Dirut BTN Curhat ke DPR Soal Kisruh Bunga KPR Subsidi
Rabu, 08/02/2012 12:31 WIB
Jakarta - Dirut Bank Tabungan Negara (BTN) Iqbal Latanro mencurahkan keluh kesahnya kepada Komisi XI DPR-RI. Curhatannya itu terkait penetapan bunga KPR subsidi atau fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang dianggap terlalu tinggi oleh pemerintah.
Iqbal menuturkan penetapan bunga KPR FLPP yang perseroan tawarkan, atas dasar pertimbangan bisnis. Jika suku bunga FLPP dipaksakan seperti keinginan pemerintah direntang 5-6% maka BTN akan merugi.
"Mohon maaf kalau paparan kali ini berbau curhat. Ini menghargai supaya dapat dimengerti, bukan bermaksud menggurui," kata Iqbal saat rapat dengar pendapat di Komisi XI, DPR-RI di Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Ia menjelaskan, dalam menyalurkan kredit rumah murah BTN harus menyediakan sumber pendanaan jangka panjang. Pasalnya, program FLPP menetapankam bunga kredit rumah murah subsidi dengan bunga dan cicilan tetap sampai lunas selama 15 tahun.
Menurutnya sangat sulit untuk menetapkan bunga FLPP 5%-6%, sesuai keinginan kementerian perumahan rakyat (Kemenpera). Apalagi, pada tahun ini Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengusulkan porsi penyertaan dana murah oleh pemerintah turun dari 60% menjadi 50% saja atau 50% dari dana BTN dan 50% dari dana pemerintah dalam setiap pembiayaan unit rumah KPR. Artinya, bank harus menyediakan dana lebih besar, yang berakibat pada cost of fund lebih tinggi.
"Sumber pendanaan kami mengupayakan jangka panjang. Makanya kami menerbitkan obligasi waktu itu 10 tahun pada pola (FLPP) lama tahun 2010-2011. Ini untuk menyeimbangkan bunga kredit yang dipatok fix selama 15 tahun," paparnya.
Pihaknya menghitung dengan porsi lama yaitu 60:40, maka BTN sebagai bank penyalur bisa menetapkan bunga FLPP dikisaran 7%. Namun dengan keinginan porsi baru yaitu 50:50 maka bunga akan lebih tinggi menjadi 8,55%, bunganya masih bisa turun menjadi 8,22% jika melibatkan asuransi KPR.
"Selaku BUMN dan perusahaan publik kami juga harus mengejar keuntungan. Ada fungsi pemanfaatan," tuturnya.
Dalam menetapkan suku bunga FLPP 8,22% atau lebih tinggi dari bank lain, BTN harus menanggung berbagai risiko kredit, diantaranya biaya dana 4,14%, giro wajib minimum 0,41%, biaya overhead 1,5%, biaya risiko 0,3%, biaya premi asuransi 0,37%, dan profit 1,5%.
Dengan komposisi tersebut, maka MBR harus mencicil KPR FLPP sebesar Rp 893 ribu selama 15 tahun. Cicilan ini didasarkan atas perhitungan harga rumah Rp 80 juta, dengan uang muka 10% dan nilai KPR (loan to value) Rp 72 juta.
(wep/hen)
Iqbal menuturkan penetapan bunga KPR FLPP yang perseroan tawarkan, atas dasar pertimbangan bisnis. Jika suku bunga FLPP dipaksakan seperti keinginan pemerintah direntang 5-6% maka BTN akan merugi.
"Mohon maaf kalau paparan kali ini berbau curhat. Ini menghargai supaya dapat dimengerti, bukan bermaksud menggurui," kata Iqbal saat rapat dengar pendapat di Komisi XI, DPR-RI di Senayan, Jakarta, Rabu (8/2/2012).
Ia menjelaskan, dalam menyalurkan kredit rumah murah BTN harus menyediakan sumber pendanaan jangka panjang. Pasalnya, program FLPP menetapankam bunga kredit rumah murah subsidi dengan bunga dan cicilan tetap sampai lunas selama 15 tahun.
Menurutnya sangat sulit untuk menetapkan bunga FLPP 5%-6%, sesuai keinginan kementerian perumahan rakyat (Kemenpera). Apalagi, pada tahun ini Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengusulkan porsi penyertaan dana murah oleh pemerintah turun dari 60% menjadi 50% saja atau 50% dari dana BTN dan 50% dari dana pemerintah dalam setiap pembiayaan unit rumah KPR. Artinya, bank harus menyediakan dana lebih besar, yang berakibat pada cost of fund lebih tinggi.
"Sumber pendanaan kami mengupayakan jangka panjang. Makanya kami menerbitkan obligasi waktu itu 10 tahun pada pola (FLPP) lama tahun 2010-2011. Ini untuk menyeimbangkan bunga kredit yang dipatok fix selama 15 tahun," paparnya.
Pihaknya menghitung dengan porsi lama yaitu 60:40, maka BTN sebagai bank penyalur bisa menetapkan bunga FLPP dikisaran 7%. Namun dengan keinginan porsi baru yaitu 50:50 maka bunga akan lebih tinggi menjadi 8,55%, bunganya masih bisa turun menjadi 8,22% jika melibatkan asuransi KPR.
"Selaku BUMN dan perusahaan publik kami juga harus mengejar keuntungan. Ada fungsi pemanfaatan," tuturnya.
Dalam menetapkan suku bunga FLPP 8,22% atau lebih tinggi dari bank lain, BTN harus menanggung berbagai risiko kredit, diantaranya biaya dana 4,14%, giro wajib minimum 0,41%, biaya overhead 1,5%, biaya risiko 0,3%, biaya premi asuransi 0,37%, dan profit 1,5%.
Dengan komposisi tersebut, maka MBR harus mencicil KPR FLPP sebesar Rp 893 ribu selama 15 tahun. Cicilan ini didasarkan atas perhitungan harga rumah Rp 80 juta, dengan uang muka 10% dan nilai KPR (loan to value) Rp 72 juta.
(wep/hen)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 25/05/2012 22:03 WIB
Ngirit Anggaran, SBY Minta Menteri Menginap di Gedung Negara
-
Jumat, 25/05/2012 21:16 WIB
Berusia 20 Tahun, Bank Muamalat Ganti Logo
-
Jumat, 25/05/2012 21:10 WIB
Wah! SBY Rahasiakan Bentuk Mobil Listrik Made in Indonesia
-
Jumat, 25/05/2012 21:04 WIB
SBY Tak Mau Gas RI Diborong ke Luar Negeri
-
Jumat, 25/05/2012 20:56 WIB
Mulai 2013 Palu-Parigi Terhubung Jalan Lintas 35 Km
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Puluhan Merek Pakaian Kelas Dunia Ternyata Made in Bandung
-
Jumat, 25/05/2012 16:16 WIB
Penyatuan Zona Waktu Dimulai 28 Oktober 2012
-
Jumat, 25/05/2012 08:17 WIB
Pemerintah Jalankan Program Pensiun Dini PNS Tahun Ini
-
Jumat, 25/05/2012 07:09 WIB
Kisah Pertarungan Bandar & Penjudi Curang di Kasino Moderen
-
Jumat, 25/05/2012 13:03 WIB
Agus Marto: Hanya RI & Arab Saudi yang Mampu Hadapi Krisis Eropa
-
65 Komentar
-
55 Komentar
-
42 Komentar
-
40 Komentar
-
37 Komentar
-
Rabu, 23/05/2012 13:16 WIB
Wawancara Khusus MS Hidayat
Demi Ngirit, Mengejar Mimpi Produksi Mobil Hybrid
Pemerintah punya niatan mengembangkan mobil hybrid di dalam negeri. Berikut ini wawancara khusus detikFinance dengan Menperin MS Hidayat soal mobil hybrid.
-
Kamis, 26/04/2012 07:12 WIB
Mau Cepat Kaya? Berinvestasilah di 5 Instrumen Ini
Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan tanpa perlu repot adalah berinvestasi. Sebuah investasi yang baik harus memuat banyak instrumen demi meminimalkan risiko.
-
Jumat, 25/05/2012 14:06 WIB
Milyuner AS Ini Tak Punya Rumah
Sebagai pemilik sederet perusahaan dan dot-com, milyuner Neil Patel bisa mendapatkan jenis hunian apa pun. Tapi ia memilih tak punya rumah, kenapa?
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





(2)_2.gif)



.gif)



.gif)
