Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 01 Apr 2019 07:59 WIB

Wawancara Tiara Eve

Perjalanan Karir Tiara Eve, DJ Cantik Melirik Bisnis Kosmetik

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
1 Wawacara Lengkap
Halaman 2 dari 2
Tiara Eve di IFF 2019. Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance Tiara Eve di IFF 2019. Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikFinance

Dari DJ, kenapa masuk bisnis kosmetik?
Dari DJ kenapa ke kosmetik, kalau aku jujur dari bisnis, karena aku melihat bakal booming, dari Instagram gampang jualannya. Terus di Indonesia orangnya narsis-narsis kenapa salah satunya Instagram paling aktif di Indonesia. Itu dari sisi research.

Aku coba, kenapa lipstik pertamanya, karena orang ganti-ganti. Awalnya bukan dari beauty passion, tapi dari sisi bisnisnya.

Sisi bisnisnya aku coba combine, apa yang aku suka. Misalnya bikin beauty yang aku banget gimana, terus yang mungkin bisa lebih ke dunia entertainment, dari brandingnya, lebih seru, ada musik-musiknya, dan lain-lain. Jadi sebenernya awalnya karena mungkin udah bosen nge-DJ kali. Hahaha

Sudah lama ya bikin usahanya?
Develop-nya 2 tahun, launchingnya baru 7 bulan. Nood Cosmetics.

Perjalanan memulai bisnis seperti apa, bisa dijelaskan?
Karena aku memang baru kan, sebelumnya nggak ada bisnisnya juga. Ini bisnis pertamaku juga, yang benar-benar ada kantor. Memang nggak gampang sih, aku tanya-tanya orang, dan lain-lain. Temen-temen yang biasa bisnis. Kemudian bangun business plan, jadi itu modal pertama.

Terus marketing berapa, six month marketing, promo berapa, lost berapa. Kaya matematika standar saja.

Habis itu ntar kalau ada kenapa-kenapa belajar sendiri. Memang trial and error, cuma kalau passion di situ ada jalan keluar.

Produksi di kantor sendiri?
Enggak, produksi di Jakarta Barat, ada pabriknya sendiri. Namanya Sarifindo, yang bikin Martha Tilaar, banyak yang bikin di situ. Karena harus ada izin sendiri, kita nggak bisa diaduk-aduk nggak bisa, cuma brandingannya kita ada kantornya.

Awal produksi gimana?
Kalau develop 2 tahun lalu, tapi salah melulu, yang tadinya warna sudah OK jadi gelap banget. Udah OK formulanya jadi keset. Itu biasalah pabrik-pabrik. Bolak balik sampai perfect, lock banget 2 tahun. Sampai izin, BPOM, PT segala macam memang dari nol sih, dari nggak pernah ngerti membangun, nama PT-nya aja Cantik Makmur Selamanya. Jadi yang asal-asal aja. Semua cewek kan pengen cantik, pengen makmur selamanya. Jadi yaudah.

Itu awal langsung produksi gede?
Itu ada minimalnya 12.000 (item). Itu harus, kaya packaging kita harus minimal 12.000 packaging itu yang kepentok di situ. Kenapa jadi modalnya gede.

Kalau formulanya?
Formulanya ngikutin, berarti berapa kg, tapi yang lebih gede biasanya quantity packaging. Kalau formula itu per kg, kalau per kg 1.000-2.000 masih bisa masuk. Cuma packaging harus dengan harga segitu harus 12.000, minimal 10.000.

Satu produk, habisnya?
12.000, Rp 250 juta sampai Rp 300 juta itu belum sama promo. Itu produk awalnya saja.

Dengan pemasaran?
Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar.

Sekarang berapa produk?
Sekarang sisa 2.000 dalam 7 bulan, berarti sudah keluar 10.000-an. Cuma duitnya dipakai buat produk baru eye brow, 12.000 lagi, Rp 300 juta lagi.

Sasaran produk ini?
Milenial sih, Nood milenial banget, kalau milenial pakai, emak-emak , ibu-ibu, tante-tante pasti ngikut.

Per produk, 1 lipstik berapa harganya?
Rp 155 ribu, (modalnya?) jangan ditulis tar ketahuan untungnya

Sudah untung?
Untungnya kita pakai untuk produk baru eye brow, jadi kita nggak terlalu nyuntik banget.

Bisa dikatakan impas, tapi punya produk baru?
He em, he em.

Tantangannya apa bisnis ini?
Tantangannya gimana cara lomba yang lagi booming, karena orang karena make up, influencer ini pakai baru dia pakai, padahal nggak harus juga kan.

Untungnya Nood ada yang emang suka jatuh cinta brandingnya, dan nyobain lipstiknya OK, jadi mereka percaya apa yang dikeluarkan setelahnya berkualitas.

Sebulan nilai omzetnya berapa?
Awal-awal pas lagi orang coba-coba bisa Rp 70 jutaan kalau nggak salah, kalau stabilnya Rp 40-60 juta. Rp 30-40-60 juta ya gitu deh. Rp 40 juta an sih. Cuma ada biaya kantor, harus dilihat dari situ. Cuma untuk 7 bulan not bad sih.

Jualannya online saja?
Yang (offline) Goods Dept, ama Tony and Guy Salon.

Sisanya?
E-commerce, Instagram, Whatsapp, Line

Tadi ekspor disinggung, kenapa?
Untuk shiping kan? Mahal banget, nggak ngerti kenapa mahal banget. Kuala lumpur aja bisa Rp 70 ribu, apalagi ke Hong Kong, Amerika bisa lebih mahal harga shipingnya.

Jadi aku nggak tahu gimana, aku cek yang hub di Melbourne itu bener-bener jauh banget. Makanya kenapa kok orang-orang di China, atau online shop Amerika sering ada sponsor masuk di Instagram kita, sebenarnya hub di Amerika, mereka dengan gampangnya bisa jualan ke kita dengan harga shiping yang murah, tapi kita nggak bisa sebaliknya. Itu kenapa. Sampai sekarang belum ada jawabannya. Aku sudah kulik-kulik tapi memang nggak ada itu. Pokoknya mahal aja.

Semua delivery company, memang pemerintah, peraturannya, atau emang, nggak tahu kenapa. Tapi aku udah usaha.

Langganan di luar negeri di mana?
Di Australia, cuma biasanya ada re-sellernya sama di Malaysia. Aku juga lagi kontak-kontakin temen aku yang tinggal di sana supaya bisa jadi hubnya.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com