ketika mendirikan Zee TV pada 1992.

Keputusannya terjun ke industri televisi kabel rupanya tak keliru. Lewat Zee TV ternyata bisnis media Chandra terus berkembang. Penciuman bisnis Chandra yang tajam ini sudah terasah sedari ia masih muda.

Chandra lahir di Hissar, kota kecil di sebelah utara India, pada 30 November 1950. Dia terlahir dari keluarga pedagang beras ternama di India.

Sejak muda, dia memang sudah menaruh minat besar pada dunia bisnis. Namun, sebelum itu ia bercita-cita hendak menjadi seorang insinyur.

Akan tetapi, takdir berkehendak lain. Oleh karena keluarganya waktu itu salah langkah dalam mengembangkan bisnis mereka, akhirnya bisnis itu pun mengalami kerugian besar dan akhirnya terpaksa ditutup.

Hal itu membuat Chandra terpaksa dikeluarkan dari bangku sekolahnya, tepat saat ia sudah berada di kelas 12 atau kelas 3 SMA.

Chandra yang saat itu baru berusia 17 tahun, akhirnya langsung bertekad menjadi pebisnis tulen di perdagangan beras.

Naluri bisnis Chandra benar-benar terasah sewaktu mengurusi bisnis beras milik keluarganya itu. Dia berhasil mengembangkan bisnis beras tersebut sehingga bisa masuk ke dalam salah satu eksportir beras ternama di India.

Akan tetapi, ia tidak puas hanya berdagang beras. Chandra pun mulai mencoba-coba bisnis lain yang berpeluang mendatangkan untung lebih besar.


la pun menjajal peruntungan bisnis minyak sayur. Chandra kemudian membangun pabrik minyak sayur. Hanya dalam waktu singkat, minyak sayur buatan pabrik Chandra telah menguasai pasar. Dua tahun berdiri, omzet penjualan pabrik minyak sayur itu mencapai US$ 2,5 juta per tahun.

Cuan yang diperolehnya tersebut kemudian mengantarkannya pada jenis bisnis lainnya. Pada 1981, ia terjun ke bisnis kemasan. Chandra memperoleh ide bisnis kemasan itu setelah mendatangi pameran usaha pengemasan.

Tanpa pikir panjang Chandra mendirikan Essel Packaging Limited dan usahanya menjadi salah satu pionir bisnis pengepakan barang di India.

Essel Packaging makin menggurita setelah melakukan penggabungan usaha alias merger dengan perusahaan pengepakan asal Swiss bernama Propack AG.

Klik halaman berikutnya >>>
Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Bendera India Dibakar, Dubes Ogah Temui Massa Aksi"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com