Menyakitkan! RI Banyak Ngutang dan Korupsi
Kamis, 15/03/2012 15:37 WIB
Jakarta - Pemerintah berencana menambah utang baru Rp 174 triliun di 2012. Hal ini mengakibatkan utang bisa bertambah hingga Rp 2.000 triliun.
Kebiasaan berutang terakumulasi sejak dahulu hingga saat ini. Total utang Indonesia jika mencapai Rp 2.000 triliun artinya setiap penduduk Indonesia akan menanggung utang lebih dari Rp 8 juta.
Penambahan utang baru di tengah memanasnya pemberitaan kasus korupsi pajak yang dilakukan Gayus Tambunan dan Dhana Widyatmika dinilai sungguh menyakitkan.
Demikian hasil riset Kebocoran Pajak dan Perangkap Utang yang dilakukan Perkumpulan Prakasa seperti dikutip detikFinance, Kamis (15/3/2012).
Riset tersebut menjelaskan jika kedua kasus tersebut yakni utang dan korupsi sebenarnya 'puncak gunung es' dari persoalan raksasa dan sistemik yang tak kunjung terselesaikan. Akibatnya, meski proyeksi penerimaan pajak terlihat besar mencapai Rp 1.032 triliun, namun potensi pajak yang hilang sebenarnya luar biasa.
Potensi pajak yang hilang tahun ini diperkirakan mencapai Rp 512 triliun atau hampir mencapai 50% dari total penerimaan pajak. Kalkulasi itu berdasarkan kapasitas penerimaan pajak Indonesia semestinya sebagai negara pendapatan menengah. Perkiraan konservatif International Monetary Fund (IMF), potensi pajak yang hilang juga lebih dari 40%.
Akibat potensi pajak yang hilang itu, tak mengherankan bila rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini hanya berkisar 12%. Padahal rata-rata penerimaan pajak negara-negara yang termasuk kelompok menengah bawah (lower middle income) seperti Indonesia mencapai 19%. Lebih memalukan lagi, rasio pajak negeri ini bahkan di bawah rata-rata negara miskin (low income) yang sudah mencapai 14,3%.
Ketidakmampuan pemerintah mengoptimalkan penerimaan pajak, menyebabkan utang baru hampir selalu lebih besar dari cicilan menyebabkan utang menumpuk. Rasio utang terhadap PDB di bawah 30% bukan berarti aman, bila rasio pajak terus rendah. Akumulasi utang dan pendapatan rendah akan membawa Indonesia terjebak dalam perangkap utang (debt trap).
"Mengandalkan utang akibat keteledoran dan kurang kerja keras adalah tindakan yang tak bertanggung jawab," kata Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Setyo Budiantoro.
"Beban berat bukan hanya ditanggung generasi saat ini, namun juga dipikul generasi penerus yang kini tidak bisa terlibat mengambil keputusan," imbuhnya.
Research Associate Perkumpulan Prakarsa J Prastowo menilai penerimaan pajak bukan hanya rendah, namun juga tidak adil karena makin memperparah kesenjangan.
"Kelompok kaya justru membayar pajak jauh lebih kecil dari kelompok menengah bawah. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan karena kelompok lebih lemah mendapat beban lebih besar," kata Prastowo.
Perkumpulan Prakarsa yang merupakan lembaga kajian alias riset dan pengembangan yang fokus dibidang kesejahteraan masyarakat ini berharap untuk mencegah perangkap utang, rasio penerimaan pajak perlu dinaikkan satu persen per tahun dengan memperbaiki sistem dan kebocoran, hingga setara rata-rata negara pendapatan menengah. Untuk memenuhi prinsip keadilan, rentang pajak (tax bracket) juga perlu diperlebar dan dipertinggi pada kelompok kaya.
Pada kategori high net worth individual (HNWI), lapisan penghasilan di atas Rp 1 miliar perlu dikenakan tarif pajak 35% dan penghasilan di atas Rp 5 miliar dikenakan 40%.
(dru/dnl)
Kebiasaan berutang terakumulasi sejak dahulu hingga saat ini. Total utang Indonesia jika mencapai Rp 2.000 triliun artinya setiap penduduk Indonesia akan menanggung utang lebih dari Rp 8 juta.
Penambahan utang baru di tengah memanasnya pemberitaan kasus korupsi pajak yang dilakukan Gayus Tambunan dan Dhana Widyatmika dinilai sungguh menyakitkan.
Demikian hasil riset Kebocoran Pajak dan Perangkap Utang yang dilakukan Perkumpulan Prakasa seperti dikutip detikFinance, Kamis (15/3/2012).
Riset tersebut menjelaskan jika kedua kasus tersebut yakni utang dan korupsi sebenarnya 'puncak gunung es' dari persoalan raksasa dan sistemik yang tak kunjung terselesaikan. Akibatnya, meski proyeksi penerimaan pajak terlihat besar mencapai Rp 1.032 triliun, namun potensi pajak yang hilang sebenarnya luar biasa.
Potensi pajak yang hilang tahun ini diperkirakan mencapai Rp 512 triliun atau hampir mencapai 50% dari total penerimaan pajak. Kalkulasi itu berdasarkan kapasitas penerimaan pajak Indonesia semestinya sebagai negara pendapatan menengah. Perkiraan konservatif International Monetary Fund (IMF), potensi pajak yang hilang juga lebih dari 40%.
Akibat potensi pajak yang hilang itu, tak mengherankan bila rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negeri ini hanya berkisar 12%. Padahal rata-rata penerimaan pajak negara-negara yang termasuk kelompok menengah bawah (lower middle income) seperti Indonesia mencapai 19%. Lebih memalukan lagi, rasio pajak negeri ini bahkan di bawah rata-rata negara miskin (low income) yang sudah mencapai 14,3%.
Ketidakmampuan pemerintah mengoptimalkan penerimaan pajak, menyebabkan utang baru hampir selalu lebih besar dari cicilan menyebabkan utang menumpuk. Rasio utang terhadap PDB di bawah 30% bukan berarti aman, bila rasio pajak terus rendah. Akumulasi utang dan pendapatan rendah akan membawa Indonesia terjebak dalam perangkap utang (debt trap).
"Mengandalkan utang akibat keteledoran dan kurang kerja keras adalah tindakan yang tak bertanggung jawab," kata Direktur Eksekutif Perkumpulan Prakarsa Setyo Budiantoro.
"Beban berat bukan hanya ditanggung generasi saat ini, namun juga dipikul generasi penerus yang kini tidak bisa terlibat mengambil keputusan," imbuhnya.
Research Associate Perkumpulan Prakarsa J Prastowo menilai penerimaan pajak bukan hanya rendah, namun juga tidak adil karena makin memperparah kesenjangan.
"Kelompok kaya justru membayar pajak jauh lebih kecil dari kelompok menengah bawah. Hal ini bertentangan dengan prinsip keadilan karena kelompok lebih lemah mendapat beban lebih besar," kata Prastowo.
Perkumpulan Prakarsa yang merupakan lembaga kajian alias riset dan pengembangan yang fokus dibidang kesejahteraan masyarakat ini berharap untuk mencegah perangkap utang, rasio penerimaan pajak perlu dinaikkan satu persen per tahun dengan memperbaiki sistem dan kebocoran, hingga setara rata-rata negara pendapatan menengah. Untuk memenuhi prinsip keadilan, rentang pajak (tax bracket) juga perlu diperlebar dan dipertinggi pada kelompok kaya.
Pada kategori high net worth individual (HNWI), lapisan penghasilan di atas Rp 1 miliar perlu dikenakan tarif pajak 35% dan penghasilan di atas Rp 5 miliar dikenakan 40%.
(dru/dnl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Jumat, 24/05/2013 10:32 WIB
Melihat Senyuman Wanita-wanita Cantik di Indonesia Banking Expo 2013
-
Jumat, 24/05/2013 10:28 WIB
Rumah Aneh di Singapura, 11 Tahun Dijual Tak Laku-laku
-
Jumat, 24/05/2013 10:18 WIB
Agus Marto: Saya Bersumpah Tidak Akan Menerima Pemberian dari Siapapun
-
Jumat, 24/05/2013 10:15 WIB
Bikin BBM di Kilang Sendiri, Pertamina Malah Rugi Rp 400/Liter
-
Jumat, 24/05/2013 10:02 WIB
877 Juta Liter BBM Diselewengkan Dalam 4 Bulan
-
Jumat, 24/05/2013 09:06 WIB
Ayo Siapa Mau? Adopsi 20 Pulau-pulau Kecil di Indonesia Ini
-
Jumat, 24/05/2013 09:19 WIB
Wow! Ada 'TV' Besar Tayangkan Iklan Hemat Energi di Kantor Jero Wacik
-
Jumat, 24/05/2013 09:47 WIB
Ini Penjelasan Wamen ESDM Soal 'TV' Raksasa Tayangkan Iklan Hemat Energi
-
Jumat, 24/05/2013 08:48 WIB
Gaji Pokok Pejabat PPATK Rp 23 Juta, Tunjangan Rp 15 Juta
-
Jumat, 24/05/2013 07:53 WIB
Ini Panduan Bagi Anda yang Pertama Kali Mau Kredit Rumah
-
40 Komentar
-
35 Komentar
-
33 Komentar
-
25 Komentar
-
22 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Kamis, 23/05/2013 13:15 WIB
Ini Wanita Muda Cantik Paling Berpengaruh di Dunia Bisnis
Masih muda, cantik, dan punya pengaruh yang sangat besar di dunia. Mereka ini wanita yang masuk daftar 'Wanita Paling Berpengaruh di 2013' versi Forbes.
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 24/05/2013 07:14 WIB WIB
Lima Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Investasi Rumah
-
Kamis, 23/05/2013 18:13 WIB WIB
Louis Vuitton dan Hermes Tak Ikutan Midnight Sale 80% di Jakarta
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer


_2.gif)







