Pembelian Bank Mutiara
DPR Minta Misteri Yawadwipa Diungkap
Selasa, 07/02/2012 08:15 WIB
Harry Azhar Azis (dok detikcom)
Jakarta - Perusahaan investasi, Yawadwipa tiba-tiba saja mengumumkan niatnya membeli saham PT Bank Mutiara Tbk (dahulu bernama Bank Century). Tak tanggung-tanggung perusahaan tersebut berniat membeli bank yang dahulu dimiliki Robert Tantular senilai Rp 6,75 triliun.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi XI pun mewanti-wanti pemerintah yakni Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI) agar menelusuri sepak terjang perusahaan tersebut. Komisi XI berharap Bank Mutiara tidak jatuh ditangan yang salah.
"Pembeli harus ditelaah track record-nya, kalau lembaga baru harus diketahui siapa penyandang dananya," tutur Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (7/2/2012).
"Karena kalau tidak jelas tentu bisa berbahaya, paling tidak track record internationalnya bagaimana," imbuh Politisi Partai Golkar ini.
Dikatakan Harry, selain track record perlu dilihat pula harga jual, yakni harus diatas Rp 6,7 triliun sesuai dengan dana bailout yang dikucurkan oleh pemerintah ke bank Mutiara itu.
Menurutnya, perlu ada list calon pembeli, juga prinsip lelangnya harus dibuat terbuka.
"Misalnya tawaran dari pembeli dilakukan secara tertutup tetapi setelah itu harus dapat dibuka, sehingga pilihan yang dlakukan adalah yang terbaik. Baik dari track record pembeli maupun dari segi harga," ungkapnya.
Dana bailout sebesar Rp 6,7 triliun harus dihitung termasuk yieldnya selama 3 tahun. "Kalau tidak maka artinya bailout itu tidak atau tanpa colateral aset yang sepadan nilainya, yang artinya ada nilai yang bisa dianggap sebagai kerugian uang negara," tuturnya.
Yawadwipa mengklaim telah melaporkan kepada pemerintah untuk membeli Bank Mutiara dengan nilai sekitar US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun.
"Yawadwipa percaya banyak lini bisnis Bank Mutiara yang menarik, dan sudah membuktikan bisa menjadi inovator dalam memperbaiki kepercayaan konsumen dalam tiga tahun terakhir," kata manajemen Yawadwipa dari siaran persnya, Senin (6/2/2012).
Bank Mutiara, yang dahulu bermasalah itu sudah diambil alih pemerintah di tahun 2008 ketika mengalami masalah likuiditas. Pengambialihan Bank Mutiara sempat menimbulkan kontroversi dan berbuntut pada pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan. .
Pemerintah selaku pemilik Bank Mutiara sudah lama berniat melepas bank tersebut. Namun karena nilai yang dipatok cukup tinggi hingga Rp 6,7 triliun atau setara dengan dana penyelamatan bank tersebut, maka hingga kini calon pembeli belum juga didapatkan.
"Bank Mutiara sudah memberikan hasil yang kuat dalam menghadapi masalah internal dan eksternal," ujar manajemen Yawadwipa.
Perusahaan yang baru saja berdiri awal tahun 2012 tersebut masih menyusun tim dan dana untuk akuisisi tersebut. Namun sayangnya, tidak disebutkan sumber pendanaan untuk aksi korporasi tersebut.
(dru/qom)
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi XI pun mewanti-wanti pemerintah yakni Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI) agar menelusuri sepak terjang perusahaan tersebut. Komisi XI berharap Bank Mutiara tidak jatuh ditangan yang salah.
"Pembeli harus ditelaah track record-nya, kalau lembaga baru harus diketahui siapa penyandang dananya," tutur Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis ketika berbincang dengan detikFinance di Jakarta, Selasa (7/2/2012).
"Karena kalau tidak jelas tentu bisa berbahaya, paling tidak track record internationalnya bagaimana," imbuh Politisi Partai Golkar ini.
Dikatakan Harry, selain track record perlu dilihat pula harga jual, yakni harus diatas Rp 6,7 triliun sesuai dengan dana bailout yang dikucurkan oleh pemerintah ke bank Mutiara itu.
Menurutnya, perlu ada list calon pembeli, juga prinsip lelangnya harus dibuat terbuka.
"Misalnya tawaran dari pembeli dilakukan secara tertutup tetapi setelah itu harus dapat dibuka, sehingga pilihan yang dlakukan adalah yang terbaik. Baik dari track record pembeli maupun dari segi harga," ungkapnya.
Dana bailout sebesar Rp 6,7 triliun harus dihitung termasuk yieldnya selama 3 tahun. "Kalau tidak maka artinya bailout itu tidak atau tanpa colateral aset yang sepadan nilainya, yang artinya ada nilai yang bisa dianggap sebagai kerugian uang negara," tuturnya.
Yawadwipa mengklaim telah melaporkan kepada pemerintah untuk membeli Bank Mutiara dengan nilai sekitar US$ 750 juta atau sekitar Rp 6,75 triliun.
"Yawadwipa percaya banyak lini bisnis Bank Mutiara yang menarik, dan sudah membuktikan bisa menjadi inovator dalam memperbaiki kepercayaan konsumen dalam tiga tahun terakhir," kata manajemen Yawadwipa dari siaran persnya, Senin (6/2/2012).
Bank Mutiara, yang dahulu bermasalah itu sudah diambil alih pemerintah di tahun 2008 ketika mengalami masalah likuiditas. Pengambialihan Bank Mutiara sempat menimbulkan kontroversi dan berbuntut pada pengunduran diri Sri Mulyani Indrawati sebagai menteri keuangan. .
Pemerintah selaku pemilik Bank Mutiara sudah lama berniat melepas bank tersebut. Namun karena nilai yang dipatok cukup tinggi hingga Rp 6,7 triliun atau setara dengan dana penyelamatan bank tersebut, maka hingga kini calon pembeli belum juga didapatkan.
"Bank Mutiara sudah memberikan hasil yang kuat dalam menghadapi masalah internal dan eksternal," ujar manajemen Yawadwipa.
Perusahaan yang baru saja berdiri awal tahun 2012 tersebut masih menyusun tim dan dana untuk akuisisi tersebut. Namun sayangnya, tidak disebutkan sumber pendanaan untuk aksi korporasi tersebut.
(dru/qom)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
