Pasar saham Asia terkena sentimen kecemasan bakal terseret krisis di AS dan Eropa. Ekonomi Asia terutama eskpor yang dinilai sangat bergantung pada AS dan Eropa akan ikut melambat karena krisis global ini.
Pada penutupan perdagangan saham akhir pekan Jumat (24/10/2008) IHSG anjlok 92,390 poin (6,91%) menjadi 1.244,864. Posisi terendah sejak Juni 2006.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks LQ-45 turun 20,943 poin (8,2%) menjadi 234,533 dan Jakarta Islamic index (JII) turun 16,513 poin (7,85%) menjadi 193,951.
Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 32.979 kali, dengan volume 2,686 miliar unit saham, senilai Rp 1,514 triliun. Sebanyak 16 saham naik, 169 saham turun dan 29 saham stagnan.
Saham-saham yang merosot harganya antara lain, Telkom (TLKM) turun Rp 650 menjadi Rp 5.900, Astra Internasional (ASII) turun Rp 1.000 menjadi Rp 9.000, Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 140 menjadi Rp 1.350, Bank Internasional Indonesia (BNII) turun Rp 20 menjadi Rp 450 dan Aneka Tambang (ANTM) turun Rp 100 menjadi Rp 9.40.
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, Mitra Rajasa (MIRA) naik Rp 30 menjadi Rp 700, Adaro Energy (ADRO) naik Rp 10 menjadi Rp 700 dan Bank Niaga (BNGA) naik Rp 5 menjadi Rp 435.
Saham-saham yang terkena auto rejection diantaranya Astra International Tbk (ASII) anjlok 10% atau turun Rp 1.000 ke posisi Rp 9.000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) anjlok 10% atau turun Rp 900 ke posisi Rp 8.100, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) anjlok 9,9% atau turun Rp 650 ke posisi Rp 5.900, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) anjlok 9,6% atau turun Rp 600 ke posisi Rp 5.650.
Kemudian, PT Indosat Tbk (ISAT) anjlok 9,9% atau turun Rp 500 ke posisi Rp 4.550, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) anjlok 9,8% atau turun Rp 500 ke posisi Rp4.600, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) anjlok 9,5% atau turun Rp 425 ke posisi Rp 4.050, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) anjlok 9,8% atau anjlok Rp 350 ke posisi Rp 3.225.
Buy back saham BUMN yang diharapkan bisa menahan kejatuhan bursa ternyata belum banyak menolong. Direktur BEI Guntur Pasaribu menilai, kondisi pasar memang tidak dapat diprediksi karena dipengaruhi sentimen negatif di bursa global dan regional. Sehingga aksi buy back yang diserukan Meneg BUMN tidak menjamin naiknya indeks.
"Di Amerika Serikat (AS) saja sudah disiapkan skenario dana talangan (bailout), namun Dow Jones tetap saja terkoreksi," katanya. (ir/qom)











































