Follow detikFinance
Senin 27 Mar 2017, 12:15 WIB

Wawancara Direktur Komersial PGN

Mungkinkah Bangun Infrastruktur Jaringan Gas Tanpa APBN?

Muhammad Idris - detikFinance
Mungkinkah Bangun Infrastruktur Jaringan Gas Tanpa APBN? Direktur Komersial PGN, Danny Praditya (Foto: Dok.PGN)
Jakarta - Pemanfaatan gas bumi saat ini masih belum optimum karena hampir setengah dari seluruh produksi gas domestik masih harus diekspor. Salah satu tantangan dalam pemanfaatan gas bumi domestik adalah ketersediaan infrastruktur yg masih terbatas.

Berbeda dengan minyak, gas bumi tidak dapat disimpan lama karena gas adalah sumber energi yg ketika sdh diproduksi harus segera dimanfaatkan. Sehingga ketersediaan infrastruktur dan pasar secara bersamaan dengan produksi gas menjadi sangat penting agar gas dapat dimanfaatkan.

Pembangunan infrastruktur gas bumi di dalam negeri sangat penting dan utk mencapai tingkat pemanfaatan gas domestik yg diharapkan diperlukan percepatan. Pembangunan infrastruktur di tahap awal menghadapi tantangan berupa risiko pioneering, yaitu risiko akibat belum pastinya pemanfaatan infrastruktur karena pasar gas belum tersedia. Perlu ada yg mengambil peran sebagai agen pembangunan atau agent development. Dan banyak yg berpendapat diperlukam peran dominan pemerintah untuk mengambil risiko teraebut dan dibangun dengan APBN. Dengan kondisi saat ini, apakah mungkin dilakukan pembangunan infrastruktur tanpa membebani APBN?

Kepada detikFinance, Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Danny Praditya, bicara panjang lebar soal strategi pembangunan infrastruktur gas dan cara menghadapi tantangan dalam menyediakan jaringan gas di Indonesia, berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana cara untuk memastikan terjadinya peningkatan pemanfaatan gas bumi domestik?
Peningkatan pemanfaatan gas bumi domestik membutuhkan sinkronisasi antara perencanaan produksi gas, pengembangan pasar dan pembangunan infrastruktur. Diperlukan adanya suatu perencanaan pemanfaatan gas bumi terintegrasi.

PGN mengusulkan ke pemerintah adanya suatu roadmap pemanfaatan gas bumi domestik yg berisi perencanaan terintegrasi antara rencana produksi gas, rencana pengembangan pasar seperti klasterisasi industri, kawasan industri, pembangkit tenaga listrik dengan gas serta rencana induk infrastruktur gas indonesia. Perencanaam yg direalisasikan bersama dengan target waktu tertentu.

Analoginya seperti RUPTL namun utk kebutuhan gas bumi. Implementasinya dilakukan secara terencana dan memberikan ruang utk partisipasi semua pihak dengan playing field yg sesuai antara BUMN, BUMD, swasta dan koperasi.

Sinkronisasi dengan adanya blueprint tersebut penting utk memastikan pemanfaatan.

Biasanta membangun pasar dan infrastruktur membutuhkan waktu lebih lama maka perlu ada head start. Perlu waktu utk edukasi, pelaksanaan konversi dan investasi infrastruktur. Misalkan utk mengantisipasi dan memastikan pemanfaatan di domestik atas gas yg di produksi di Masela nanti, maka perencanaan dan pengembangan pasar dan infrastrukturnya harus dimulai sekarang.

Pertama kita perlu blue print tersebut.

Bagaimana pembagian peran tadi antara BUMN, BUMD, swasta dan lainnya?
Pembedaan peran bisa dilakukan seperti halnya dalam industri gas bumi di banyak negara. Misalkan utk pembangunam dan pengelolaan infrastruktur berupa backbone dan bagian dari national gas grid dilakukan oleh BUMN. Disini melibatkan pembukaan pasar, pembangunan infrastruktur transmisi dan distribusi yg besar.

Kemudian swasta dapat berperan bersama BUMD untuk mengelola suatu bagian dari wilayah distribusi dengan bentuk Local Distribution Company atau LDC dengan pengembangan infrastruktur dan pengelolaannya dalam penyediaan gas bumi di wilayah tersebut utk selurug segmen pengguna.

Selain itu, swasta bisa jg berperan dalam pembangunan infrastruktur atau penyediaan jasa O&M dengan bekerjasama dengan BUMN.

Semua bisa berperan dalam pengelolaan gas domestik dengan peran yg tepat dan bersinergi secara produktif.

Kita butuh semua elemen utk gotong royong mencapai pengelola gas domestik yg optimum dengan target waktu yg singkat. Ingat kita punya target bauran energi.

Jadi apakah mungkin membangun infrastruktur gas tanpa bantuan dana APBN?
Sangat mungkin dan PGN telah membuktikan bahwa membangun infrastruktur jaringan gas bumi tanpa membebani APBN. Dukungan dari pemerintah diberikan tidak dalam bentuk dana APBN.

Sejak tahun 2003 hingga tahun 2017, PGN telah berhasil menambah d pipa transmisi dan distribusi sepanjang +/- 3276 km sehingga panjang pipa menjadi +/- 7200 km dan telah dimanfaatkan untuk melayani berbagai segmen pelanggan mulai dari Pembangkit Listrik Industri, Hotel, Rumah sakit, Restoran dan rumah tangga (Non APBN) sebanyak +/- 131Ribu pelanggan.

Pembangunan tersebut dilakukan dengan cara, pemerintah memberi dukungan berupa alokasi gas bumi, kemudahan pembangunan infrastruktur dan proteksi utk pengembangan wilayah secara eksklusif di wilayah tersebut. Metode ini lazim diterapkan di tahap pengembangan dibanyak negara.

Dalam pengembangan dan pengelolaan gas oleh PGN, semua dilakukan dengan pendekatan secara terintegrasi utk optimasi.

Misalkan dalam pengembangan infrastruktur tidak dilakukan secara point to point atau hanya utk satu jenis pelanggan saja. Tp pembangunan dilakukan utk seluruh pengguna gas dan dengan pengembangan infrastruktur secara grid atau jejaring. Hal ini memungkinkan adanya sharing capex dan saling support antar segmen sehingga semua dapat dilayani.

Contoh saat PGN mengembangkan jaringan gas utk kawasan industri tidak hanya utk industri tp juga utk komersial, rumah tangga yg bersamaan dibangunnya. Atau tidak hanya utk pembangkit namun juga utk industri dan lainnya.

Terintegrasi juga diwujudkan dengan pengelolaan terintegrasi antar wilayah sehingga memungkinkan saling support antar wilayah. Misalkan daerah yg masih baru atau dengan karakteristik pengguna dengan willingness to pay rendah tetap masih menerima dan dapat memanfaatkan gas.

Ada misi menciptakan pemerataan akses energi utk seluruh indonesia.

Skema terintegrasi berikutnya adalah integrasi pengelolaan dengan eksklusifitas. Maksudnya PGN membangun infrastruktur di wilayah baru dan di tahap awal memang rendah pemanfaatannya namun PGN diberikan kesempatan utk mengembangkan pasar di wilayah itu dan saat sudah tumbuh PGN baru melakukan recovery atas investasi di awalnya dengan proteksi atau tidak ada kanibalisasi pasar. Eksklusifitas ini dapat diberikan dalam waktu tertentu saja.

Model ini memungkinkan investasi dan recovery nya dilakukan oleh badan usaha tersebut, pemerintah memberi dukungan tidak berupa dana APBN.

PGN menerapkan ini sejak dahulu dan saat ini sdh memiliki lebih dari 7800 km pipa.

Apakah cukup dengan cara itu?
PGN selama ini sudah tumbuh menjadi BUMN nasional yg kuat, profesional dan transparan sehingga dinilai baik oleh investor. Saat ini PGN memiliki rating kredit yg baik BBB- dari fitch.

Kepercayaan ini membuat PGN dapat mengakses pendanaan yg besar. Sehingga PGN bertumbuh menjadi BUMN profesional kuat dan mandiri.

Kemampuan pendanaan ini mendukung upaya pengembangan infrastruktur tanpa APBN tadi.


Infrastruktur gas baru yang tengah dibangun PGN?
Yang dikerjakan selama ini seperti pipa di Natuna. Saat ini dari lapangan Natuna hanya bisa diekspor ke Singapura, dengan pipa ini gas tersebut dapat digunakan utk domestik melalui jaringan gas yg sudah terhubung dari kepulau riau, sumatera selatan sampai ke Jawa.

Kemudian Gresik Lamongan Tuban. Juga pengembangan jaringan gas di seluruh wilayah eksisting yg dilakukan secara berkelanjutan. (idr/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed