Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 02 Des 2019 19:38 WIB

Wawancara Khusus Menteri Koperasi dan UKM

Panglima Domba yang Jadi Menteri Jokowi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Edi Wahyono Foto: Edi Wahyono


Sempat tanya nggak kok saya? Kenapa nggak pertanian atau peternakan?
Saya sekarang masih pembina himpunan peternak domba dan kambing Indonesia. Enggak, saya sih saya nggak mungkin menolak saya ditugasi beliau nggak boleh tanya lagi. Saya merasa punya passion juga saya dekat lah dengan masyarakat, saya komunikasi, mudah, saya tahu persis apa yang saya lakukan , saya justru sangat senang dengan penugasan ini. Kalau yang lain mungkin ini kementerian tidak populer, bagi saya justru passion saya.

Di tengah kebutuhan akan daging, selain alasan orang Garut kenapa dimulai domba Garut, kenapa nggak ternakin sapi?
Betul kita masih impor daging, kita kurang betul mungkin sampai kapanpun kita nggak pernah swasembada daging. Karena punya konsekuensi kepada lahan, justru kita harus mengganti daging dengan ikan, dengan ayam.

Nah, yang kita masih impor dan masih kecil konsumsi itu adalah susu. Rata-rata orang Indonesia 2 sendok makan sehari, maka saya di UMKM mau mengembangkan koperasi sapi susu. Selain secara bisnis perbankan mau biayai meskipun tadi dalam skala kecil 6-9 ekor, tapi dengan masuk sapi susu kita mendapatkan dua-duanya. Kita mendapatkan daging dan juga dapat susu. Karena 50% anak sapi pasti ada jantan, yang jantan bisa digemukkan untuk produk daging. Kita juga mau susunya. Ini bisa strategi nasional. China juga sama. China tidak mengembangkan sapi potong, China lewat sapi susu, karena butuh daging dan susu.

Sentra sapi kan Malang, Pangalengan, Lembang?
Model lama itu selalu daerah dingin, sekarang nggak perlu, sudah banyak pengembangan usaha sapi perah dataran rendah, dan secara ekonomi lebih menguntungkan, karena biasanya pakannya lebih banyak dataran rendah.

Kita di mana?
Yang sudah uji coba di Lampung, sekarang juga usaha besar akan masuk daerah Sumba, jadi saya lihat satu potensi di mana UMKM bisa berperan dengan koperasi susu.

Soal domba karena Kang Teten orang Garut, gimana sih asal muasal Garut punya ciri khas penghasil domba yang disebut domba Garut?
Tradisi adu domba atau memelihara domba Garut kan domba punya tanduk besar, badan besar, boleh dikata salah satu domba unggul di Indonesia. Karena produktivitas tinggi juga bobot besar dibandingkan domba lokal.

Asalnya sih itu domba silangan domba lokal Garut, ada domba Afrika dan domba Australia, Merino. Karena itu tanduknya melingkar seperti Merino.

Ini saya kira sejarahnya terhubung dengan perkebunan Belanda, Belanda kan membawa banyak, mengimpor selain kopi, teh domba. Dan kemudian disilang-silangkan jadilah domba Garut.

Sekarang kami coba lewat HPDKI himpunan perternak, silangkan lagi domba Garut dan domba Dorper dari Australia menghasilkan domba pedaging, usia pendek dengan bobot besar, ini sedang kami coba.

Dan rasa domba enak sekali kalau domba impor kan biasanya bau prengus menyengat disilangkan domba Garut dengan produktivitas tinggi itu enak.

Biasanya Dorper sekali beranak satu, ini anak bisa dua tiga sekali melahirkan. Jadi produktif sekali domba Garut disilang dengan Dorper.

Garut itu terkenal profesi pangkas tambut, Kang Teten punya keahlian itu?

Itu saya nggak bisa cukur rambut, dan memang unik di Garut ada satu daerah, memang daerah itu penghasil, tapi ada yang gagal dari kampung itu yang tidak jadi tukang rambut, yaitu Pak Burhanudin Abdullah jadi Gurbernur BI.

Selain itu orang Garut terampil jadi sekarang malah terkenal kopi, kopi Garut di mana-mana sudah juara, karena Garut kaya dengan gunung berapi, kopi yang terbaik itu kopi di gunung berapi sekarang kopi-kopi Garut sudah mulai mendunia.

Kafe ini juga semua dari Garut?

Sebagian besar kafe ini dari kopi Garut yang kita pilih yang enak. Diproses secara benar karena beberepa kopi-kopi dari Garut sudah dijual perusahaan kopi, pengolahannya sudah standar.

Soal profesi tukang cukur Kang Teten memilih pelontos sejak kapan?
Botak aja saya genetik keluarga rata-rata botak ya sudahlah terima nasib saja. Jadi nggak harus pake wig, saya plotosin lebih enak, saya mungkin sudah 20 tahun lalu.

Ngomongin UMKM tadi disinggung di bidang kuliner. Kita tahu kuliner kita sangat kaya tapi yang mendunia cuma nasi goreng, rendang? Dari Kementerian Koperasi ada target khusus?

Ya itu memang diminta Pak Jokowi bagaimana menduniakan kuliner Indonesia. Strategi pertama bagaimana daerah-daerah destinasi wisata, yang kita sudah tetapkan selain Bali. Toba, Borobudur Mandalika Labuan Bajo. Di daerah-daerah itu kita harus segera upgrade kemampuan restorannya, kafe-kafenya supaya betul-betul berkelas.

Selain itu, Pak Jokowi meminta mulai memperkenalkan makanan kita di luar negeri dengan mengkurasi restoran-restoran-restoean yang sudah punya nama untuk masuk ke luar.

Tentu ini harus didukung logistik ya kalau lihat Thailand itu bumbu-bumbunya bahan bakunya restoran-restoran luar negeri ada spesial price. Kami sudah bicarakan bertiga antara saya, Kementerian Pariwisata dan Pak Erick Thohir BUMN.

Mungkin Sarinah yang akan jadi trading house Sarinah yang di Thamrin akan menjadi showroom produk UMKM.

Kita nggak mungkin dikenal, makanan kita kalau nggak punya jaringan restoran Indonesia di luar negeri. Thailand punya, Vietnam punya, apalagi China, Korea da Jepang. Kita harus berani. Saya kira sudah ada chef-chef yang luar biasa yang sudah kurasi produk kuliner yang bisa jadikan unggulan, kita kaya sekali dari Aceh sampai Papua.

Halaman
1 2 3 4 Tampilkan Semua

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com