Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Des 2016 09:21 WIB

Wawancara Khusus Kepala BPJT

Membangun 1.000 Km Jalan Tol dalam 5 Tahun

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Fadhly Fauzi Rachman Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Pemerintah Indonesia tengah menggenjot sejumlah proyek pembangunan infrastruktur yang ada. Salah satu yang ditekankan dan menjadi fokus perhatian adalah pembangunan jalan tol.

Selama periode kabinet kerja pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 2014-2019, ditargetkan sedikitnya 1.000 kilometer (km) jalan tol bisa terbangun.

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, berbagi cerita tentang seluk beluk target pembangunan tersebut dari mulai sejarahnya, pelaksanaannya, hingga realisasinya pada saat ini, serta strategi mewujudkan 1.000 km jalan tol hingga tahun 2019.

Berikut petikan wawancara khusus Herry bersama detikFinance, Selasa (20/12/2106):

Bagaimana kondisi jalan tol di Indonesia saat ini?

Kita masih ada beberapa ketertinggalan, yang utamanya adalah kuantitas. Kita sekarang sudah punya 984 km jalan tol seluruh Indonesia yang sudah beroperasi, kalau target berapa kali kabinet itu 1.000 km-an terus. Nah hari ini, salah satu yang harus diwujudkan 5 tahun ke depan adalah 1.000 km jalan tol, sampai 2019.

Jadi tantangan pertama adalah mengejar ketertinggalan dari segi kuantitas tadi. Kenapa saya bilang mengejar? Karena selama ini, angkanya ya walaupun di target 1000 km, tapi capaiannya tidak bisa sampai segitu. Nah di 5 tahun ke depan ini, target yang di tentukan itu bisa kita capai. Itu dari sisi kuantitas.

Karena ditargetkan 1.000 km, maka ini kita coba petakan, muncullah 1.060. Jadi 60 itu masing-masing ruas, ya dengan ukuran yang tidak terlalu pesimistis juga tidak terlalu optimistis, kita coba kuantifikasi.

Misalnya waktu itu kita bilang, Trans Jawa harus selesai. Karena sudah berapa kali di-recycle saya pikir tidak baik juga kalau ditargetkan di kabinet ke depan. Jadi ini yang di depan mata kita selesaikan dulu, Trans Jawa. Itu udah dapat separuhnya lah (dari target) sekitar 600 km. Nah kalau Trans Jawa selesai kita ambil dari lain-lain, yang baru muncul, misalnya Sumatera kontribusinya berapa kilometer, Samarinda berapa kilometer, Manado berapa kilometer.

Apa tantangan terbesar mencapai target pembangunan 1.000 km jalan tol hingga 2019 dan apa yang dilakukan pemerintah saat ini?
Nah yang kita lihat itu tentu saja masalah tanah. Tanah ini umumnya nggak ada, uangnya juga nggak ada. Padahal aturannya sudah bagus tinggal bayar. Kalau dulu aturannya nggak bagus uangnya relatif ada. Untungnya kemarin keluarlah dana talangan, yang LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) itu. Itu salah satu cara kita mengatasi masalah.

Kalau kita lihat starting awalnya, itu berat sekali. Tanah juga nggak ada. Tapi kalau kita lihat hari ini, sejauh ini kita lihat, Trans Jawa bulan Desember bebas semua. Itu bisa disebut keajaiban.

Kenapa keajaiban? Karena undang-undangnya berproses menjadi lebih baik. Pada titik ini undang-undangnya sudah bagus sekali, walaupun duitnya nggak ada. Itu nggak apa-apa, masalah tadi harus dicari solusinya.

Apa terobosan yang dilakukan agar proses pembangunan 1.000 km jalan tol bisa cepat terealisasi?

Kalau dulu kan ada klausul, baru boleh bekerja setelah tanah bebas 100%. Kalau tunggu begitu bagaimana? Terus baru bisa lelang kalau ada tanah. Loh kita ini tanahnya nggak ada, itu sama saja kita nggak boleh bangun. Kalau sekarang masalah tanah ini pelaksanaannya sudah bagus, tapi uangnya nggak ada, jadi sekarang harus ada yang bersedia menalangi atau membayari tanah itu.

Kalau BUJT ada uangnya, tinggal dibujuk untuk menalangi, nanti akan dibayar oleh LMAN, akhirnya mereka mau.

Dengan terobosan ini, apa Anda yakin 1.000 km jalan tol bisa terbangun hingga 2019?

Insya Allah terpenuhi, syukur-syukur malah lebih. Sekarang masih saya coba petakan, banyak tambahan-tambahan, misalnya Sumatera. Jadi itu yang lagi saya lihat, kita petakan, kira-kira tambahannya ini berapa dari 1.060 km. Ini minimun yang kita capai, tapi kita potensi lebih dari itu.

Lalu yang lain, terkait dengan kuantitas, saya melihat ada yang sering kita enggak punya, yaitu disiplin merencanakan. Jadi mimpi itu harus dibuat berseri, jangan mimpi hanya 1.000 km, ya sekarang kita punya target 1.000 km, nanti kedepan harus punya target juga, jadi berkelanjutan.

Artinya hari ini kita sudah antisipasi mewujudkan mimpi di episode dua tadi. Kalau untuk saat ini, memang fokus di episode satu, sehingga semua tenaga ke situ, tapi dengan nanti Trans Jawa selesai, kita harus sudah berpikir lima tahun ke depan mana yang kita wujudkan. Yang paling penting adalah tanah, tanah itu harus sekarang. Jadi pada saat tahun kelima kita mau bangun, kita tinggal lelang dengan gagah. (wdl/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed