Setahun, Negara 'Beri' Subsidi Rp 4 Triliun untuk Penyelundup BBM
Minggu, 08/07/2012 13:37 WIB
Jakarta - DPR RI memperkirakan volume BBM bersubsidi terus membengkak, meskipun harga minyak mulai menunujukkan penurunan. Hal ini disebabkan masih maraknya penyelundupan yang dilakukan industri.
Anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha menyatakan komisi VII mengkhawatirkan volume BBM yang tetap melonjak meskipun harga Indonesia Crude Petroleum (ICP) mulai turun. Dia mencurigai adanya penyelundupan oleh pihak industri pertambangan.
"Kalau ICP sekarang sudah US$ 90 per barel, tapi masalahnya ada kelebihan volume. Ini karena terlambatnya pengaturan BBM bersubsidi dan penyelundupan yang masih marak. Hal ini yang sebetulnya harus kita awasi," tegasnya kepada detikFinance, Minggu (8/7/2012).
Kecurigaan ini, lanjut Satya, bermula dari adanya permintaan tambahan BBM bersubsidi di kawasan pertambangan, seperti di Kalimantan. Sebelumnya, pemerintah menyiapkan volume BBM bersubsidi sebanyak 40 juta kl pada tahun ini. Namun, karena adanya permintaan dari Kalimantan karena, akhirnya cadangan BBM bersubsidi sebesar 2,5 juta kl disetujui untuk diberikan ke daerah yang sempat mengalami kelangkaan BBM ini.
"Volume ini membengkak tidak hanya ada permintaan tapi karena ada penyelundupan. Di Kalimantan itu, tidak masuk akan kalau jam 12 SPBU sudah tutup. Jadi ada mobil plat kuning yang memberikan ke industri yang seharusnya menggunakan harga pasar," paparnya.
Untuk itu, lanjut Satya, pihak DPR RI meminta agar BPH Migas, aparat keamanan, dan pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan terhadap tindakan tersebut.
"Kepada BPH Migas sudah kami sampaikan, tapi mereka bilang aparatnya kurang, makanya perlu partisipasi aktif. Kami juga imbau kepada gubernur-gubernur yang minta jatah tambahan untuk mempersempit ruang gerak dalang penyelundupan ini," tegasnya.
Pasalnya, Satya memperkirakan sekitar Rp 4 triliun anggaran negara digunakan untuk memberi subsidi bagi penyelundup ini dalam setahun.
"Kalau sampai 1 juta kl diselundupkan dalam setahun, maka kita memberi subsidi untuk penyelundup ini mencapai Rp 4 triliun," tandasnya.
(nia/dru)
Anggota Komisi VII DPR RI Satya W Yudha menyatakan komisi VII mengkhawatirkan volume BBM yang tetap melonjak meskipun harga Indonesia Crude Petroleum (ICP) mulai turun. Dia mencurigai adanya penyelundupan oleh pihak industri pertambangan.
"Kalau ICP sekarang sudah US$ 90 per barel, tapi masalahnya ada kelebihan volume. Ini karena terlambatnya pengaturan BBM bersubsidi dan penyelundupan yang masih marak. Hal ini yang sebetulnya harus kita awasi," tegasnya kepada detikFinance, Minggu (8/7/2012).
Kecurigaan ini, lanjut Satya, bermula dari adanya permintaan tambahan BBM bersubsidi di kawasan pertambangan, seperti di Kalimantan. Sebelumnya, pemerintah menyiapkan volume BBM bersubsidi sebanyak 40 juta kl pada tahun ini. Namun, karena adanya permintaan dari Kalimantan karena, akhirnya cadangan BBM bersubsidi sebesar 2,5 juta kl disetujui untuk diberikan ke daerah yang sempat mengalami kelangkaan BBM ini.
"Volume ini membengkak tidak hanya ada permintaan tapi karena ada penyelundupan. Di Kalimantan itu, tidak masuk akan kalau jam 12 SPBU sudah tutup. Jadi ada mobil plat kuning yang memberikan ke industri yang seharusnya menggunakan harga pasar," paparnya.
Untuk itu, lanjut Satya, pihak DPR RI meminta agar BPH Migas, aparat keamanan, dan pemerintah daerah dapat melakukan pengawasan terhadap tindakan tersebut.
"Kepada BPH Migas sudah kami sampaikan, tapi mereka bilang aparatnya kurang, makanya perlu partisipasi aktif. Kami juga imbau kepada gubernur-gubernur yang minta jatah tambahan untuk mempersempit ruang gerak dalang penyelundupan ini," tegasnya.
Pasalnya, Satya memperkirakan sekitar Rp 4 triliun anggaran negara digunakan untuk memberi subsidi bagi penyelundup ini dalam setahun.
"Kalau sampai 1 juta kl diselundupkan dalam setahun, maka kita memberi subsidi untuk penyelundup ini mencapai Rp 4 triliun," tandasnya.
(nia/dru)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Twitter Recommendation
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru Index »
-
Sabtu, 18/05/2013 13:00 WIB
Korea Selatan Punya 'Gangnam', RI Tak Boleh Kalah
-
Sabtu, 18/05/2013 12:39 WIB
Gita Wirjawan: Saya Dulu Beli VCD dan HP Bajakan, Tapi Ini Harus Diubah
-
Sabtu, 18/05/2013 12:29 WIB
Ini 2 Negara Pemborong Emas Terbesar di Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 11:51 WIB
Cerita Gita Wirjawan Temui Hillary Clinton Karena Sawit RI Ditolak AS
-
Sabtu, 18/05/2013 11:27 WIB
Pagi-pagi, Gita Wirjawan Beri Kuliah Mahasiswa dan Alumni IPB di Hotel Hyatt
-
Sabtu, 18/05/2013 12:23 WIB
Ini 2 Negara Pemborong Emas Terbesar di Dunia
-
Sabtu, 18/05/2013 11:44 WIB
Cerita Gita Wirjawan Temui Hillary Clinton Karena Sawit RI Ditolak AS
-
Sabtu, 18/05/2013 11:08 WIB
Harga Turun, Emas di China Diborong Rp 93 T dalam 3 Bulan
-
Sabtu, 18/05/2013 11:22 WIB
Pagi-pagi, Gita Wirjawan Beri Kuliah Mahasiswa dan Alumni IPB di Hotel Hyatt
-
Sabtu, 18/05/2013 12:33 WIB
Gita Wirjawan: Saya Dulu Beli VCD dan HP Bajakan, Tapi Ini Harus Diubah
-
68 Komentar
-
65 Komentar
-
50 Komentar
-
48 Komentar
-
45 Komentar
-
Rabu, 17/04/2013 12:45 WIB
Wawancara Direktur Komersial AirAsia
Penerbangan adalah Bisnis yang Seksi
PT Indonesia AirAsia adalah maskapai murah paling dikenal di Indonesia. Direktur Komersial Indonesia AirAsia Bernard Francis menilai penerbangan adalah bisnis yang seksi.
-
Rabu, 15/05/2013 13:51 WIB
Prospek Saham di Tahun Politik 2014
Indonesia akan memasuki tahun politik di 2014 nanti menjelang Pemilu. Bagaimana prospek saham di tahun tersebut?
-
Sabtu, 18/05/2013 11:27 WIB
Pagi-pagi, Gita Wirjawan Beri Kuliah Mahasiswa dan Alumni IPB di Hotel Hyatt
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan di pagi in imemberi kuliah umum kepada mahasiswa dan alumni program pasca sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB).
Online Trading Academy
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nullam eu justo lacus. Phasellus pulvinar ullamcorper congue. Vivamus porttitor, justo sit amet luctus pretium, leo purus eleifend ligula, vitae elementum dolor turpis consectetur eros.
REGISTRASI OTA
MustRead
close
-
Jumat, 17/05/2013 15:32 WIB WIB
Ini Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya di Dunia
-
Jumat, 17/05/2013 15:26 WIB WIB
Sepatu, Mie Instan Hingga Mobil Made in Indonesia Laris di Afrika
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Health News · Sexual Health · Diet · Ibu & Anak · Konsultasi · Health Calculator · Foto Balita · Bank Nama Bayi
- detikTravel · Travel News · Destinations · Photos · d'Trips · Hotels · Flights · ACI · d'Travelers Stories
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Pedoman Media Siber · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








