Pemerintah Ancam Tarik Dana Murah KPR Subsidi di BTN
Jumat, 03/02/2012 07:24 WIB
Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) mengancam akan menarik dana murah atau dana penyertaan yang ditempatkan pemerintah dalam fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) di Bank Tabungan Negara (BTN). Hal ini dilakukan jika BTN sebagai bank penyalur FLPP keluar dari program ini.
Demikian disampaikan oleh Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung kepada detikFinance, Kamis (2/2/2012)
"Kalau mereka (BTN) keluar itu kan, akan ditarik dananya itu kan dana APBN, setara 120.000 unit rumah di tahun kemarin. Porsi pemerintah ada 60%," katanya.
Sayangnya Pangihutan tak tahu persis berapa dana murah pemerintah yang telah ditempatkan di BTN, namun porsi pemerintah mencapai 60% dari pembiayaan 120,000 unit rumah tahun 2011 lalu.
"Yang tahu persis itu deputi pembiayaan,"katanya.
Ia menambahkan, BTN selaku pemegang pasar perumahan subsidi skema FLPP belum juga bersedia bergabung menyalurkan kredit rumah subsidi. Saat ini yang sudah bersedia menyalurkan kredit FLPP hanya BNI dan BRI.
"Sekarang ini yang menawarkan bunga di bawah 8%, yaitu BRI dan BNI, yaitu BNI 6,35% dan BRI 7,12%. Untuk itu kita minta mereka ajukan tertulis, jangan hanya cuma lisan," katanya.
Ia optimistis apapun hasilnya semua perjanjian kerjasama operasional (PKO) dengan bank pelaksana akan sudah selesai akhir Februari ini.
Ia menilai ngototnya BTN untuk tetap memasang bunga kredit yang tinggi, karena selama ini bank BUMN ini menguasai pasar terutama kredit perumahan subsidi. Meski demikian jika skenario terburuk, pihak BTN tak bergabung, maka BNI dan BRI akan menjadi bank penyalur FLPP, ia pun optimis target pengadaan rumah melalui FLPP bisa menembus 170.000 unit.
"BNI dan BRI harus kerja keras, melihat hasil realisasi penyaluran FLPP mereka tahun kemarin yang sangat minim," katanya.
Namun ia mengakui saat ini pihak BTN masih melakukan kajian apakah benar-benar keluar dari FLPP atau tetap lanjut dengan skema PKO FLPP tahun 2012.
BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal yaitu 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%.
Bunga BTN jauh di atas penawaran bank BUMN lain. Misalkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawarkan bunga FLPP sebesar 7,12%, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menawarkan 6,35%.
Sebelumnya Dirut BTN mengancam tidak lagi ikut menyalurkan KPR subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tahun 2012. Langkah ini diambil jika pemerintah tetap bersikeras menetapkan bunga FLPP rendah.
Bagi perseroan, bunga yang diinginkan Menteri Kementerian Perumahan Rakyat Djan Faridz sebesar 5%-6% akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%.
"Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," kata Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro di Jakarta, Selasa (31/1/2012).
Penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki menteri perumahan rakyat tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4%.
(hen/qom)
Demikian disampaikan oleh Deputi Perumahan Formal Kementerian Perumahan Rakyat Pangihutan Marpaung kepada detikFinance, Kamis (2/2/2012)
"Kalau mereka (BTN) keluar itu kan, akan ditarik dananya itu kan dana APBN, setara 120.000 unit rumah di tahun kemarin. Porsi pemerintah ada 60%," katanya.
Sayangnya Pangihutan tak tahu persis berapa dana murah pemerintah yang telah ditempatkan di BTN, namun porsi pemerintah mencapai 60% dari pembiayaan 120,000 unit rumah tahun 2011 lalu.
"Yang tahu persis itu deputi pembiayaan,"katanya.
Ia menambahkan, BTN selaku pemegang pasar perumahan subsidi skema FLPP belum juga bersedia bergabung menyalurkan kredit rumah subsidi. Saat ini yang sudah bersedia menyalurkan kredit FLPP hanya BNI dan BRI.
"Sekarang ini yang menawarkan bunga di bawah 8%, yaitu BRI dan BNI, yaitu BNI 6,35% dan BRI 7,12%. Untuk itu kita minta mereka ajukan tertulis, jangan hanya cuma lisan," katanya.
Ia optimistis apapun hasilnya semua perjanjian kerjasama operasional (PKO) dengan bank pelaksana akan sudah selesai akhir Februari ini.
Ia menilai ngototnya BTN untuk tetap memasang bunga kredit yang tinggi, karena selama ini bank BUMN ini menguasai pasar terutama kredit perumahan subsidi. Meski demikian jika skenario terburuk, pihak BTN tak bergabung, maka BNI dan BRI akan menjadi bank penyalur FLPP, ia pun optimis target pengadaan rumah melalui FLPP bisa menembus 170.000 unit.
"BNI dan BRI harus kerja keras, melihat hasil realisasi penyaluran FLPP mereka tahun kemarin yang sangat minim," katanya.
Namun ia mengakui saat ini pihak BTN masih melakukan kajian apakah benar-benar keluar dari FLPP atau tetap lanjut dengan skema PKO FLPP tahun 2012.
BTN adalah bank penyalur FLPP yang mengajukan bunga paling mahal yaitu 8,55%. Bahkan setelah pemerintah menghapus beban asuransi kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), bunga BTN tetap paling tinggi 8,22%.
Bunga BTN jauh di atas penawaran bank BUMN lain. Misalkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menawarkan bunga FLPP sebesar 7,12%, sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menawarkan 6,35%.
Sebelumnya Dirut BTN mengancam tidak lagi ikut menyalurkan KPR subsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) tahun 2012. Langkah ini diambil jika pemerintah tetap bersikeras menetapkan bunga FLPP rendah.
Bagi perseroan, bunga yang diinginkan Menteri Kementerian Perumahan Rakyat Djan Faridz sebesar 5%-6% akan merugikan BTN karena banyak risiko yang harus ditanggung. Penawaran suku bunga FLPP yang BTN tawarkan sekitar 7,75%.
"Dengan porsi pemerintah bank tetap 60:40 bunga dari kita 7,75%. Kalau porsinya berubah menjadi 50:50 tentu akan lebih besar (bunganya)," kata Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro di Jakarta, Selasa (31/1/2012).
Penetapan bunga FLPP yang turun drastis, seperti dikehendaki menteri perumahan rakyat tidak masuk hitungan bisnis BTN. Apalagi perseroan merupakan pemegang portofolio terbesar FLPP tahun 2011, dengan porsi hampir 99,4%.
(hen/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
