Wawancara Khusus

Dirut Holding Perkebunan Bicara Hikmah di Balik Pandemi Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2020 07:00 WIB
Dirut PTPN III Mohammad Abdul Ghani
Foto: Dok. PTPN
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) memaksa perusahaan-perusahaan di negara-negara terdampak, seperti Indonesia mengubah cara bekerjanya. Hal ini juga dirasakan oleh PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Holding.

Meski masih beroperasi di tengah pandemi, PTPN III yang merupakan induk dari 13 PTPN lainnya terpaksa membatasi sejumlah aktivitas untuk mencegah penyebaran wabah tersebut.

Direktur Utama (Dirut) PTPN III Mohammad Abdul Ghani mengatakan, perusahaan pelat merah tersebut menghentikan perjalanan dinas, membatasi pertemuan dengan klien, serta menerapkan work from home (WFH) bagi pegawai yang bertugas di kantor-kantor milik perusahaan.

Namun, menurut Ghani ada hikmah dibalik pandemi Corona. Seperti penghematan perjalanan dinas karena pertemuan diganti dengan virtual, meningkatnya ekspor kelapa sawit, dan sebagainya.

Berikut wawancara lengkap Ghani bersama detikcom:

Bagaimana keseharian bapak memimpin Holding PTPN selama Pandemi?
Sebenarnya sebelum pemerintah mengumumkan, kita sudah mengantisipasi itu. Jadi untuk PTPN ini, kalau saya pribadi saya tetap ke kantor, tetapi paling hanya 4-5 jam, lalu pulang. Saya sebagai pimpinan, sebagai flight carrier saya harus memastikan, saya harus menjadi contoh. Jadi meskipun umur saya sudah di atas 60 tahun saya tetap ke kantor, tapi tetap dengan protokol kesehatan. Tetap saya aktivitas video conference dengan anak perusahaan, yang jelas di sini saya selalu komunikasi. Tapi saya membatasi tamu-tamu, tetap menggunakan physical distancing, itu saya lakukan di sini selama PSBB.

Saya mengambil pelajaran dengan adanya Corona itu, sisi positifnya ternyata ini bisa jadi perspektif baru ke depan. Saya nggak perlu terlalu sering bepergian. Pertama menambah biaya, kedua mengkonsumsi waktu dan sebagainya. Mungkin nanti beberapa aktivitas kita pakai video conference saja.

Bertemu klien saya batasi. Yang berbeda adalah kita membatasi pertemuan dengan orang. Yang pertemuan virtual tidak, tapi tatap muka kita takut. Kalau lihat dari mulai masuk protokol kesehatan sudah ketat, ada 6 protokol. Jadi kita mulai dari pencegahan sudah, kuratif sudah, bagaimana business continuebility, sudah kita buat semua.

Jadi kalau di semua unit, kebun kita ini kan umumnya agak terpencil, tidak di kota. Jadi akses masuk ke kebun itu sudah diawasi, orang lalu lalang. Kemudian di pabrik itu menggunakan protokol kesehatan.

Kesulitan apa yang ditemukan ketika WFH diterapkan pemerintah?
Ya kesulitan pasti ada. Saya justru mengambil hikmah, ya pasti ada kesulitan, apalagi orang-orang seperti saya yang generasi baby boomer. Saya kalau beli laptop nggak mau online, anak saya belinya online. Saya lihat barangnya dulu, saya pegang dulu, cocok, baru kubeli, Tetapi kan kita harus belajar juga dengan virtual itu.

Kalau komunikasi tidak langsung itu problemnya hanya psikologi saja. Ternyata, accessibility itu meningkat. Dulu kan kayaknya harus bertemu, sekarang tinggal video conference.Tapi paling permasalahannya diaudit. Kalau audit agak susah, kita nggak tahu langsung.

Tapi saya memaknai ini sebagai hikmah. Kita mengecek kebun pun bisa. Saya telepon misalnya Direktur, SEVP, atau GM, saya minta blokmu, blok 50 tahun tanam 75 GPS-nya mana? Kalau ada GPS kan bisa dikontrol, nah itu bisa. Digital itu kan bisa diverifikasi dan tracking. Jadi ini menarik. Sisi positifnya membuat kita memanfaatkan teknologi dan ternyata luar biasa. Jadi bisnis lebih simpel.

Meskipun perkebunan itu tradisional, saya melihat ini ada satu momentum kita melakukan perubahan menggunakan IT sebagai instrumen manajemen, itu luar biasa. Yang dulu tidak terpikirkan. Loh biaya perjalanan dinas berapa 1 bulan? Miliaran, bahkan mungkin Rp 10 miliar dalam 1 bulan. Nah dengan sekarang bagus.

Selama pandemi tidak ada perjalanan dinas sama sekali?
Ya takut. Nggak ada yang berani. Jadi ke depan saya akan mengurangi perjalanan dinas. Sebenarnya dulu saya di anak perusahaan pernah mengeluh. Kalau rapat di sini, atau di kantor mana, rapat hanya 15 menit, yang rapatnya itu sebenarnya bisa digantikan virtual, tapi kok rapat juga. Sudah perjalanannya melelahkan, nanti 1 jam pulang, itu saya nggak masuk di akal. Dengan ini tidak lagi. Buktinya kemarin pergantian komisaris dan direksi. Malah enak, secara psikologis nggak terbawa arus.

Misalnya saya sudah dekat tapi saya harus berhentikan. Kan saya nggak enak melihat wajahnya, sekarang tidak kan? Jadi sebenarnya lebih rasional. Saya selalu lihat positifnya.

New normal menurut saya selalu ada. Sebelum ada kasus WTC mana ada ke bandara di cek-cek dan sebagainya. Sekarang kita sudah jadi kebiasaan. Jadi saya lihat dari positifnya, jadi makin efisien. Jadi orang melek IT juga. Jadi saya memaknai pandemi ini dari sisi positif. Dan memang perspektif kita harus berubah.

Jadi kalau secara korporasi kita sudah siap semua. Protokol itu sifatnya top down. Kalau menginternalisasi di bawah kan tidak bisa, harus dengan perspektif dia. Pokoknya kamu nggak boleh salaman, ya sudah nggak boleh salaman. Lalu makan terpisah, itu misalnya. Itu saja.

Bagaimana kinerja holding PTPN selama Pandemi Corona?
Dengan adanya COVID-19 ya ada dampaknya. Sekarang dari sisi makronya saja terjadi penurunan ekonomiu global. Jadi demand turun, supply juga turun. Komoditas kita kan ada 4 sawit 64%, gula, karet, dan teh. Jadi secara umum ekonomi melambat.

Saya cerita kelapa sawit ya. Di dunia itu ada edible oil, minyak yang bisa dimakan. Sumbernya ada FAT dan vegetable. FAT dari lemak hewan, itu kecil paling hanya 10%. Kedua itu vegetable. Sawit itu produksinya 25-30%, memang ini agak terkontraksi sedikit kemarin karena harga minyak.

Tapi sekarang justru karena ekonomi mengecil begitu juga dengan di Eropa. Jadi pendapatan juga mengecil. Jadi dia harus membuat konsumsi prioritas. Untungnya, sawit itu harganya paling murah, paling hanya US$ 600 per metrik ton. Kalau kedelai sekitar US$ 700 per metrik ton. Kalau rapeseed US$ 800 per metrik ton. Jadi sekarang orang bergeser mengkonsumsi yang penting minyak makan, yang penting cari yang paling murah, sawit.

Kalau di Eropa ramai sawit itu kan faktornya persaingan. Jadi mereka juga akhirnya mengkonsumsi bahan yang paling murah, ya sawit. Jadi sebenarnya di sisi sawit itu bagus.

Meski ada black champaign, sawit tetap laku di Eropa selama pandemi?
Jadi di awal-awal pandemi harga tinggi sekali Rp 8.500/kg, sawit itu kan kompetitornya minyak bumi yang harganya ambrol. Jadi sawitnya juga ikut ambrol. Sempat kemarin harganya Rp 6.500/kg, tetapi hari ini sudah Rp 7.400-7.500/kg. Jadi sawit normal dan sawit itu dijual kan dalam dolar. Ketika kurs dolar menguat, rupiah melemah, ya kita menerimanya rupiah kan. Jadi untung sebenarnya. Jadi ketika terjadi volatilitas nilai tukar kita selalu untung.

Tahun 1998 dolar Rp 16.000 PTPN ini kaya raya. Sekarang kan 1 metrik ton itu US$ 600, kalau dikali 10.000 sudah berapa? Begitu kira-kira.

Kampanye itu sampai kiamat nggak akan selesai. Jadi kampanye Eropa sampai kiamat nggak akan selesai. Jadi akan dicari terus. Kita nggak usah berekspektasi mereka akan damai, nggak mungkin. Karena sawit itu kalau 1 hektare (Ha) bisa 5 ton. Kalau soybean hanya 1 ton, maka harga soybean mahal. Jadi mereka akan cari salahnya. Pokoknya nanti buktikan saja. Selalu akan dicari terus, itu karena perang dagang.

Amerika dulu tahun 70-an, ketika industrialisasi di Indonesia mulai, banyak padat karya. Amerika mulai cerita tentang upah, hak asasi manusia (HAM). Begitu kita sudah seimbang dengan dia, bersaing, lalu Amerika bercerita tentang emisi CO, emisi metana. Begitu kita sudah selesaikan itu mereka ke luar dari UNFCCC.

Bagaimana produktivitas pegawai selama WFH? Apakah efektif dengan yang biasanya bekerja di lapangan menjadi di rumah tanpa tatap muka?
WFH itu hanya pegawai di kantor, kalau di kebun nggak bisa. WFH itu sebenarnya dampaknya untuk proses bisnis, kalau melihat orang yang terlibat nggak sampai 10%. Yang harus WFH karena COVID-19 nggak ada saya rasa 10%. Kalau sisanya 90% kerja di lapangan. kami jaga betul dengan protokol supaya jangan terpapar.

Jadi kalau di sini kemarin, kami bagi 2, bagi shift, sebagian-sebagian per 2 minggu. Ke depan new normal kami bagi shift juga. Karena ruangan kan hanya segini saja, kapasitasnya harus sebagian kan karena physical distancing, jadi kepadatan dikurangi.

Ghani juga bicara virus corona di jajarannya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Markaz Syariah Telah Disomasi, Penjagaannya Masih Ada"
[Gambas:Video 20detik]