Amran beralasan, penahanan jagung impor dilakukan agar harga jagung di tingkat petani tidak kembali jatuh hingga Rp 1.500 seperti tahun lalu.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Tri Hardiyanto mengungkapkan, selain merugikan peternak, kenaikan harga jagung justru tak banyak dinikmati petani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan struktur pasar dan rantai distribusi yang belum dibenahi, dia mempertanyakan petani yang untung besar dengan lonjakan harga jagung tersebut. Sebaliknya, yang paling diuntungkan adalah pedagang di tingkat pengepul dan pedagang besar yang menyuplai jagung ke pabrik.
"Siapa petani yang mau dibela? Di sisi lain ada 12 juta (peternak) yang juga harus dikasih makan. Kalau sampai berhenti produksi, nggak beternak, harga akan mahal dan kita akan impor (daging dan telur). Cek lapangan dong, rakyat mana yang mau ditolong," ujar Tri. (hns/hns)