Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 09 Mei 2018 07:30 WIB

Wawancara Bos GarudaFood

Sudhamek, Korban Bully yang Jadi Orang Terkaya RI

Trio Hamdani - detikFinance
3 Tips untuk Sukses di Kehidupan
Halaman 4 dari 4
Sudhamek. Foto: Trio Hamdani/detikFinance Sudhamek. Foto: Trio Hamdani/detikFinance

Pandangan Anda tentang hidup seperti apa? Apa sudah puas dengan capain sejauh ini?
Kalau bilang puas nggak puas gini, kalau puas itu diartikan kita berhenti saya bukan tipe orang yang tidak pernah puas tapi saya tipe orang yang rajin bersyukur. Saya dalam hidup itu ya saya tarik diri saya, berhenti saya, bersyukur. Sehingga pandangan hidup saya dalam hidup itu harus bermakna bagi banyak orang. Kalau kita hanya untuk bermakna bagi diri sendiri takutnya malah nganggur. Sudah tidak bisa bermakna bagi orang lain, hidup kita juga lebih nggak bahagia.

Hal-hal positif apa yang sejauh ini sudah Anda tularkan ke orang-orang, dan kira-kira hal positif apalagi yang mau ditularkan ke orang-orang?
Yang terpenting bagi saya adalah kelangsungan dan keberhasilan kami membangun pribadi pribadi unggul itu. Membangun yang disebut spirituality base company/sbc. Kalau itu semakin magnitudenya semakin besar tidak hanya untuk GarudaFood tapi juga suppliernya ketularan, customernya juga ketularan.

Bagi saya itu adalah legacy yang terpenting dalam hidup saya. Nah itu istilahnya saya kalau meninggal saya hanya ingin ingat-ingat itu saja di saat-saat terakhir saya sehingga itu lah yang akan membuat saya meninggal dengan tersenyum, karena itu lah yang dikatakan hidup yang bermakna. Jangan yang sifatnya hidup yang hanya menikmati diri sendiri atau bahkan good live sekalipun hanya urusi diri sendiri tapi tidak mau berbagi. Kalau orang yang hidup bermakna itu orang yang mau berbagi.

Nah masalahnya di Indonesia ini sekarang konglomerat itu tanpa disadari sepertinya tanpa disadari dan tanpa sengaja itu mendorong orang untuk mendefinisikan yang namanya sharing itu dalam satu artian yaitu material. Padahal sharing itu tidak hanya materi. Sharing yang tertinggi itu sebetulnya adalah sharing tentang ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan dalam bidang keagamaan.

Itu kalau berdakwah itu kalau benar itu pasti jurusannya surga. Tapi sebaliknya itu juga paling besar risikonya. Risikonya masuk neraka kalau dia sampai ngajarin orang sampai sesat itu.

Yang kedua urutannya berbagi itu adalah berbagi tentang kehidupan. Jadi membuat pasangan hidup kita bahagia misalnya.

Yang ketiga baru sifatnya itu material atau financial sharing. Itu urutannya ketiga. Ini kan kita zamannya materialisme sehingga tanpa sadar orang cenderung segala sesuatu diukur dengan material. Makanya saya nggak terlalu suka dengan istilah filantropis. Filantropis itu sudah terlalu dimaknai dengan bagi bagi materi.

Tapi lalu di balik ya sudah walaupun saya kaya ya tapi karena itu hanya ranking ketiga saya nggak mau kasih duit deh kalau butuh waktu saya saya bantu. Nah sudah berpikir begitu pun itu artinya sharing yang dilakukan non material itu pun tidak tulus. Gimana orang anda punya kelebihan nggak mau sama sekali.

Maksud saya begini, walaupun anda berdana Rp 100 juta dibandingkan dengan yang katakanlah Rp 1 miliar bisa saja pahalanya lebih besar yang Rp 100 juta kalau dikombinasikan dengan live sharing.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com