Sebelumnya, kebutuhan cangkul masih bisa dipenuhi dari produksi oleh BUMN, PT Bima Bisma Indra (Persero) atau BBI. Termasuk cangkul yang diproduksi pengrajin pandai besi di sejumlah daerah.
Sekretaris Perusahaan BBI, Budiantana mengatakan, membanjirnya cangkul impor asal China tak lepas dari fenomena kelebihan produksi (over supply) baja di China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ucap Budianta, BBI memproduksi cangkul dengan bahan baku besi baja yang disuplai PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang harganya lebih mahal.
"Jelas cangkul kita kalah saing dalam harga. Besi kita dari KS (Krakatau Steel), sementara cangkul China besinya murah sekali karena kelebihan produksi. Cangkul kita tahun 2000 harganya Rp 13.000-14.000 per buah, punya China hanya Rp 9.000 per buah," ujarnya.
Ketimbang merugi, BBI pun akhirnya menghentikan pembuatan cangkul saat itu.
"Dari sisi kualitas cangkul kita lebih bagus, kita tanpa las. Besinya juga berkualitas, jauh lebih bagus dari punya China, hanya kalah di harga. Kita bisa produksi lagi kalau memang ada banyak permintaan," pungkas Budianta. (ang/ang)











































