Ancaman Pelemahan IHSG Berlanjut

Ancaman Pelemahan IHSG Berlanjut

- detikFinance
Rabu, 08 Okt 2008 07:44 WIB
Ancaman Pelemahan IHSG Berlanjut
Jakarta - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menjadi ancaman perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi Wall Street yang terus berguguran akan membuat IHSG sulit berpacu di jalur hijau.

Pada perdagangan saham Rabu (8/10/2008) IHSG diprediksi masih akan mengalami penurunan. Investor asing diduga akan terus mencairkan portofolionya untuk mendapat likuiditas.

Sementara dari dalam negeri kenaikan BI Rate 0,25% menjadi 9,5% ditangggapi negatif karena kebijakan BI justru makin memperketat likuiditas di pasar. Kebijakan BI itu juga akan membuat investor lebih suka menanamkan dananya di bank karena kini bunga yang ditawarkan cukup tinggi, meskipun kalangan perbankan sendiri juga bakal kesulitan memberikan suku bunga tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku pasar juga masih akan mencermati nasib 6 saham kelompok Bakrie yang saat ini masih disuspensi. Berita gagal bayar Danatama yang memborong saham Bakrie akan membuat pasar super hati-hati melakukan transaksi.

Sementara itu saham-saham di Wall Street kembali berjatuhan. Meski sempat dibuka menguat di atas level 10.000, namun indeks Dow Jones Industrial Average ditutup kembali merosot hingga level terburuk dalam 5 tahun terakhir.

Pada perdagangan Selasa (7/10/2008), indeks Dow Jones merosot 508,39 poin (5,11%) ke level 9.447,11, lebih buruk ketimbang kejatuhan di hari Senin.

Sementara Nasdaq ditutup merosot 108,08 poin (5,80%) ke level 1.754,88 dan Standard 7 Poor's 500 anjlok 60,66 poin (5,74%) ke level 996,23, dan untuk pertama kalinya sejak 5 tahun terakhir merosot di bawah level 1.000.

Saham-saham perbankan menjadi korban kejatuhan. Saham Bank of America yang merupakan bank dengan kapitalisasi pasar terbesar, anjlok hingga 26% menjadi 23,77 dolar. Citigroup juga anjlok 12,9%, Wells Fargo merosot 9,04%.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa kemarin (7/10/2008) IHSG anjlok 29,018 poin (1,76%) menjadi 1.619,721.

Berikut rekomendasi saham dari perusahaan sekuritas.

Panin Sekuritas

IHSG kemarin kembali anjlok -1.76% menyusul kekhawatiran krisis finansial di AS dapat ikut menyedot likuiditas di Indonesia. Selain itu, pergerakan indeks juga dipengaruhi oleh rumor gagal bayar saham Grup Bakrie. Seperti diketahui Grup Bakrie berserta anak perusahaannya memiliki bobot cukup besar terhadap pergerakan indeks. Hari ini kami perkirakan IHSG masih akan bergerak melemah terbatas. Beberapa indikator mengindikasikan IHSG sudah memasuki area oversold. Kisaran support-resistance 1.550-1.640.

eTrading Securities


Perdagangan Wall Street kembali terjerat lebih dari 500 points (-5,11%) menjadi 9,447 di balik kekawatiran sektor financial. Pemembusan level 10,000 menjadi level resistant baru untuk indek Dow Jones. Meskipun Dow dibuka naik 1,5% akibat berita Fed akan mencari pendanaan dari luar namun kekawatiran krisis global ekonomi kembali menekan Dow ke teritory negatif.

Data Ekonomi yang di release kemarin, BI Rate naik 25 bps menjadi 9,5% akibat dampak dari higher-than-expectedinflasi 0,97% MoM atau 12,14% YoY. Bank cenderung tertekan pada sesi perdagangan kemarin. BBRI -3%, dan BDMN -2,5%

Di regional Indeks rata-rata di buka mengikuti Dow, Nikkei -4%, dan STI -3%. Regional masih memfaktor kan krisis ekonomi dunia dan pengurangan nilai transaksi financial dunia akibat krisis tersebut.

Sementara IHSG kemarin di kejutkan oleh suspensi perdagangan Saham Group Bakrie, BUMI, ENRG, UNSP, ELTY, BTEL dan BNBR setelah penurunan AR (auto rejection) lebih dari 30% pada semua saham tersebut. Isu yang beredar atas saham perseroan meliputi repo saham gagal bayar dan profit taking dari JP Morgan. BEJ akan melanjutkan suspensi sampai ada penjelasan dari manajemen.

Trading adalah kunci katalis untuk investor saat ini. Setelah penurunan tajam dari indek, diperlukan stabilitas sebelum indek kembali bullish. Focus masih pada saham domestic-oriented, seperti TLKM, UNVR, BBCA, PGAS dan PTBA.
(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads