detikfinance

Senangnya Hati Boy Thohir

Indro Bagus SU - detikfinance
Rabu, 16/07/2008 12:49 WIB
(Foto: Indro-detikFinance)
Jakarta - Boy Garibaldi Thohir kini bisa berlega hati. Bagaimana tidak lega, karena setelah melalui berbagai rintangan, perusahaan yang dinahkodainya PT Adaro Energy Tbk akhirnya bisa sukses go public.

"Ya tentu saya bersama tim sangat bersyukur Adaro akhirnya bisa listing. Apalagi setelah melalui berbagai rintangan belakangan ini," ujar Boy yang menjabat dirut Adaro Energy itu disela-sela listing Adaro di BEI, Rabu (17/7/2008).

Perjalanan yang ditempuh ADRO menuju listing cukup banyak halangan, terutama terkait beberapa masalah hukum. Menanggapi hal itu, Boy mengatakan proses hukum tentu akan tetap berlanjut.

"Dan tentunya harus dihadapi. Sejauh ini kami merasa benar. Jadi kami optimistis tidak terjadi hal yang buruk dengan Adaro," ujar Boy.

Boy menjelaskan, pihaknya tidak menutup kemungkinan tuntutan akan sampai pada tingkat pengadilan. Namun ia optimistis Adaro akan kembali memenangkan peradilan.

"Jadi Beckkett mengajukan tuntutan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kembarannya, Winfield juga mengajukan tuntutan yang sama sebelumnya, dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan kami tidak bersalah," papar Boy.

Mengenai tuntutan Beckkett, Boy mengatakan ia tidak ingin berkomentar lebih jauh. Menurutnya, porsi kasus tersebut ada di wilayah hukum, jadi ia tidak ingin memberikan penilaian.

"Biar otoritas nanti yang menentukan. Apapun keputusan pengadilan akan kami patuhi," kata Boy.
Boy juga berharap kinerja saham Adaro dapat bergerak bagus. Apalagi komoditas batubara saat ini sedang naik daun.

"Tentu kami berharap saham Adaro geraknya bagus. Industrinya kan lagi bagus," kata Boy.

Mengenai penetapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), Boy mengatakan hal itu tidak akan menjadi masalah bagi Adaro.

"DMO tidak ada masalah. Produksi kami 30% untuk kebutuhan dalam negeri. Jadi tidak ada masalah," ujar Boy.

Sementara mengenai rencana pemerintah meminta industri pertambangan melakukan negosiasi ulang seluruh kontrak pertambangan di Indonesia, Boy mengatakan harus dilakukan secara berhati-hati.

"Tentu harus dilakukan secara berhati-hati, karena banyak customer komoditas tambang itu kan asing. Jadi harus ada penyesuaian-penyesuaian yang bisa menengahi permintaan tersebut," ujar Boy.

Saat ini, timnya sedang berkeliling ke 18 negara customer Adaro untuk membahas hal ini. Hasilnya kata Boy masih belum bisa disimpulkan.

"Hasilnya belum. Namun saya rasa customer akan mengerti kok. Kalau tidak, mereka mau dapat batubara dari mana. Indonesia kan produsen batubara yang besar bagi industri dunia," ujar Boy.

(dro/ir)

Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login
    Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Gb Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
      Wawancara Khusus MS Hidayat
      Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
      Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
    • Gb Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
      Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
      Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.