Kisah Inspiratif

Terkaya Nomor 6 Dunia, Ini Dia Bos e-Commerce Terbesar dari Jepang

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 01 Jul 2020 08:55 WIB
Rakuten
Foto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II

Secara akademik dan karier sebenarnya Mikitani muda sudah tergolong cukup cemerlang. Ia merupakan lulusan sarjana perdagangan dari Universitas Hitotsubashi pada tahun 1988. Kemudian menyelesaikan gelas master di bidang Administrasi Bisnis dari Harvard Business School tahun 1993 lalu.

Setelah lulus, ia sempat berkarier di AS. Akan tetapi, pada 1995 terjadi gempa bumi besar di tempat kelahirannya, Kobe, Jepang, sehingga membuat Mikitani harus meninggalkan pekerjaannya serta kembali ke negara asalnya untuk membantu merevitalisasi ekonomi Jepang saat itu.

Setelah kembali ke Jepang, Mikitani tertarik bekerja di perusahaan lain. Sebagai gantinya, ia mulai mencari model bisnis yang berbeda untuk memulai bisnis barunya sendiri.

Pada saat itu, internet merevolusi berbagai industri dan menjadi awal bagi perkembangan bisnis e-commerce. Meski berisiko, Mikitani malah semakin matang mendirikan situs web e-commerce nya sendiri.

Maka saat itu, tepatnya per 7 Februari 1997 ia mendirikan perusahaan bernama MDM, Inc. dengan tiga pendiri lainnya, sekaligus meluncurkan Rakuten. Pada 1999, perusahaan itu berganti nama menjadi Rakuten Inc. Hanya dalam 3 tahun, tepatnya pada tahun 2000, perusahaan ini langsung go publik di JASDAQ. Rakuten menjadi populer dalam waktu singkat dan berkembang menjadi 2.300 toko dan 95 juta tampilan halaman per bulan.

Tahun berikutnya, Rakuten meluncurkan Rakuten Travels, sebuah platform reservasi hotel online. Pada 2004, Rakuten memulai layanan keuangannya dan meluncurkan kartu kredit Rakuten.

Sejak saat itu, Rakuten menjadi raksasa teknologi terbesar yang mengoperasikan bank Internet terbesar di Jepang dan perusahaan kredit terbesar ketiga di sana.

Mikitani kemudian mendirikan Institut Teknologi Rakuten di Tokyo. Hingga akhirnya, pada 2012, Rakuten resmi berdiri di berbagai negara mulai dari Hong Kong, Korea, China, Taiwan, Thailand, Austria, Kanada, Spanyol bahkan hingga Prancis.

Pada Maret 2015, Rakuten mulai perdagangan dalam Bitcoin. Perusahaan ini juga membuat beberapa akuisisi yang menghasilkan banyak keuntungan dalam bisnis di luar negeri termasuk Buy.com, PriceMinister, layanan e-book Kobo, Ebates, dan juga aplikasi perpesanan Viber.

Pada 2017, Rakuten memiliki lebih dari 14.000 karyawan, lebih dari 42.000 toko di situs e-commerce, dan penjualan hampir US$ 6 miliar, dengan lebih dari 100 juta anggota di Jepang.

Halaman

(fdl/fdl)