Follow detikFinance
Selasa 13 Dec 2016, 07:04 WIB

Wawancara Khusus

Kepala SKK Migas: Sudah Nggak Ada Lagi yang Kirim Parsel

Michael Agustinus - detikFinance
Kepala SKK Migas: Sudah Nggak Ada Lagi yang Kirim Parsel Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Citra Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) jatuh ke titik nadir pada 2014 lalu. Pucuk pimpinannya saat itu, Rudi Rubiandini, tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat sedang menerima suap.

Penangkapan Rudi membuka fakta praktik korupsi di badan yang mengelola sektor hulu migas nasional ini. Untuk memulihkan citra, memperbaiki sistem, dan membangun kultur baru yang anti korupsi di SKK Migas, pemerintah mengangkat Amien Sunaryadi sebagai Kepala SKK Migas pada 21 November 2014.

Pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KPK pada periode 2003-2007 ini dipercaya bisa membuat SKK Migas lebih bersih dan transparan. Begitu diangkat, Amien membuat terobosan mulai dari menghentikan sewa ruangan mewah yang luasnya separuh lapangan sepak bola untuk Kepala SKK Migas, reorganisasi, mencopot pejabat korup, hingga membangun sistem dan kultur baru.

Di atas kapal, saat kunjungannya ke Pulau Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (8/12/2016) pekan lalu, Amien bersedia menerima detikFinance untuk wawancara khusus. Berikut petikannya:

Apa saja upaya yang Bapak lakukan selama 2 tahun ini untuk membuat SKK Migas bersih dan transparan?
Memang sekarang lebih bersih? Ha ha ha. Yang dilakukan di SKK Migas itu begini, pertama dibuat pakta integritas online. Jadi kalau log on di komputer, nggak akan bisa masuk sampai baca 8 poin pakta integritas dan setuju dengan semuanya. Baru nanti ada tulisan submit, artinya setuju dengan keseluruhan, baru bisa masuk.

Sistem komputer ini diatur 6 bulan sekali harus begitu. Jadi nanti 1 Januari dan 1 Juli semuanya kalau mau masuk komputer pasti lewat itu. Pakta integritas itu salah satu yang dilakukan.

Kedua, saya jelaskan ke internal SKK Migas, ke KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), maupun industri penunjuang hulu migas, bahwa ada '4 No'. Yaitu No Bribery, artinya tidak boleh ada suap menyuap. No Kickback, artinya tidak boleh ada semacam komisi untuk pembelian-pembelian barang, itu nggak boleh. Kemudian No Gift, nggak boleh ada pemberian-pemberian hadiah. Pengertiannya begini, orang kasih saya mobil, motor gede, duit itu nggak boleh. Tapi kalau saya jadi pembicara seminar, dikasih plakat atau sertifikat, itu boleh, jadi souvenir saja bukan gift.

Lalu No Luxurious, misalnya kalau saya main ke kantor detikcom, saya dijamu atau ditraktir boleh saja, tapi yang biasa saja. Makan nasi kotak boleh, nasi padang boleh, tapi kalau dijamu di restoran yang satu porsinya Rp 1 juta, itu nggak boleh. Jadi yang wajar-wajar saja.

Waktu pertemuan dengan seluruh pegawai SKK Migas, saya ngomong lantang begitu. Artinya begini, kalau suatu saat saya terima sogok atau komisi, mereka serang saya, jadi ada yang mengawasi. Kalau saya tidak melakukan, mereka pasti segan untuk melakukan.

Saya omong hal yang sama ke KKKS. Jadi KKKS juga clear, mau lebaran nggak perlu kasih apa-apa. Pada lebaran 2015-2016 nggak ada parsel titipan, enak kan? Nggak repot-repot menolak, buat aku clear, nggak boleh.

Kepala SKK Migas: Sudah <i>Nggak</i> Ada Lagi yang Kirim ParselFoto: Michael Agustinus


Adakah KKKS atau pihak lain yang mengirim parsel untuk Pak Amien?
Nggak ada. Yang ada 3 BUMN waktu saya ulang tahun mereka tiba-tiba kasih bunga. Kirim bunga sudah sampai di kantor masak ditolak? Ya saya bilang terima saja, terus saya minta ke sekretaris saya, bilangin terima kasih bunganya tapi berikutnya nggak usah ngirim-ngirim lagi. Dari 3 ini 2 mengerti, 1 kirim lagi karena rupanya nggak dikasih tahu.

Jadi dengan pesan seperti saya awasi mereka (karyawan SKK Migas), mereka awasi aku. Orang SKK Migas mengawasi KKKS, KKKS mengawasi orang SKK Migas karena tahu ini boleh dan ini tidak boleh. Itu yang dilakukan. Di SKK Migas juga ada whistle blower system. Kalau ada mengadu, silakan lewat situ.

Apakah ada banyak pengaduan yang masuk lewat whistle blower system?
Nggak banyak tuh, ada beberapa. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, saya tinggal panggil pengawasan internal, kamu periksa itu, laporannya langsung ke saya.

Ada tindak lanjut dari pelaporan yang masuk ke whistle blower system?
Belum ada yang kesimpulannya pelanggaran. Yang paling banyak orang kalah tender mengadu, banyak itu. Kalau dia kalah tender merasa ini nggak boleh, mestinya boleh, buat aku itu urusan tender, yang menangani bagian rantai suplai. (wdl/wdl)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed