Follow detikFinance
Senin 31 Oct 2016, 08:29 WIB

Wawancara Khusus Ketua Kadin

Berantas Pungli Jangan Hanya Shock Therapy

Muhammad Idris - detikFinance
Berantas Pungli Jangan Hanya Shock Therapy Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) gencar memberantas pungli alias pungutan liar. Ini merupakan salah satu jurus Jokowi menghilangkan ekonomi biaya tinggi sekaligus memperbaiki kemudahan berbisnis di Indonesia.

Upaya ini juga dipertajam dengan membentuk satgas saber alias satuan tugas sapu bersih pungli. Para pelaku pungli satu demi satu ditangkap, mulai dari oknum aparat penegak hukum hingga PNS.

Lantas, bagaimana respons pengusaha terhadap aksi sapu bersih Pungli itu? Sudahkah pengusaha merasakan hasilnya?

Berikut petikan wawancara detikFinance dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, di kantornya, Menara Kadin, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Seberapa parah pungli yang dialami pengusaha?

Parah, tapi harus diakui juga pengusaha jangan kasih. Tapi kalau nggak kasih jadi lama, makanya bagi kita kayak buah simalakama.

Bagaimana pengusaha memandang aksi berantas pungli yang gencar dijalankan Presiden Jokowi?

Harus jihad total sama pungli. Sekarang sebagai shock therapy bagus, tapi kuncinya harus konsisten.

Apa solusinya untuk menghilangkan praktik pungli?

Kalau bisa online dibuat online saja, nggak bertatap muka, kuncinya online. Jadi semua lebih terdata. Kalau nggak, begini-begini terus.

Potong mata rantai birokrasi yang panjang. Kalau satu izin perlu ke 10 meja, pasti potensi punglinya semakin besar. Itu yang membuat daya saing kita lemah, nomor satu karena korupsi, pungli ini masuk juga ke korupsi.

Apakah upaya pemberantasan pungli sudah kelihatan hasilnya?

Untuk shock therapy iya. Jadi shock therapy bagus, tapi selanjutnya apa? Nggak bisa hanya sementara saja. Jihad total saya bilang. Kalau nggak ada kelanjutan ya balik lagi.

Jika praktik pungli dihilangkan, apa dampaknya bagi peringkat kemudahan bisnis Indonesia?

Kalau bisa diatasi (pungli), naiknya signifikan, bisa banget sampai 40. Belajar saja dari Singapura bisa nomor 2. Memang persoalannya Indonesia luas, nggak bisa segampang itu, tapi yang penting harus terus menerus dilakukan. (hns/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed