Wawancara Khusus Dubes China untuk RI

Bantahan China yang Disebut Mau Kuasai RI Lewat Utang dan TKA

Zulfi Suhendra - detikFinance
Jumat, 13 Des 2019 16:35 WIB
Foto: Mardi Rahmat/20 detik

Dalam pemerintahan pertama Jokowi, pembangunan diarahkan infrastruktur. China terlibat dalam pembiayaan, kira-kira ke depannya seperti apa? Berapa banyak yang akan diinvestasikan?
China dan Indonesia sama-sama merupakan negara berkembang yang besar. Fase berkembang yang sedang kita berada ini mengharuskan kita memfokuskan energinya untuk mempercepat pengembangan infrastruktur tampa berhenti.

Pembangunan infrastruktur akan mendorong perkembangan ekonomi secara komprehensif dan meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Jadi strategi dan kebijakan Presiden Jokowi yang menujukan banyak energinya ke bidang pembangunan infrastruktur pada 5 tahun sebelumnya, menurut kami sangat tepat.

Kerja sama infrastruktur merupakan salah satu prioritas dalam penyinergian The Belt And Road Initiative dan strategi Polos Maritim Dunia. Dalam beberapa tahun terakhir ini kedua pihak telah mencapai hasil signifikan dalam kerjasama pragmatis di bidang tersebut.

Misalkan pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang banyak mendapat perhatikan dan diputuskan langsung oleh pemimpin kedua negara sedang dilaksanakan sesuai jadwalnya. Panjang total kereta cepat Jakarta Bandung sekitar 143 km.

Setelah proyek itu beroperasi, waktu perjalanan dari Jakarta ke Bandung akan dipotong menjadi 40 menit dari waktu 3-5 jam pada saat ini. Kereta cepat selain banyak menghemat waktu perjalanan, juga akan mendorong munculnya koridor ekonomi di sepanjang jalur tersebut sehingga dapat memberikan kontribusi penting kepada perkembangan ekonomi sosial bagi masyarakat Indonesia.

Selain itu, kerja sama antara kedua negara dalam bidang pembangunan jalan tol dan jembatan, telekomunikasi, energi dan sebagainya juga meraih banyak hasil dalam beberapa tahun yang telah kita lewati. Misalkan beberapa PLTA dan PLTU hasil kerjasama kedua pihak sudah beroperasi.

Pada saat ini pulau Jawa sudah tidak membatasi penggunaan listrik lagi. Boleh kita katakan pembangkit listrik bangunan perusahaan China telah memainkan peranan penting dalam menjamin supply energi di Indonesia.

Mengenai kerjasama ke depan saya kira ada tiga bidang yang mempunyai potensi besar. Pertama adalah inisiatif regional comprehensive economic corridor yang diusulkan oleh Presiden Joko Widodo. Pada saat ini, pimpinan kedua pihak telah mencapai kesepakatan politik. Kita telah menandatangani MoU kerjasama dan mengadakan rapat pertama Joint Steering Committe, di mana telah kita tetapkan arah dan area kerjasama prioritas.

Kedua pihak juga memilih beberapa proyek yang dapat kita melakukan kooperasi. Untuk tahap berikutnya, seiring dengan selesainya pemilihan umum dan terbentuknya kebinet baru, kedua pihak sedang menyiapkan diri untuk mengimplementasikan proyek-proyek tersebut dari tahap perancangan sebelumnya.

Proyek-proyek itu termasuk pembangunan pelabuhan, kereta api, jalan tol, jembatan,listrik, energi dan telekomunikasi. Semuanya layak dikerjasamakan pada masa depan.

Yang kedua adalah kerja sama industrialisasi. Telah disampaikan juga oleh pihak Indonesia kepada China agar kedua negara bisa bersama-sama merancang cetak biru industrialisasi.

Instansi bersangkutan dari kedua pihak sedang berkomunikasi dan melakukan konsultasi kiranya di bidang-bidang mana saja kita bisa melakukan kerjasama dan di sektor apa saja kedua pihak bisa membangun industrial chain dari hulu sampai hilir. Saya kira hal ini mengandung potensi kerjasama yang sangat besar, infrastruktur tentu saja dapat menjadi salah sebagian.

Ketiga, adalah pemindahan ibu kota. Presiden Jokowi telah mengumumkan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Pihak Indonesia menyambut baik dan telah menyampaikan harapan agar pihak China berpartisipasi dalam kerjasama tersebut.

Kami akan terus berkomunikasi dengan pihak Indonesia. Saya kira peluangnya juga sangat besar,misalkan pembangunan infrastruktur di ibukota baru,di bidang transportasi, listrik, jalan tol, bahkan kereta api, suplai energi dan sebagainya. Kedua pihak juga bisa mendiskusikan bagaimana meningkatkan konektivitas antara ibukota kota dengan DKI Jakarta maupun dengan beberapa kota di China.

China mempunyai pengalaman dalam hal pemindahan fungsi non-ibukota. Kami bersedia melakukan kerjasama dengan pihak Indonesia di berbagai bidang antara lain termasuk perancangan, perencanaan dan pembangunan ibukota serta saling berbagi pengalaman.

Kami senang investasi China terus berkembang. Tapi keterlibatan investasi China tidak seperti negara lain. Karena melibatkan tidak hanya tenaga ahli tapi juga buruh kasar. Padahal di Indonesia pengangguran masih cukup banyak. Menimbulkan sedikit sentiment negatif ?

Seiring dengan kerjasama kedua pihak terus berkembang, memang ada sejumlah engineer, tenaga ahli dan skilled worker datang ke Indonesia. Saya kira ini merupakan hal yang wajar dalam kerjasama antara pihak.

Berdasarkan statistik dari instansi bersangkutan pemerintah Indonesia pada saat ini tenaga kerja yang bekerja di Indonesia kira-kira 20-an ribu orang.

Pada saat ini, banyak perusahaan berdatangan ke Indonesia, jumlahnya sudah sampai seribuan.Pada tahun kemarin, volume perdagangan kedua negara mencapai US$ 77,4 miliar dan investasi China ke Indonesia telah melebihi US$ 3 miliar, meliputi banyak program. Ketimbang volume perdagangan dan nilai investasi yang begitu besar, jumlah tenaga kerja belum termasuk banyak.

Kalau kita lihat kasus tertentu secara spesifik, dalam satu proyek jumlah tenaga kerja asal China tidak akan melebihi seperempat dari jumlah tenaga kerja Indonesia.

Kalau kita lihat tenaga kerja asal China, kebanyakan mereka adalah engineer senior dan tenaga ahli, masih ada sebagian skilled worker. Mereka sangat diperlukan untuk mengoperasikan mesin-mesin spesial guna memastikan mesin-mesin itu dapat berjalan normal dan pelaksanaan proyek-proyek tersebut selalu aman.

Seiring dengan perkembangan proyek,tenaga kerja asal China makin berkurang, sedangkan pekerja lokal terus meningkat karena biaya untuk memperkerjakan tenaga kerja asal China lebih tinggi daripada tenaga kerja Indonesia lokal.

Selain itu, datangnya perusahaan asal China banyak menciptakan lapangan kerja. Misalnya Huawei saja menciptakan ribuan lapangan kerja, kereta cepat Jakarta-Bandung pada saat ini telah memperkerjakan lebih dari 10 ribu orang.

Saya ambil satu contoh lagi, misalnya Bank of China di Indonesia. Pekerja China di sini hanya sekitar 10 orang saja tapi tenaga lokal mencapai 2.000 lebih.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4