detikfinance

Bisnis 'Nasi Kucing' ala Waralaba Angkringan Pak Camat

Akhmad Nurismarsyah - detikfinance
Senin, 17/10/2011 08:14 WIB
Halaman 1 dari 3
http://us.images.detik.com/content/2011/10/17/480/Angkringan-dalam.jpg
Jakarta -Bisnis waralaba makanan kian beragam mulai dari kebab, pizza, bakso hingga makanan ringan. Semua menjual keunikan dan modal yang beragam dari yang paling murah Rp 5 jutaan hingga yang mahal hingga puluhan juta bahkan ratusan juta.

Salah satu waralaba makanan yang unik adalah waralaba Angkringan Pak Camat. Waralaba ini menawarkan konsep makanan khas Yogyakarta serta angkringannya, ditambah pula dengan menu-menu bervariasi dan harganya yang sangat merakyat.

Angkringan Pak Camat sendiri sudah menancapkan kakinya di Jogjakarta sejak sepuluh tahun yang lalu. Kini, Angkringan Pak Camat sudah mewaralabakan bisnis makanan khas angkringannya yang terkenal dengan menu nasi kucing, bihun cabe rawit, sate ayam, sate kikil, sate usus, tempe dan tahu bacem. Sebanyak dua outlet di Yogya dan delapan outlet di Jakarta sudah tersebar. Berminat menjadi mitra Angkringan Pak Camat?

"Angkringan Pak Camat kita bawa dari Jogja untuk dikembangkan di Jakarta. Di Jakarta kan juga banyak orang Jawanya, karena itu kita makanan khasnya sudah dikenal. Jadi ketika dikembangkan kita bisa dapat kemudahan. Dari rasanya, semua sudah tahu, dan kita punya cara masak yang memang cukup enak, lezat, dan dari harganya memang merakyat. Sehingga setiap kalangan bisa menikmati sajian makanan khas Jogja dan angkringan. Pas untuk nongkrong menikmati suasana relaksasi setelah sibuk merasakan penat," ungkap Deven, selaku Marketing Director Angkringan Pak Camat kepada detikFinance akhir pekan lalu.

Dengan membeli brand Angkringan Pak Camat, anda bisa membuka usaha makanan angkringan khas Jogja. Seluruh menu makanan akan disediakan oleh Angringan Pak Camat setiap harinya dan siap dijual.

"Yang berminat dan punya hobi masak, dan juga punya waktu. Dia bisa memasak menu Angkringan Pak Camat sendiri. Bisa juga nanti kita training untuk mengolah menu-menu yang kita tawarkan. Karena konsep yang kita tawarkan kan masakan khas Yogya. Kita juga fleksibel, dalam arti kalau ada yang mamu mengembangkan dan menambahkan menu-menu lain, kita memperbolehkan. Tapi harus sesuai pakemnya, yakni ada nasi kucing, bacem, dan sebagainya itu harus ada, gak boleh gak ada. Kalau mereka mau nambah menu lain itu silahkan," terang Deven.

"Tapi kalau ada yang nggak mau repot, kita akan suplai menu kita, akan kita suplai," tambanya.Next

Halaman 123
(nrs/qom)

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!



Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Gb Senin, 21/07/2014 17:45 WIB
    Bos Blue Bird Bicara Soal Kursi Ketua Hipmi
    Jumat (18/07/2014) lalu, detikFinance berkesempatan mewawancarai Bayu Priawan Djokosoetono, Bendahara Umum Hipmi. Bayu dikabarkan mencalonkan diri untuk menjadi ketua umum Hipmi selanjutnya.
  • Gb Minggu, 20/07/2014 09:52 WIB
    Tips Cermat Mengelola Uang THR
    Sudah mendapat suntikan Tunjangan Hari Raya (THR)? Jika tidak dikelola dengan bijak, bisa jadi THR hanya akan numpang lewat saja. Berikut tipsnya.
  • Gb Senin, 21/07/2014 20:59 WIB
    Pilih Tak Mudik, CT: Saya Tak Punya Kampung
    Bagi para perantau, kegiatan mudik Lebaran sudah menjadi tradisi setiap tahun. Namun bagi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung, kegiatan mudik tak berlaku.


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut