Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 02 Des 2019 19:38 WIB

Wawancara Khusus Menteri Koperasi dan UKM

Panglima Domba yang Jadi Menteri Jokowi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Edi Wahyono Foto: Edi Wahyono

Selain UMKM, koperasi. Koperasi disebut sokoguru bangsa tapi paling tidak 5 tahun terakhir ada dan tiada. Bagaimana membenahi membangun koperasi?
Koperasi memang sudah lama lah di-brand begitu berat, soko guru ekonomi nasional. Tapi faktanya kan tidak bahkan di masyarakat nama koperasi tidak terlalu bagus, selain dianggap kelas dua, kecil, usaha kecil. Padahal kalau kita lihat luar negeri contoh koperasi susu di New Zealand besar sekali, atau koperasi gandum di Australia besar sekali. Negara-negara di Eropa juga seperti bank dimiliki koperasi. Kayaknya ada yang keliru dalam pengelolaan koperasi di kita. Cuma kalau dilihat dari waktu ke waktu koperasi di Indonesia d-idrive oleh pemerintah, zaman Pak Harto bikin, bangun gede.

Yang penting massal?
Ini saya kira mungkin kita tidak bisa meneruskan. Memang regulasi-regulasi memudahkan koperasi tumbuh besar yang harus kita lakukan, kesempatan berusaha. Tapi selebihnya bagaimana menghadirkan koperasi bisnis yang menguntungkan masyarakat. Koperasi kumpulan orang-orang, bukan kumpulan modal.

Dengan tadi struktur ekonomi kita yang mayoritas 99% UMKM, sebenarnya cocoknya koperasi mereka bergabung. Ada komitmen, solidaritas anggota mengonsumsi produk koperasi, simpan pinjam sesama anggota, sehingga menjadi kekuatan ekonomi.

Tapi harus menjadi sebuah kesadaran dari masyarakatnya sendiri. Dan kalau kita lihat di luar yang saya sebut tadi koperasi di koperasi produksi, sektor riilnya. Di kita lebih banyak berkembang koperasi simpan pinjamnya.

Saya mau fokus tadi coba memulai mendesain koperasi gaya baru lah, lebih modern menggunakan teknologi di sektor produksi. Kita coba sekali lagi. Selain introduce koperasi yang modern di kalangan mahasiswa, pesantren. Saya kira butuh menambah entrepreneur baru, kita harus mulai masuk usia dini, dari sekolah dari kampus.

Ada audit pertumbuhan koperasi dari waktu ke waktu?
Kalau saya lihat koperasi dan UMKM itu tumbuhnya rendah sekali 0,02% (per tahun). Rendah. Ini tantangan.

Selain keberatan jargon, soal citra yang dianggap 'ecek-ecek' bagaimana membenahinya?
Itu saya juga menganggap bukan hal mudah, nggak bisa cepat harus ada role model, supaya koperasi bisa menjadi usaha yang menguntungkan, supaya bisa bersaing korporasi biasa, baru kita bisa me-rebranding koperasi di masyarakat yang sudah terlanjur sudah menganggap koperasi itu ya kegiatan.

Dulu yang sering disebut koperasi batik, masih ada?
Beberapa sih masih, tapi sekali lagi menurut saya yang paling besar banyak koperasi simpan pinjam. Dari tiga koperasi terbaik di Pekalongan, NTT, Bali, Kalimantan Barat, Pontianak hampir semuanya koperasi simpan pinjam.

Bunganya kecil kali ya?
Orang butuh pinjaman yang cepat, dekat dengan mereka, walaupun sekarang dengan fintech, kehadiran fintech jauh lebih cepat pelayanannya ini saya juga selalu mengatakan, kalau kalian nggak modernisasi pelayanan dengan penggunaan teknologi modern akan habis dengan bisnis keuangan teknologi.

Sejak ada Kemendes dan kebijakan dana desa Rp 1 miliar, mereka ditutut BUMDes ini kan jadi saingan baru. Bagaimana menyinkronkan?
Sebenarnya tidak harus, bahkan kemarin Menteri Keuangan kan sudah menyampaikan dana Rp 1 miliar ke desa itu bisa digunakan oleh berbagai kepentingan. Termasuk membangun usaha keci menengah dan koperasi.

Saat ini masih banyak digunakan pembangunan infrastruktur dasar, jalan desa dan lain sebagainya. BUMDes pun sebenarnya belum jelas usahanya, apakah PT, CV atau koperasi. Makanya itu saya sarankan waktu itu ke kementerian desa sesuai arahan Presiden itu harusnya koperasi.

Jadi saya akan dorong mereka koordinasi, bukan lagi kelembagaan yang asing bagi warga desa ya cocoknya memang koperasi.

Kembali ke belakang Kang Teten dikenalnya gerakan anti korupsi dari segi pendidikan kimia, sebelum aktif di antikorupsi guru matematika. Sekarang ngurus koperasi nggak punya latar belakang ekonomi. Ketika Pak Jokowi meminta Menteri Koperasi dijelasin nggak alasannya kenapa?

Kalau saya lihat Pak Jokowi kan di tengah ekonomi global yang sekarang lesu, dan berpengaruh ekonomi nasional bukan hanya Indonesia semua negara pengaruh. Meskipun berbagai intrumen keuangan kemudahan-kemudahan usaha dilakukan, suku bunga diturunkan tetap mengalami stagnasi. Memang harapannya kepada UMKM. Pada saat Pak Jokowi memperkenalkan kabinet ada dua disebutkan beliau mengatakan periode ini saya akan fokus pembangunan UMKM, sumber daya manusia.

Pesan itu juga yang disampaikan ke saya. Pak Jokowi kan mengenalnya saya, bisa bergaul lintas sektoral dengan gede-gede juga bisa bergaul dan saya juga biasa ke bawah. Selama di Istana saya banyak menangani isu-isu ekonomi sebenarnya, mulai isu peternak, isu koperasi kopi, teh banyak sekali. Lalu industri makanan-minuman, ngurus-ngurusi garam, nelayan, itu saya menjadi penghubung bahkan Pak Jokowi ke kelompok-kelompok masyarakat ini termasuk juga kelompok bisnis.

Makanya saya sekarang ada kemudahan, jadi karena saya biasa lintas sektoral, sekarang yang gede-gede udah 'Ayo kita kerja sama'. Menurut saya menjadi penting membuat strategi baru bagaimana mitra besar kecil supaya ada lompatan UMKM. Saya juga kan tanda petik dititipkan program perhutanan sosial oleh Ibu Menteri LHK. Ini kan ada 12,7 juta ha tanah yang didistribusikan kepada masyarakat untuk program perhutanan sosial. Ini sebenarnya modal besar bagi kita untuk dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dan sekarang mencoba koordinasi berbagai kementerian ini dibikin kluster-kluster. Jadi kita bisa nanti membangun tambak udang rakyat, bermitra dengan offtaker eksportir udang sehingga pembiayaan bisa bisa disalurkan secara masif jadi bukan skala kecil lagi. Jadi bisa model baru.

Di hortikultura misalnya membangun kan sekarang baginya 50 ha, 100 ha, 200 ha itu masuk skala bisnis. Nanti si masyarakat penerima perhutanan sosial ini kita bangun koperasi lalu mitra, bisa dengan koperasi lain besar atau usaha besar yang ekspor ke luar.

Atau bisa juga kita bikin peternakan susu, susu sapi 6-9 ekor itu sudah masuk skala bisnis. Di mana perbankan bisa biayai, kan banyak nih pengguna susu segar perusahaan eskrim lah dan lain sebagainya. Saya sudah bicara perbankan dan mereka mau, tidak takut NPL tidak takut kreditnya macet, sekarang kan ada Askrindo diasuransikan kreditnya, produk UMKM-nya dijamin ada yang beli bank mau masuk. Menurut saya potensi sangat besar.



Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com